Susahnya “Move On” Dari TGB, Pola Kepemimpinan yang Sami’na wa Atha’na

Gubernur NTB Dr. TGKH. M. Zainul Majdi

 

kicknews.today Mataram – Tuan Guru Bajang (TGB) sapaan akrab TGH M Zainul Majdi yang kini menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), sudah sangat lekat dengan hati masyarakat NTB.

Gaya kepemimpinan yang karismatik baik dalam organisasi keagamaan Nahdatul Wathan (NW) dan tubuh Partai Demokrat di NTB, menjadikannya sulit ditiru oleh para tokoh atau bakal calon Gubernur yang ingin maju pada Pilgub 2018 mendatang.

BACA JUGA:

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”5″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”5057″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Penilaian ini dikemukakan oleh pengamat politik NTB yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Qamarul Huda Badaruddin (UNIQBA) Bagu Pringgarata Loteng, Dr. M. Ahyar Fadli, M.Si.

“Pasca TGB, susah menemukan baik dari kader NW atau kader Partai Demokrat sebagai penerus karismatiknya itu. Bisa dikatakan minus kader,” ungkap M. Ahyar Fadli, Kamis (9/2).

TGB memang memiliki potensi luar biasa dalam mengolah dan memanajeman kepemimpinan. Baik di kalangan organisasi keagamaan dan partai politik.

“Kalau potensi kepemimpinan tidak susah ditiru bakal calon nanti. Yang susah karismatik cara memimpin ormas agama dan partai. Dibuktikan dengan ketaatan jamaah serta para kader terhadap TGB sangat besar dan sangat disegani,” katanya.

Ahyar memaparkan bahwa dalam konteks ormas, memang susah memisahkan TGB dari massa atau jamaahnya. Namun dalam konteks partai politik masih mungkin terjadi. Karena karisma yang telah dibangun dan dipertahankan TGB merujuk pada konsep “Sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami taat)” berjalan dengan baik. Sementara partai berjalan secara demokrasi yang dipimpin secara rasional, sehingga sistem check and balance pun terjadi.

Melihat ke Pilgub mendatang, di akhir periode kepemimpinannya. Banyak tokoh potensial siap maju bersaing. Namun masih dalam proses survey, seperti Fahri Hamzah, H Moh Suhaili FT, Ali BD, Dr. Zulkiflimansyah, TGH Hasanain Juani dan TGH Mahali Fikri serta beberapa nama lain yang juga ikut muncul.

Mereka memiliki potensi dan karisma masing-masing, hanya tingkatan karismanya itu masih belum bisa dibandingkan dengan TGB. Meski berlatar belakang yang tak jauh berbeda dengan TGB. Sebagai contoh, H Moh Suhaili, yang juga berlatar belakang Ponpes Yatofa, seorang politisi hebat dan memiliki basis masa yang kuat.

Dalam tubuh NW, juga ada kader yang hampir mendekati pola kepemimpinan TGB, yaitu TGH Hasanain Juaini. Namun Hasanain bukan kader politik. Walau demikian bagi pengamat politik NTB ini, posisi Hasanain yang saat ini memegang jabatan sebagai Sekjen PBNW NTB. Juga tidak bisa lepas dari pola-pola berpolitik dalam koridor ormas keagamaan.

“Intinya, yang susah ditiru dari TGB yakni gaya memimpinnya itu. Mana Ormas keagamaan dan partai politik. Ketika di ormas keagamaan, sangat disegani jamaah, sama halnya di partai politik, kader partai patuh terhadap ketentuannya,” pungkas Dr Ahyar. (prm)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat