Waspada! Tembakau Gorila Sudah Masuk Lombok, Dua Pengedar Ditangkap

Ilustrasi tembakau gorila

 

kicknews.today Mataram, – Warga NTB harus lebih waspada dengan peredaran narkoba jenis baru yang satu ini. Pasalnya, baru saja badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Nusa Tenggara Barat telah menangkap dua pengedar narkotika jenis ganja sintetis atau yang lebih dikenal dengan sebutan “tembakau gorilla”.

Kepala BNNP NTB Brigjen Pol Sukisto di Mataram, Rabu (1/2), mengatakan, dua pengedar yang ditangkap petugas di sebuah rumah makan khas Lombok itu, berinisial DH (22) dan SA (24).

BACA JUGA :

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”5″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”7116″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

“Saat penggeledahan, petugas menemukan barang yang diduga narkotika jenis ganja sintetis dari dalam bungkus rokok,” kata Sukisto.

Gerilya BNNP NTB dalam membasmi peredaran “tembakau gorilla” di wilayah setempat, terhitung sejak ganja sintetis ini masuk ke dalam golongan narkotika di awal Januari 2017.

Ganja sintetis yang tergolong baru di lingkup peredaran narkotika ini mempunyai banyak nama, seperti “sun go kong”, “natereja”, “tembakau super”, “tembakau sehat”. Namun untuk kedua pelaku menyebutnya dengan nama “tembakau ganesha”.

Dalam temuannya, petugas mengamankan “tembakau gorilla” dari dalam bungkus rokok milik pelaku sebanyak 31 poket kecil plastik bening. Setelah diperiksa, berat keseluruhan barang bukti narkotika mencapai 9,36 gram.

Berdasarkan pengakuannya, kedua pelaku yang bekerja sebagai pelayan di rumah makan khas Lombok itu menjual satu poket kecilnya dengan harga Rp20 ribu.

Terkait dengan asal-usul dari barang haram tersebut, kedua pelaku mengaku mendapatkannya dari seorang pria berinisial NA dengan harga per poket besar Rp200 ribu.

“Untuk identitas pemasoknya sudah kita kantongi dan hingga kini masih buron,” ujarnya.

Lebih lanjut, kini kedua pelaku telah diamankan petugas di kantor BNNP NTB terhitung sejak diamankan pada Rabu (25/1) malam. Akibat perbuatannya, kedua pelaku dijerat dengan Pasal 111 Undang-Undang Nomor 35/2009 tentang Narkotika.

“Ancaman hukumannya paling sedikit lima tahun penjara,” kata Sukisto. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat