in

Kisah Seorang “Jongos” yang kini jadi Jenderal

Kapolda NTB, Brigjen Pol Drs. Firli M.Si mengajak pelajar menaiki Alutsista Polda NTB
Kapolda NTB, Brigjen Pol Drs. Firli M.Si mengajak pelajar menaiki Alutsista Polda NTB

 

Sebelum terkagum kagum dengan sosok dan kesuksesan orang lain, baiknya melihat bagaimana latar belakang hidupnya. Ada banyak cerita getir, pengalaman pahit, terangkum menjadi perjalanan hidup yang tidak mudah untuk menggapai tujuan merengkuh sukses oleh jendral yang satu ini.

——————————

Firli kecil lahir di sebuah kebun karet, kawasan hutan Dusun Lontar Baturaja, Sumatera Selatan yang jauh dari peradaban kala itu. Dia lahir 8 November 1963 dari rahim dan sekaligus dibidani ibunya sendiri. Tali pusarnya pun dipotong sang ibu, karena jangankan bidan, perawat atau dokter, dukun beranak pun tidak ada.

Firli pun tumbuh menjadi anak yang punya tekad untuk sekolah, menempuh pendidikan meski jaraknya sangat jauh dari gubuknya di kawasan hutan itu. Saban hari dia harus keluar masuk hutan untuk mengeyam pendidikan dasar sampai menengah, menempuh jarak 14 kilometer pulang pergi, telanjang kaki.

Situasi itu dirasakan sejak SD sampai SMP, membekas hingga menyebabkan ukuran kakinya lebih lebar dari normal anak seusianya.

“Ukuran kaki saya lebar waktu itu, 42,” selorohnya. Ribuan orang di gedung Hakka, Narmada Lombok Barat, Senin (17/4) itu pun riuh dengan gelak tawa. Firli melanjutkan cerita dari atas podium.

Beranjak ke sekolah menengah, masih di wilayah Sumatera, Firli berjuang untuk dirinya sendiri karena tak berharap dari orang tua yang kondisinya memang miskin. Demi untuk membiayai sekolah, dia jualan cabai, kemudian jualan kue. Tak cukup hasilnya, dia menjadi kuli untuk usaha orang lain dengan menjadi tukang cuci mobil.

“Saya pernah jadi pembantu, ya itu jadi Jongos, cuci pakaian, masak, ngepel rumah orang,” kenang Firli yang membuat ribuan orang terdiam menyimak.

Sulit bagi hari-harinya untuk bisa belajar, karena sepulang sekolah hanya untuk bekerja dan mencari nafkah.

“Saya hanya bisa belajar saat di sekolah. Setelah itu, waktu saya habis untuk bekerja dan keluar masuk hutan,” kisah Firli.

Begitu sekelumit pengalaman hidup yang dikisahkan Brigjen Pol. Drs. Firli, M.Si yang kini menjabat sebagai Kapolda NTB.

Dia ingin berbagi pengalaman hidup yang baginya cukup berharga dan dipetik hikmahnya bahwa kesuksesan itu diraih dengan tidak mudah. Butuh peluh, keringat dan “berdarah darah”.

Tujuannya bercerita, untuk menyemangati 3000 lebih para peserta seleksi calon Bintara, Tamtama, Akpol yang hadir bersama orang tua mereka di aula itu.

Dia meyakinkan, untuk bisa sukses, jangan terlalu berharap apalagi bergantung pada siapapun, kecuali tekad, kesabaran, istiqomah dan tawakkal kepada Allah SWT.

Cerita Firli berlanjut pada pengalaman pahitnya saat mendaftar di AKABRI. Ketika itu, tahun 1982 – 1983 ia mendaftar seleksi AKABRI tingkat pertama di daerah dan tingkat pusat di Magelang.

“Saya ingat betul, sebelah tempat tidur saya ada Bapak Kapolri yang sekarang. Terus di sebelah saya, ada anak Kapolda bintang dua, balik juga (tidak lulus), sama dengan saya,” kenangnya lagi tentang pengalamannya mulai menjajal keinginan berprofesi di kepolisian.

Firli dewasa tidak putus asa. Tahun 1983 tak lulus AKABRI, dia menjadikan itu pintu masuk menjadi prajurit. Lulus menjadi anggota ABRI dengan pangkat Sersan dua tahun 1984 dan dinas di Polres Cibabat Polda Jawa Barat.

Tahun yang sama dia mencoba lagi tes AKABRI dan kembali gagal, kemudian dicoba lagi tahun 1985 dan 1986 untuk kelima kalinya.

Benar benar ‘gado gado’, ketika akhirnya dia menjadi Taruna AKABRI yang pernah menjajal sekolah Bintara, berpangkat sersan polisi, lalu masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) kala itu.

Akhirnya setelah tes Akademi untuk kelima kalinya, dia pun lulus tahun 1990. 15 tahun kemudian dia menjabat sebagai Kapolres.

“Alhamdulillah, walaupun masuk AKPOL belakangan, (jadi) Kapolres saya duluan. Senior saya belum (jadi) Kaporles, saya sudah jadi kapolres. Itulah ketika Tuhan bertakdir. Kita tidak pernah tau rahasia Allah,” tuturnya.

Tercatat tiga kali Firli menjadi Kapolres, di Polres Persiapan Lampung Timur, Kapolres Kebumen dan Kapolres Berebes.

Sekitar 20 tahun kemudian, pangkat Komisaris Besar (Kombes) didapuk di pundaknya. Karirnya di korps baju cokelat semakin cerah ketika dirinya turut dalam seleksi ajudan Presiden dan Wakil Presiden. Firli lulus menjadi ajudan ke 12 Wakil Presiden saat itu Dr. Boediono.

Karirnya pun mentereng setelah menjadi Wakapolda, di Polda Banten, kemudian pangkat jendral diraihnya saat menjadi Kepala Biro Pengendalian Operasi Mabes Polri. Selanjutnya sesudah satu tahun lima hari menjabat disana, Firli diberi amanah sebagai Wakapolda Jawa Tengah pada 27 Desember 2016 hingga 3 Februari 2017.Dan kini, salah satu kepercayaan prestisius yang dirasakannya menjadi pemimpin, sebagai Kapolda NTB.

Succes Story itu disampaikan Kapolda kepada para peserta agar benar benar totalitas, mempersiapkan diri dengan tekad kuat demi kelulusan. Karena tidak ada yang bisa menolong, kecuali diri sendiri dan doa, tawakkal kepada Allah SWT.

“Dari pengalaman hidup itu, tidak ditentukan siapa bapak ibunya, tidak ditentukan orang lain, tapi kerja keras, ikhlas dan sabar dengan apa yang dia terima. Menunggu apa yang Dia (Allah) berikan,” tutupnya.

Jurnalis : Azi