BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Kisah Sri Rahayu, TKW Asal Sumbawa Yang Lolos Dari ISIS di Aleppo dan Raqqah

Sri Rahayu, TKW asal Sumbawa yang bekerja di Aleppo lalu ‘dijual’ ke Raqqa.

 

kicknews.today Mataram – Sri Rahayu (48) warga Desa Gontar, Kecamatan Alas Barat, Kabupaten Sumbawa, NTB merupakan salah satu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang pernah bekerja di timur tengah. Namun rantaunya untuk cari nafkah justru berujung kisah pilu lantaran terjebak di Kota Raqqa, Suriah yang saat ini diklaim sebagai ibu kota kelompok militan ISIS.

Sri menjadi TKI di Suriah sebelum ada konflik. Kurang lebih 5 tahun ia bekerja disana, kendati mulanya ia bekerja di Aleppo selama 2,5 tahun. Saat kontraknya habis, ia bukannya dipulangkan melainkan justru dijual oleh agen guna dipekerjakan lagi ke Kota Raqqa.

Mengurusi rumah majikan yang berusia 75 tahun adalah tugasnya. Sebelum ada ISIS kerjanya terasa mudah dilakukan bahkan Sri merasa seperti berada dirumah sendiri. Niatan untuk menambah kontrak kerja pun sempat terpikir, meski niatnya harus sirna setelah setahun kedatangan ISIS ke Kota tersebut, kisahnya.

‘’Setelah satu tahun ISIS masuk semua berubah. Kita belum tahu bahwa itu ISIS, atau apa belum tahu. Cuma kalau kita ke pasar lain rupa mereka,” tuturnya dalam video yang diunggah BBC Indonesia, Jumat (16/12).

Enam-tujuh bulan berselang mulai muncul kerusuhan. Indikasi itu terlihat ketika ada pesawat melakukan pengeboman hingga mengenai rumah majikan Sri waktu itu. Bom tersebut jatuh tepat didepan rumah majikannya, Sri yang tengah memasak di dapur seketika terhempas ke tembok. Ia duduk, terdiam, merasa kaget, tak bisa berbuat apa-apa kecuali melihat barang didapur yang berserakan.

‘’Pancinya terbang kemana-mana, pancinya.. dagingnya.. saya juga terhempas ke tembok. Terus disitu saya duduk. Api di rumah majikan itu sudah… mau teriak tidak bisa pokoknya mau bergerak sudah tidak bisa, kaget saya. Setelah jatuh bom di rumah majikan saya, majikan saya sudah mulai buat lubang di dalam tanah di dalam rumahnya sendiri. Di situ saya sembunyi kalau pesawatnya lagi ngebom, kita masuk ke dalam,” kisahnya.

Sri mengenang kejadian yang tak sepatutnya ia lihat. Saat itu hari Jumat, ia meminta uang kepada majikannya untuk membeli sayuran di pasar. Disana perhatian Sri mengarah pada kerumunan keramaian, sebab terdapat banyak orang foto-foto layaknya sedang melakukan syuting dan ia pun menuju ke sumber tersebut.

‘’Saya jalan saja kesana, saya tengok begini sudah dijejer kepala manusia ada tujuh atau delapan mungkin kepala dijejer. Masih darahnya ngecer sayuran itu saya buang, saya lari ke rumah majikan, pulang,” ungkapnya.

‘’Saya gemetar, pulang ke rumah. Saya lari ke rumah majikan. Gemetar saya ditengah jalan (hingga) saya tidak bisa jalan,” sambungnya.

Melihat banyak penggalan kepala yang dijejer membuatnya tak enak tidur, bahkan 15 hari berselang saat tidur ia selalu terbayang kepala tersebut. Sri yang sudah tidak tahan dengan kondisi disana akhirnya memutuskan mencari jalan pulang. Meminjam hp majikannya, ia mencari nomor pihak KBRI via internet dan langsung menelpon nomor tersebut. Tapi apa daya dengan kondisi di Raqqa yang mencekam kala itu, pihak KBRI tak mampu berbuat banyak.

‘’Langsung saya kontak orang KBRI, saya TKW,” saya bilang begitu. Saya berada (di Kota) ISIS, di Raqqa. Dari situ dia kaget sudah mau mengeluarkan saya dari situ tidak bisa, mau berbuat apa tidak bisa,” terangnya.

Karena situasi sulit, maka Sri terpaksa menunggu untuk keluar dari Raqqa selama satu tahun. Kendati demikian, apa yang diharapkan akhirnya terjadi juga. Pihak KBRI menelpon majikannya mengabarkan bahwa ia akan dijemput untuk pulang ke tanah air, lalu Sri langsung bergegas meskipun tidak membawa barang apapun.

‘’Orang KBRI menelpon majikan saya, hari ini ada yang jemput katanya. Disuruh siap-siap, tapi saya tidak bawa barang, tidak bawa apapun, asal saya selamat,” ucapnya.

Dalam perjalanan Sri sempat takut, ragu-ragu, sebab merasa asing satu mobil dengan orang yang menjemputnya. Ia menangis sepanjang jalan, berifikiran bagaimana jika orang ini justru ingin mencelakainya. Terlebih lagi, mereka tidak melewati perbatasan melainkan menempuh daerah pegunungan, jika terdengar suara tembakan maka mobil yang dikendarainya berbelok dan sembunyi sampai keadaan dirasa aman.

‘’Perjalanannya agak takut sebetulnya. Namanya kita tidak kenal siapa yang jemput, kita takut, ragu-ragu juga. Dijalan saya nangis terus, bagaimana kalau saya dibunuh orang ini ?. Terus dia ngomong, kamu jangan takut sama saya,” kenangnya.

Sri Rahayu menempuh perjalanan selama enam hari. Ia ditampung di Shelter KBRI di Aleppo dan Damaskus, sebelum kemudian kembali ke Indonesia, Juni 2016 lalu.

‘’Perasaan saya bebas gitu, Alhamdullilah saya masih hidup lega walaupun saya tidak bawa apa-apa pulang yang penting saya selamat dan bisa bertemu keluarga, sama Ibu, sama Suami, sama Anak. Alhamdullilah lega kalau rezeki dimana-mana pasti kita dapat,” demikian Sri Rahayu.(iko).

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Memaknai Ekonomi Pancasila Ala Presiden Jokowi

  kicknews.today Jakarta – Gagasan sistem ekonomi Pancasila, menurut Tarli Nugroho, peneliti Pusat Studi Pancasila ...