Jadilah yang Pertama Tau

Sungai, Kampung Rawa dan Bukit Karang Bisa Datangkan Uang di Sulsel

puncak bukit karang di kampung ramang ramang sulsel

Maros – Sejak dua tahun terkahir, setiap akhir minggu Kampung Berau Dusun Ramang Ramang Kabupaten Maros Sulawesi Selatan, selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Bahkan belakangan tempat ini bisa dikatakan menjadi cukup viral di media sosial.

Namun siapa sangka awalnya ternyata tempat ini sebenarnya tak lebih dari sebuah areal rawa kecil yang berlokasi di tengah perbukitan batu kapur, yang dihuni beberapa kepala keluarga. Namun kemasan bentuk pariwisatanya, membuat banyak orang tertarik untuk datang dan para pemandu wisata pun tak ragu untuk mengajak tamu-tamunya untuk berkunjung.

“Kemasan pariwisatanya cukup menarik, sentuhan pemerintah setempat nampak terasa sekali hasilnya untuk menghidupkan kampung ini menjadi destinasi pariwisata. Sepertinya konsep ini bisa kita jadikan contoh,” Ungkap Wakil Ketua DPRD NTB Mori Hanafi menilai konsep pelibatan masyarakat dalam pengelolaan wisata di kampung tersebut, (16/4).

jalur sungai menuju kampung ramang ramang

Untuk menuju lokasi kampung wisata ini pengunjung harus melewati jalur sungai, menggunakan perahu nelayan milik penduduk yang berkapasitas 5-6 orang, dengan membayar senilai Rp. 250.000. Selama perjalanan pemandangan bukit karang dan pagar alami pohon nipa, menghiasi sepanjang alur sungai yang ditempuh selama sekitar setengah jam.

Karena wilayah ini cukup kaya dengan sinar matahari, penduduk setempat memanfaatkannya menjadi sumber rejeki dengan membuka penyewaan topi wisata berbahan anyaman dedaunan seharga Rp. 5.000 rupiah perbijinya.

salah satu spot sempadan sungai yang dirubah menjadi penginapan

Sebelum sampai di lokasi yang dituju, beberapa titik di sempadan sungai, tampak telah disulap oleh warga menjadi penginapan dan warung makan sederhana. Tempat pengunjung bisa beristirahat sejenak sembari menikmati pemandangan dilokasi itu.

“Tempat ini bisa menyedot 200 hingga 300 wisatawan disetiap akhir minggu,” ungkap Ketua Himpunan Pramuwisata (HPI) Sulsel Suhardi.

Setibanya di pelabuhan sederhana yang menjadi akses masuk ke kempung yang dituju, pengunjung akan diminta membayar tiket masuk dengan nilai yang tidak mengkhawatirkan, hanya Rp. 3.000 perorang. Wisatawan akan langsung disuguhi pemandangan indah bukit karang terbungkus hijau pepohonan yang tumbuh subur menyelimutinya.

Ditengah perbukitan itu, tampak beberapa rumah panggung milik warga lengkap dengan sejumlah tambak disekelilingnya. Airnya dangkal, jernih dan ramai ditumbuhi ganggang melengkapi ikan-ikan kecil yang terlihat didalamnya. Tidak tampak banyak sentuhan penataan pada kampung ini, hanya ada beberapa titian dan jembatan kayu sederhana, yang sepertinya memang dibuat untuk kebutuhan warga setempat.

titian kayu menuju kampung ramang ramang

Salah satu ujung dari perjalanan wisata dikampung ini adalah pendakian keatas bukit karang setinggi sekitar 300 meter, yang diatasnya terdapat beberapa lapak tempat istirahat bagi wisatawan. di tempat itu juga warga menjajakan dagangan seadanya.

“Tempat ini mulai terkenal dan banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara sejak dua tahun terkahir. Awalnya pemerintah membuat festival wisata dan dilanjutkan dengan seringnya tamu-tamu pemerintahan dibawa berkunjung kesini,” ungkap Suhardi.

“Akhirnya penduduk yang tadinya hanya mengandalkan hidupnya dari profesi sebagai nelayan, sekarang ekonominya tampak lebih baik akibat pariwisata ini,” tutupnya. (hl)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat