Pungli di Senaru, Pegawai Disbudpar KLU Ditetapkan Tersangka

Ketua Pelaksana Saber Pungli KLU, Kompol Teuku Ardiansyah

 

kicknews.today Lombok Utara – Kasus dugaan pungli di kawasan wisata Senaru sebelumnya enam orang diamankan polisi. Dari enam orang itu, salah satunya oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) Disbudpar KLU berinisial RM telah ditetapkan sebagai tersangka.

“Kemarin kita sudah lakukan koordinasi dengan Kejaksaan untuk penetapan status. RM sudah dijadikan tersangka dan pengembangan masih berjalan,” ujar Ketua Pelaksana Saber Pungli KLU, Kompol Teuku Ardiansyah, Selasa (7/2).

BACA JUGA:

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”5″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”7174″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Teuku yang juga menjabat sebagai Wakapolres Lombok Utara ini menuturkan, modus yang digunakan tersangka yakni dengan tidak melampirkan slip tiket kepada semua wisatawan, meskipun penarikan berdasarkan jumlah pengunjung dan nominal yang sama.

“Artinya, dari 10 wisatawan yang datang, yang diberi tiket hanya 3 sampai 4 orang. Sementara uang itu juga tidak disetor semua, sisanya ada yang masuk kantong,” jelasnya.

“RM ini sebagai otak dan pegawai honor disana tidak digaji, mereka dapat dari uang hasil pungli. Ini yang masuk dalam kategori (pungli),” imbuhnya.

Terhadap lima orang lain yang berstatus sebagai saksi, kini masih dalam proses penyidikan lebih lanjut. Bukan tidak mungkin akan ada tersangka lainnya. Mengingat pihaknya akan segera memangil Kepala Disbudpar KLU.

“Iya, bukan tidak mungkin ada lagi nanti prosesnya, Reskrim yang tentukan. Yang jelas kami akan panggil pihak-pihak terkait,” katanya.

Atas kejadian ini pihaknya sangat menyayangkan, karena berdasarkan pengakuan tersangka dugaan pungli di Senaru sudah terjadi sejak lama. Hanya saja, sebagai orang baru yang bertugas, ia justru tidak merubah sistem yang salah dan malah ikut-ikutan.

RM dikenakan undang-undang nomor 20 tahun 2001 perubahan atas undang-undang 30 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Ia melanggar pasal 12e dan diancam hukuman penjara maksimal 20 tahun dengan denda maksimal Rp 1 miliar.(iko)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat