Dituding Sesat oleh MUI, Kegiatan “Rumah Mengenal Al-Qur’an” Mulai Diusut Polisi

Dirbinmas Polda NTB, Kombespol Basir Warmansyah didamping Kabid Humas Polda NTB AKBP Tribudi Pangastuti saat diwawancara media

 

kicknews.today Mataram – Akhirnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB membuat kesimpulan bahwa kegiatan “Rumah Mengenal Al-Qur’an” adalah sesat.

Atas dasar itu, polisi bergerak melakukan penyelidikan awal. Pemilik lembaga yang berada di Jalan Bung Karo tersebut SA sudah diamankan dan dimintai keterangan.

BACA JUGA :

[su_posts template=”templates/list-loop.php” posts_per_page=”5″ taxonomy=”post_tag” tax_term=”1581″ tax_operator=”0″ offset=”1″ order=”desc”]

Menurut Dirbinmas Polda NTB Kombes Pol. Benny Basir Warmansyah untuk mengusut kasus dugaan aliran sesat yang diajarkan SA itu tidak perlu menunggu laporan resmi, tapi keresahan yang sudah dirasakan dan terlihat dari reaksi masyarakat cukup menjadi bahan penyelidikan awal.

“Mengenai laporan resmi belum ada, tapi kita sudah lihat apa yang menjadi keresahan masyarakat saat ini,” kata Dirbinmas.

Sebelumnya MUI sudah menyebut dugaan sesat dalam praktek yang dilakukan SA di kantornya Jalan Bung Karno Mataram, dimana berdasarkan hasil dialog dengan MUI terdapat kejanggalan ungkapan SA tentang hal-hal prinsip dalam Islam.

Adapun beberapa kejanggalan tersebut seperti membuat Al Qur’an versi Bahasa Indonesia, tidak mengakui tuntutnan shalat dan kewajiban ummat Islam lainnya yang diatur dalam Al-Qur’an, yang bersangkutan juga tidak mengakui adanya Hadist Nabi.

Polisi pun mengambil tindakan cepat dengan mengamankan SA agar tidak menjadi sasaran kemarahan masyarakat dan saat ini pihaknya sedang mendalami dugaan aktivitas sesat SA. Ditambahkan Benny, tidak menutup kemungkinan setelah SA diperiksa akan dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi saksi untuk mendalami unsur pidananya.

Sebagai langkah awal pihaknya sedang meminta keterangan SA, selain itu MUI juga akan dimintai keterangan sebagai ahli, sebab sudah ada kesimpulan awal bahwa kegiatan SA tergolong sesat.

“Tadi kan sudah dengar penjelasan dari MUI, nanti MUI kita jadikan saksi ahli,” jelasnya.

Berdasarkan informasi awal yang diterimanya, bahwa SA sebelumnya beraktivitas juga di wlayah Sumbawa, namun tidak terdengar adanya keresahan masyarakat. Namun setelah pindah ke Mataram, setelah kegiatan lembaganya berjalan tiga bulan justru meresahkan masyarakat.

Hal ini karena SA rupanya membagikan brosur dan pamflet berisi “Pengumuman dari Allah”.

Menurut Benny, pamflet dan brosur itu disebar ke seluruh instansi-intansi pemerintah dan swasta, tempat ibadah dan masyarakat.

Dia sempat menanyakan apa motivasi penyebaran brosur dan pamflet tersebut, SA hanya menjawab yang dilakukannya hanya mengumumkan perintah Allah. (bh)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat