in

Istri Korban Tembok Masjid Ambruk di Dasan Agung: Tak Ada Firasat Sebelumnya

Bangunan tembok Masjid At Taqrim Dasan Agung yang roboh menimpa pekerja (inset: Herniwati, istri korban)
Bangunan tembok Masjid At Taqrim Dasan Agung yang roboh menimpa pekerja (inset: Herniwati, istri korban)

 

kicknews.today Mataram – Sebuah tembok bangunan masjid di Lingkungan Dasan Agung Gapuk, Kelurahan Dasan Agung, Mataram ambruk menimpa dua orang pekerja. Kejadian terjadi sekitar pukul 05.00 Wita, Rabu (1/2) kemarin.

Korban diketahui bernama Sapriadi dan Mustafa, warga Lingkungan Dasan Agung Gapuk. Sapriadi tertimpa reruntuhan bangunan saat melakukan pengeboran besi beton penyanggah tembok masjid.

Tembok Masjid At Taqrim yang sedang direnovasikan tersebut seketika itu langsung ambruk akibat tidak kuatnya penyangga pada tembok. Sapriadi dan rekannya tertimpa reruntuhan tembok. Sapriadi tewas di tempat dengan kondisi tubuh mengenaskan tertimpa rerentuhan. Korban meninggalkan seorang istri dan empat orang anak-anaknya.

BACA JUGA:

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”5″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”2538″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Istri korban, Herniwati mengungkapkan tidak ada firasat sebelum korban meninggal dunia. Korban yang berprofesi sebagai penjaga sekolah SDN 18 Mataram hanya berpamitan ke masjid pada sang istri.

“Saat itu saya sedang tidur. Tidak ada firasat apa-apa, dia cuma bilang saya mau keluar, tolong kuncikan gerbang sekolah,” ujar Herniawati yang tinggal di sekitar sekolah tersebut.

Sapriadi meninggalkan empat orang anak. Anak pertamanya Irma Dewi merupakan mahasiswi yang mengenyam kuliah di FKIP Universitas Mataram. Anak kedua bersolah di STM, sementara anak ketiga siswa kelas empat SD. Dan anak terakhir saat ini belum sekolah.

“Biasanya pulang habis Ashar. Nah kemarin tumben enggak pulang. Tiba-tiba ada yang lewat bilang ada orang meninggal. Saya coba lihat, tahunya dia. Saya langsung jatuh pingsan,” ujarnya sambil menahan haru.

Sementara ibu korban, Nur Hasanah, mengatakan korban adalah penjaga sekolah yang sangat rajin ke masjid. Ia senantiasa melakukan gotong royong tanpa dikomandoi melalui speaker masjid.

“Saat itu ada temannya bilang, Adi (Sapriadi) enggak usah pakai bor, bahaya. Tapi dia bilang biar cepat selesai. Tiba-tiba saat dibor bangunan itu goyang, dia mau selamatkan diri tapi terpleset keramik yang licin,” jelasnya.

Saaat Sapriadi melakukan pengeboran, dua temannya berada di dekatnya. Saat tembok mulai runtuh, seorang temannya berhasil kabur. Nasib naas menimpa Sapriadi dan Mustafa, keduanya tidak dapat menghindar dari reruntuhan tersebut. Sapriadi tewas di tempat, sementara Mustafa meninggal saat menjalani perawatan di RSUD Kota Mataram, malam tadi.

“Sekitar jam sembilan malam kita makamkan. Karena kondisi pada tubuh sudah hancur. Kasihan kalau nunggu besok. Iklasin mas,” tutur sang ibu dengan air mata berlinang. (zr)