BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Tangkal Radikalisme Polda NTB Blusukan Ke Desa Sampai Sekolah

Duta Humas Polda NTB, Syfira Jauhari membagikan selebaran mengenai radikalisme di SMAN 1 Lingsar

kicknews.today Mataram – Paham radikalisme menjadi perhatian serius bagi kepolisan Daerah Nusa Tenggara Barat. Pasalnya paham tersebut dengan mudah dapat masuk dari mana saja, bahkan melalui handpone. Kalangan remaja tak luput juga dari bahaya tersebut. Filtrasi dan benteng kuat diri masyarakat dan keluarga harus diperkokoh. Hal itu dibedah Polda NTB dalam sosialisasi bahaya radikalisme di Kantor Desa Lingsar, Sabtu (29/10).

Masyarakat antusias mengikuti penyampaian Kasubbid Penmas, Kompol Dewa Putu Gria dan Dosen Ilmu Komunikasi Fisipol Unram, Diah Indiyati Ssos MSi dan Duta Humas Polda NTB, Syafira Jauhari. Turut hadir diantaranya para kepala desa, sekretaris desa, dan Bhabinkamtibmas dari 15 desa di Kecamatan Lingsar didampingi Kapolsek Lingsar, Ipda I Ketut Sunu.

“Waspadai orang baru yang cenderung tertutup dan kurang bermasyarakat,” kata Gria.

Ia menambahkan, aparat desa setempat bersama masyarakat kemudian diminta melakukan pendekatan terhadap setiap orang baru. Pola komunikasi masyarakat desa itu menyertakan Bhabinkamtibmas untuk menindaklanjuti informasi bilamana ada hal mencurigakan terdeteksi.

“Bhabinkamtibmas itu semacam mata tombak polisi di masyarakat. Begitu ada masalah langsung dikomunikasikan,” ujarnya kepada para hadirin.

Dia juga mengingatkan kepada para orang tua untuk memberikan perhatian yang lebih kepada anak-anaknya. Perkembangan teknologi sekarang membuka setiap akses informasi. Harus ada filtrasi dan seleksi informasi terkait paham radikal yang berpeluang diakses anak dengan gawainya.

“Sekarang zaman internet. Rata-rata punya HP smartphone. Paling tidak orang tua turut memberikan pemahaman mengenai apa saja informasi yang baik dan tidak baik untuk anak,” paparnya.

Sementara itu, Diah Indiyati mengungkapkan bahwa persentase yang cukup tinggi soal tingkat penggunaan telepon pintar di kalangan anak dan remaja. Terutama akses ke media sosial yang informasinya deras mengalir.

“Hasil penelitian, sekitar 10 dalam sehari rata-rata anak muda menggunakan smartphonenya untuk main media sosial,” katanya.

Berbagai tautan berita berseliweran di media sosial. Bahkan diantaranya dari sumber yang tidak terverifikasi. Tautan itu dapat berisi ajaran radikal yang mana belum tentu remaja memiliki daya tanggap yang sama untuk menolak informasi itu.

“Gampang saja sekarang, orang di dunia maya main share macam-macam berita. Itupun kalau dari sumber yang terpercaya. Bagaimana kalau artikel-artikel ajaran paham radikal?,”kata dia mengajak hadirin berdiskusi.

“Ibu atau ayah di rumah bisa screening pergaulan anak. Luangkan minimal 15 menit dalam sehari untuk mengobrol dari hati ke hati dengan anak,” terangnya.

Sosialisasi itu juga menyasar remaja sekolah. Siswa kelas XII IPS 3 SMA Negeri 1 Lingsar diberi pemahaman serupa. Para siswa menyambut antusias. Mereka pun serempak menyatakan penolakannya terhadap paham radikal masuk ke sekolah. Siswa diajak untuk menjadi sumber inspirasi bagi siswa lainnya. Guru Bimbingan Konseling, Hasbul Zahdi mendukung penuh kegiatan tersebut. Ia meminta agar kegiatan serupa kembali digelar di waktu-waktu mendatang.

“Ini sangat penting karena ini berkaitan dengan pola pergaulan remaja saat ini,” ujarnya. (ddt)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Dari Polsek sampai Polda Bersatu Buru Begal Bule Jerman di Kuta

  Lombok Tengah – Saat ini Tim Opsnal Polsek Kuta, Polres Lombok Tengah dibantu Polda ...