BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Sebuah Renungan: Keberkahan Bulan Rajab dan Sya’ban menuju Kemuliaan Ramadhan

KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, Renungan Bulan Rajab

 

Dalam setahun, hari-hari yang kita lalui seluruhnya laksana sebatang pohon. Ketika datang bulan Rajab, tibalah hari-hari untuk menyirami. Ketika datang bulan Sya’ban, tibalah hari-hari putik berganti buah. Dan ketika Ramadlan datang, tibalah hari-hari untuk memanen buahnya. Sebagaimana yang dirilis oleh KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur yang juga dikenal dengan julukan Penyair dari Serambi Madinah.

Setiap kali bulan Rajab tiba Baginda Nabi Muhammad SAW berdoa “Allahummaa baariklana fii Rajaba wa Sya’ban wa ballighna Ramadhan” yang artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami pada bulan Ramadlan” (HR. Ibnu Ahmad, Baihaqi, dan Ibnu Majah)

Doa Nabi SAW di atas menegaskan adanya harapan kuat agar diberkahi dan ditambahkan kebaikan di bulan Rajab dan Sya’ban, karena pada dasarnya kedua bulan tersebut adalah bulan penuh kebaikan, kemudian kita memohon untuk lebih ditambahkan lagi keberkahan serta kebaikan yang ada. Bahkan Nabi SAW mengajarkan kepada kita untuk memiliki tekad kuat, selalu berharap, agar tambahan kebaikan itu tidak hanya di hari-hari bulan Rajab dan Sya’ban, namun terus dirasakan hingga pada hari-hari di bulan yang lain, lebih-lebih pada bulan Ramadlan. Ini terlihat dari doa beliau, “dan sampaikan kami pada bulan Ramadlan!”.

Bukankah Rajab adalah syahrullâh, bulan yang dinisbatkan kepada Allah SWT. Karena Rajab adalah bagian dari asyhur al-hurum sebagaimana Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharam, bulan-bulan yang dimuliakan Allah.

Jika Rajab dinisbatkan kepada Allah SWT, maka Sya’ban disebut Nabi SAW sebagai bulan yang dinisbatkan kepadanya. Sedangkan Ramadlan, bulan yang mulia dan penuh berkah dinisbatkan kepada umatnya. Suatu kebanggaan tersendiri bagi kita sebagai umat Muhammad SAW.

Menurut Syaikh Abdul Qodir al-Jailâni, bulan Rajab adalah lambang dari suatu makna yang memiliki rahasiadengan tafsirannya tersendiri. Kata “Rajab” yang bila ditulis dalam bahasa Arab (رجب) ini terdiri dari tiga huruf, masing-masing memiliki makna yang dalam dan agung. adalah rahmatullâh (kasih sayang Allah). Jîm adalah jûdullâh (kemurahan Allah). Dan adalah birrullâh (kebaikan Allah atau keramahan-Nya). Maka dari awal hingga akhir bulan penuh berkah ini, Allah menganugerahi para hamba-Nya tiga karunia. Pertama rahmat tanpa azab. Kedua kemurahan tanpa kebakhilan. Ketiga kebaikan atau keramahan tanpa kekasaran.

Jika Rajab adalah kesempatan untuk meninggalkan kekasaran dan keburukan tabiat kita, maka Sya’ban adalah kesempatan untuk meningkatkan amal dan membuktikan kesetiaan diri sebagai hamba. Sebagaimana Ramadlan adalah kesempatan untuk bersungguh-hati dan menjernihkan diri dari keruh kehidupan yang ada.

Jika Rajab adalan bulan untuk bertaubat, maka Sya’ban adalah bulan untuk memperoleh kasih sayang, dan Ramadlan adalah bulan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Rajab adalah bulan penghormatan, Sya’ban adalah bulan pengabdian, dan Ramadlan adalah bulan kenikmatan.

Rajab adalah bulan untuk beribadah, Sya’ban adalah bulan untuk meninggalkan kesenangan dunia, dan Ramadlan adalah bulan untuk memperoleh kebaikan yang penuh berkah.

Pada bulan Rajab, dilipatgandakanlah setiap kebaikan; pada bulan Sya’ban, dileburlah seluruh keburukan; dan pada bulan Ramadlan, kita menanti turunnya segala kemuliaan.

Rajab adalah syahr al-sâbiqîn, bulan peluang bagi mereka yang berusaha lebih dahulu meraih kebaikan. Sya’ban adalah syahr al-muqtashidîn, bulan peluang bagi mereka yang pertengahan. Dan Ramadlan adalah syahr al-‘âshîn, bulan peluang bagi mereka yang berlumur dosa dan alpa, untuk segera memperbaiki diri, hingga lebih baik dari sebelumnya.

Maka, kini kita sedang berada di hari-hari Rajab yang cerah, secerah peluang untuk menanti nafahât, mengharap jawâiz, meminta ‘athâyâ, dan merindukan mawâhib. Menanti hembusan rahmat, mengharap hadiah, meminta anugerah, dan merindukan karunia dari Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, lagi Maha Pemberi segala harapan hamba-Nya. Dia yang Maha di atas segala Maha.

Kita sedang berada di musim istighfar, musim saatnya memperbanyak permintaan ampun. Kita berada di musim shalat, musim saatnya menambah kualitas, kuantitas ruku’ dan sujud, demi membuktikan diri sebagai seorang hamba sejati. Dan kita juga berada di musim shiyâm, musim saatnya memperbanyak puasa sunnah.

Inilah Rajab, musim saatnya menanam benih-benih kebaikan. Kemudian disiram, dipupuk, dan dirawat hingga Sya’ban menjelang. Karena ketika Ramadlan datang, tibalah saatnya untuk menuai setiap amal yang ditanam.(mta)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Menilik Tradisi Sambut Ramadhan dan Pertanyaan Apa Dalilnya?

  Di bumi Nusantara, kaum Muslimin memiliki beragam tradisi bergembira untuk menyambut datangnya bulan suci ...