in

Jika Buni Yani Ditahan, Din Syamsudin siap Jadi Penjamin

Kiri : Din Syamsudin, Kanan : Buni Yani
Kiri : Din Syamsudin, Kanan : Buni Yani

 

Mataram – Pekan depan penyidik Polda Metro Jaya akan melimpahkan berkas Buni Yani ke Kejati Jawa Barat (Jabar). Pelimpahan tersebut merupakan tahap dua terhadap barang bukti dan tersangka.

Menanggapi hal tersebut, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, M. Din Syamsuddin angkat bicara. Ia mengatakan tuduhan terhadap Buni Yani terlalu berlebihan. Menurutnya, reaksi umat Islam terhadap dugaan ujaran kebencian Ahok di Pulau Seribu, bukan semata lantaran transkrip Buni Yani. Melainkan isi percakapan Ahok pada video yang telah beredar luas di internet.

Baca Juga :

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”5″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”6515″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]BACA JUGA :[/su_posts]

“Reaksi umat Islam karena video yang telah banyak beredar di media sosial. Begitu pula adanya caption tanpa kata ‘pakai’ bukanlah masalah. Karena ada atau tidak adanya kata itu, kaum beriman akan langsung merasakan adanya penistaan,” ujar Din Syamsuddin melalui pesan singkat yang diterima kicknews.

Din Syamsuddin merasa khawatir jika kasus tersebut akan diteruskan, maka akan menjadi preseden yang buruk terhadap dinamika masyarakat di media sosial.

“Jika kasus ini diteruskan ke jalur hukum, maka untuk keadilan harus juga mengusut kasus serupa di media sosial,” paparnya.

Jika Buni Yani akan ditahan dalam statusnya sebagai tersangka. Din menegaskan akan menjadi penjamin penangguhan penahanan terhadap Buni Yani.

“Kepada saudara Buni Yani, sebagai warga negara yang baik hadapi proses hukum. Walau dirasa tidak adil dengan sikap ksatria penuh tawakkal kepada Allah SWT. Jika saudara ditahan, maka demi ukhuwah Islamiyah, saya bersedia menjadi penjamin,” tegasnya.

Sementara Buni Yani yang dihubungi terpisah mengatakan akan siap menghadapi pelimpahan kasusnya pada Kejati Jabar.

“Siap dihadapi,” tegasnya.

Saat ini Buni Yani masih menunggu panggilan dari Jaksa. Buni Yani sebelumnya menjadi tersangka dalam kasus dugaan menyebarkan ujaran kebencian di dunia maya. Ia dijerat pasal 28 ayat (2) undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. (zr)