BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Gatot Brajamusti di Pusaran Kekuasaan PARFI, Berujung Jeruji Besi

Gatot Brajamusti saat berada di ruang tahanan sementara Pengadilan Negeri Mataram (Foto: Satria)

Putusan hakim delapan tahun penjara bagi Gatot Brajamusti bagai disambar geledek siang bolong. Dia membayangkan tidak setimpalnya hukuman itu dibanding perbuatannya yang hanya sebagai pemakai narkoba. Usai dijatuhi vonis di Pengadilan Negeri Mataram, Kamis (20/4) siang, dia mengutarakan keluh kesahnya. Berikut hasil wawancaranya dengan kicknews

————————

Gatot langsung menuding, ada permainan politik yang berkontribusi membelit kasusnya. Dugaan tersebut tertuju pada persaingan perebutan kursi Ketua Parfi 2016 lalu. Belum sehari dia terpilih menjabat Ketua Persatuan Artis dan Film Indonesia (PARFI) untuk kedua kalinya, di hari yang disebutnya “malam jahanam” itu Gatot ditangkap kasus narkoba di Hotel Golden Tulip Mataram.

“Negeri kita ini kok semakin sulit dipercaya keadilannya?,” keluhnya usai persidangan.

Gatot menyayangkan putusan delapan tahun untuknya. Menurutnya, putusan tersebut sangat tidak adil, karena dia bukan menjadi pengedar narkoba. Dia terbukti melanggar pasal 112 ayat (2) Undang Undang Nomor 35 tahun 2009 Tentang Narkotika. Gatot terbukti menyimpan, menguasai atau menyediakan narkotika golongan I bukan tanaman dengan berat melebihi lima gram.

“Saya di sini bukan seorang pengedar seperti teman-teman saya yang dituntut cuma enam tahun, dihukum empat tahun, dituntut empat tahun, dapat hukuman dua tahun. Fantastis sekali saya dituntut 13 tahun walaupun putusannya delapan tahun,” sesal Gatot.

Menurut Gatot, delapan tahun hukumannya bukan waktu yang singkat. Dia harus mendekam di usianya yang kian ‘bertongkat sendok’ tersebut.

“Delapan tahun bukan umur yang pendek. Delapan kalender saya harus buka. Kalau usia saya sekarang 54, (pada umur) 62 tahun saya bebas, apakah masih hidup saya tidak tahu,” keluhnya.

Bahkan Gatot juga telah diberikan informasi pada seseorang, akan dituntut tujuh tahun dalam kasus kepemilikan senjata api dan kasus lainnya di luar kasus narkoba. Padahal persidangan terhadap kasus tersebut sama sekali belum terjadwal.

“Saya dapat informasi katanya akan dituntut sekian, kok saya belum sidang sudah ada tuntutan segala. Saya bingung. Saya dengar dari orang. Katanya Aa (Gatot) sudah disiapin tuntutan lebih kurang tujuh tahun,” ungkapnya.

Serasa ingin menjerit menangis, Gatot melampiaskan kekecewaannya dengan tertawa. Dia menertawakan keadilan di negeri ini. Bahkan dia berharap menjadi rakyat jelata yang bebas dari perbuatan dzolim politik merebut bangku kekuasaan.

“Saya pingin ditukar jadi rakyat jelata, tapi jangan di zolimi. Sabar saya. Saya tidak mau melawan kekuasaan,” harapnya sembari tertawa.

Dia juga menyesali nasib yang dideritanya. Bahkan hingga saat ini rekening miliknya masih diblokir. Hingga kini dua anaknya terluntang-lantung meminta bantuan keluarga untuk kebutuhan hidup. Suatu realitas tamparan atas kerasnya politik di kalangan artis ibu kota.

“Rekening masih diblokir, anak saya makan toge aja saya tidak tahu. Saya bisa saja sabar, karena itu bagian dari iman. Tapi enggak dapat dibohongi, hati ini pedih sekali,” tuturnya sembari memegang dada.

Seakan menyesali perbuatan yang dilakukan, Gatot kini hanya dapat bernyanyi menghibur diri akibat lemparan dari atas panggung kekuasaan. Nasi sudah menjadi bubur. Kini dia hanya dapat mendengar lonceng waktu selama delapan tahun di balik jeruji penderitaan.

Jurnalis : Satria Zulfikar

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Penikmat Sabu di Bulan Puasa Digrebek Polisi di Lombok Tengah

  Lombok Tengah – Seorang pria berinisial LHA (45) asal Lombok Tengah bakalan tak bisa ...