BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Kisah Kelahiran Rasulullah Hingga Saat Itu Disebut Tahun Gajah

Ilustrasi Pasukan Ber-Gajah

kicknews.today – Baginda Rasulullah Muhammad SAW, lahir di kota Mekah pada tanggal 12 Rabi’ul Awal pada tahun gajah, yaitu bertepatan dengan tahun 570 M. Muhammad melewati masa kecil sebagai yatim piatu. Muhammad dibesarkan di bawah asuhan kakeknya Abd Al-Muththalib kemudian pamannya Abu Thalib.

Dikutip dari buku Muhammad, kisah hidup berdasarkan sumber klasik karya Martin Lings, kisah tahun gajah dimulai dari Yaman. Pada saat itu, Yaman berada di bawah kekuasaan Abyssinia, dan Abrahah, seorang Abyssinia, menjadi gubernur di sana. Ia membangun sebuah katedral megah di Shan’a, dengan harapan dapat menyaingi Mekah sebagai tempat ibadah haji terbesar di seluruh Arab. Ia membangunnya dengan pualam yang diambil dari bekas istana Ratu Saba serta menghiasinya dengan emas dan perak. Mimbarnya dibuat dari gading dan kayu hitam. Ia menulis surat untuk rajanya, Negus: “Wahai Raja, aku telah membangun sebuah gereja untukmu. Kemegahannya tidak pernah tertandingi oleh raja manapun sebelummu. Dan aku tak akan pernah berhenti hingga dapat mengalihkan pusat haji orang-orang Arab ke sana.” Ia tidak merahasiakan sedikit pun niatnya, dan itu tentu mengundang kemarahan suku-suku yang tersebar di seluruh Hijaz dan Najd. Akhirnya, seseorang dari suku Kinanah, yang memiliki hubungan nasab dengan Quraisy, pergi ke Shan’a dengan maksud meruntuhkan gereja itu. Ia melakukan itu hanya satu malam, kemudian kembali ke rumahnya dengan selamat.

Ketika Abrahah mendengar itu, ia bersumpah akan membalas dendam dengan menghancurkan Ka’bah sampai dengan tanah. Ia pun menyiapkan pasukan besar-besaran untuk menyerang Mekah dengan menempatkan seekor gajah di barisan terdepan. Beberapa suku Arab di utara Shan’a berusaha untuk menghalangi perjalanan mereka, tetapi pasukan Abyssinia berhasil mengalahkan mereka dan menangkap pemimpin mereka, Nufayl dari suku Khats’am. Sebagai tebusan nyawanya, ia diminta menjadi penunjuk jalan.

Ketika pasukan itu sampai di Tha’if, orang-orang Tsaqif keluar menemui mereka. Orang-orang Tsaqif khawatir Abrahah keliru menghancurkan kuil mereka, al-Lat, karena dikira Ka’bah. Mereka segera menjelaskan kepadanya bahwa ia belum mencapai tujuan. Mereka juga memberi penunjuk jalan untuk mengantarkan pasukan tersebut. Meskipun telah memiliki NufaylAbrahah menerima tawaran itu. Tetapi, penunjuk jalan itu meninggal dalam perjalanan, kira-kira 2 mil dari Mekah, di sebuah tempat yang dikenal dengan Mughammis, dan ia dikuburkan di sana. Belakangan, orang-orang Arab selalu melempari kuburan itu dengan batu. Bahkan, orang-orang yang tinggal di sekitarnya tetap melakukan hingga sekarang.

Abrahah berhenti di Mughammis dan mengirimkan pasukan berkuda ke daerah pinggiran Mekah. Mereka merampas apa saja yang mereka temukan di perjalanan, dan mengirimkan hasil rampasannya kepada Abrahah, termasuk 200 unta milik ‘Abd Al-MuththalibQuraisy dan suku-suku lain di sekitarnya mengadakan pertemuan dewan perang. Mereka memutuskan bahwa percuma saja mereka melawan serangan musuh. Sementara itu, Abrahah mengirimkan seorang utusan ke Mekah untuk menemui pemimpin mereka di sana. Ia berpesan bahwa mereka datang bukan untuk berperang, melainkan hanya ingin menghancurkan Ka’bah. Dan jika ingin menghindari pertumpahan darah, maka pemimpin Mekah harus menemuinya di kemah pasukan Abyssinia.

Sebenarnya, tidak ada pemimpin resmi untuk semua suku Quraisy setelah seluruh hak-hak istimewa dan tanggung jawab kepemimpinan telah dibagi antara keluarga ‘Abd Al-Dar dan ‘Abd Manaf. Tetapi, sebagian besar masyarakat Mekah beranggapan bahwa pemimpin mereka adalah orang yang secara de facto memang mengemban fungsi kepemimpinan.

Kali ini, utusan itu diantar menghadap ‘Abd Al-Muththalib, yang kemudian bersama seorang putranya mengikuti utusan tersebut ke perkemahan. Ketika Abrahah menyaksikan kedatangan ‘Abd Al-Muththalib ke perkemahannya, ia begitu terkesan, sampai turun dari singgasana, menyambutnya dan duduk bersama diatas karpet. Ia menyuruh juru bicaranya menanyakan kepada ‘Abd Al-Muththalib permintaan apa yang hendak diajukan. ‘Abd Al-Muththalib meminnta agar 200 ekor untanya yang telah dirampas oleh pasukan Abrahah dikembalikan. Abrahah tampak sangat terkejut mendengar permintaan itu.

Ia sangat kecewa mendengarnya, karena menganggap ‘Abd Al-Muththalib jauh lebih mementingkan unta-untanya ketimbang agamanya yang sedang terancam untuk dihancurkan. ‘Abd Al-Muththalib menjawab, “Aku adalah pemilik unta-unta itu, sementara Ka’bah ada pemiliknya sendiri yang akan melindunginya.” “Tapi sekarang ini, dia tak akan mampu melawanku,” kata Abrahah“Kita lihat saja nanti,” jawab ‘Abd Al-Muththalib“Tapi kembalikan unta-untaku sekarang!” Dan Abrahah pun memerintahkan agar unta-unta itu dikembalikan.

‘Abd Al-Muththalib kembali ke Quraisy dan menyarankan agar mereka menyelamatkan diri ke atas bukit di dekat kota. Kemudian, ia, disertai beberapa anggota keluarganya dan pemuka masyarakat yang lain, pergi ke Ka’bah. Mereka berdiri di sisi Ka’bah, memohon pertolongan ALLAH melawan Abrahah dan pasukannya, “Ya ALLAH, hamba-hamba-Mu melindungi rumahnya, maka lindungilah Rumah-Mu ini!” Setelah memanjatkan doa, ia bersama dengan yang lain kembali ke atas bukit, di sebuah tempat yang memungkinkan mereka melihat apa yang terjadi di kota.

Keeseokan harinya, Abrahah bersiap-siap memasuki kota untuk menghancurkan Ka’bah dan, setelah itu, kembali lagi ke Shan’a melalui jalan yang mereka tempuh sewaktu datang. Si gajah, yang diperlengkapi senjata, berada di barisan terdepan. Pemandunya, Unays, segera mengarahkannya berjalan menuju Mekah. Tetapi Nufayl, sang tawanan penunjuk jalan, selalu berjalan bersama Unays dan telah mempelajari aba-aba agar gajah itu bangun, Nufayl mendekati telinga besar sang gajah dan memberikan komando untuk duduk berlutut.

Dengan sangat mengejutkan dan mencemaskan Abrahah dan pasukannya yang lain, gajah itu pun perlahan-lahan kembali berlutut ke tanah. Unays menyuruhnya untuk kembali berdiri, tetapi kata-kata Nufayl yang masuk berbarengan ke telinga gajah itu lebih dekat dan lebih berpengaruh, sehingga ia tak mau bergerak lagi.

Pasukan Abrahah melakukan segala cara untuk menggerakkan kaki gajah itu, sampai mereka memukul kepala dan mukanya dengan besi, tetapi ia tetap diam bergeming. Selanjutnya, mereka mencoba strategi lain dengan menyuruh seluruh pasukan berbalik arah dan berjalan berapa langkah menuju Yaman. Gajah itu pun mau berdiri, berbalik dan bergerak mengikuti mereka. Dengan penuh harap, pasukan berbalik arah lagi, dan gajah itu pun mengikuti mereka. Namun, ketika mengarah ke Mekah, gajah itu kembali berlutut.

Sebenarnya, itu sudah pertanda yang sangat jelas bahwa mereka tak akan berhasil maju selangkah pun. Namun, Abrahah telah dibutakan oleh ambisi pribadinya atas kejayaan tempat ibadah yang dibangunnya dan oleh nafsu untuk menghancurkan saingan bersarnya. Jika mereka kembali lagi ke tempat kediamannya, mereka pasti akan luput dari sebuah bencana besar. Tetapi, mereka telah terlambat: langit di ufuk barat menghitam pekat, dan suara-suara gemuruh terdengar; dengan suara yang makin menggelegar, muncul gelombang kegelapan yang menyapu dari arah laut dan menutupi langit di atas mereka.

Sejauh jangkauan pandangan mereka, langit dipenuhi beribu-ribu burung tak terhingga jumlahnya. Orang-orang yang berhasil selamat menceritakan bahwa burung-burung itu terbang secepat burung layang-layang dan masing-masing membawa 3 batu kecil yang membara, satu di paruhnya, dan yang lain dijepit dengan cakar di kedua belah kakinya. Burung-burung itu menukik ke arah barisan, sambil menjatuhkan batu-batu itu, yang kemudian meluncur keras dan cepat menembus setiap baju. Setiap batu yang mengena pasukan, langsung mematikan. Mereka langsung jatuh terkapar dan tubuhnya langsung membusuk. Ada yang membusuk dengan sangat cepat, ada pula yang perlahan-lahan.

Tak semua orang terluka, termasuk Unays dan gajahnya, tetapi semuanya terkena wabah. Sebagian pasukan yang selamat tetap tinggal di Hijaz dan bekerja sebagai pengembala atau pekerjaan lain. Tetapi, sebagian besar tentara-tentara itu kembali ke Shan’a dalam keadaan kacau balau; banyak yang mati di tengah perjalanan, dan banyak pula, termasuk Abrahah, yang mati begitu sampai di tempat. Sementara Nufayl, ia menyelinap pergi ketika para tentara sibuk dengan gajah yang ‘membangkang’, dan menyelamatkan diri ke lereng bukit dekat Mekah.

Sejak peristiwa itu, Quraisy dikenal di jazirah Arab sebagai “keluarga Tuhan”, dan mereka semakin dikagumi karena Tuhan mengabulkan doa-doa mereka untuk melindungi Ka’bah dari kehancuran. Mereka tetap dihormati, namun lebih dihormati lagi karena peristiwa pada tahun Gajah.

Ketika mukjizat burung itu terjadi, ‘Abd Allah, putra ‘Abd Al-Muththalib, tidak berada di Mekah. Ia sedang pergi berdagang ke Palestina dan Suriah bersama suatu kafilah. Dalam perjalanan pulang, ia menginap di rumah keluarga neneknya di Yatsrib dan jatuh sakit disana. Kafilah itu kembali ke Mekah tanpa ‘Abd Allah. Mendengar putranya sakit, ‘Abd Al-Muththalib segera mengutus Harits untuk menemani adiknya pulang setelah keadaannya memungkinkan untuk melakukan perjalanan. Namun, ketika Harits sampai di tempat ‘Abd Allah menginap, sepupu mereka yang tinggal di sana menyampaikan ungkapan belasungkawa, sehingga ia langsung mengerti bahwa adiknya telah meninggal dunia.

Ketika Harits kembali, kota Mekah diselimuti duka yang mendalam. Namun, pelipur lara Aminah adalah putra ‘Abd Allah yang masih dalam kandungannya, dan ia semakin terhibur dengan semakin dekatnya waktu kelahiran sang bayi. Ia menyadari ada suatu cahaya ajaib yang memancar di dalam tubuhnya. Pada suatu hari, cahaya itu bersinar terang benderang, hingga dengan cahaya itu ia dapat melihat kastil-kastil Bostra di Suriah. Ia mendengar suara, “Engkau mengandung seorang pemimpin seluruh umat manusia. Jika ia telah lahir, katakanlah, ‘Aku menyerahkan perlindungan anak ini kepada Tuhan Yang Satu dari segala kejahatan orang-orang yang jahat dan namailah ia Muhammad!'”

Beberapa minggu kemudian, bayi itu pun lahir. Saat itu Aminah tinggal di rumah pamannya. Maka, ia mengirimkan kabar kepada ‘Abd Al-Muththalib dan memintanya untuk datang menjenguk cucunya yang baru lahir itu. ‘Abd Al-Muththalib datang dan menggendong sang cucu tersayang. Ia membawanya ke Ka’bah dan masuk bersamanya ke dalam Rumah Suci itu. Ia memanjatkan doa syukur kepada ALLAH atas karunia-Nya. Setelah itu, ia membawanya kembali ke ibunya. Di perjalanan, ia mampir dulu ke rumahnya sendiri. Ia sendiri belum lama dikaruniai seorang anak laki-laki dari sepupu AminahHalah. Putra bungsunya itu telah berusia hampir 3 tahun yang ketika itu telah menanti di pintu rumahnya. “Hai, ini saudaramu, ciumlah dia!” katanya kepada putra bungsunya itu, sambil mendekatkan sang bayi yang baru lahir itu kepadanya, dan ‘Abbas pun menciumnya.

Manusia agung, Muhammad SAW, lahir dengan membawa cahaya dan kebaikan sehingga menjadi rahmat bagi seru sekalian alam.

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Perjuangan Berani Si Perempuan Lugu, Utami Suryadarma

freekick.kicknews.today – Tidak banyak yang mengenal sosok Utami Suryadarma yang bernama gadis Raden Roro Oetami ...