Warga Empat Desa di Narmada Tolak Proyek Pipa Raksasa BWS

perwakilan-warga-yang-menolak-pembangunan-pipa-raksasa-di-daerah-kecamatan-narmada
perwakilan-warga-yang-menolak-pembangunan-pipa-raksasa-di-daerah-kecamatan-narmada

kicknews.today Lombok Barat – Proyek pemasangan pipa raksasa di Sungai Remeneng milik Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I diprotes masyarakat, khususnya warga yang bermukim di daerah aliran sungai (DAS) lokasi pemasangan pipa tersebut. Warga menolak proyek tersebut, lantaran pemasangannya tak pernah disosialisasikan. Akibat pemasangan pipa tersebut dikhawatirkan memicu banjir.

Pipa sepanjang 7 kilometer itu melalui empat desa di Kecamatan Narmada, yakni Desa Lembuak, Dasan Tereng, Presak, dan Krame Jaye. “Kami tolak proyek ini karena proyek ini memicu banjir karena dipasang ditengah sungai. Apalagi kondisi sungai sempit,” kata Muhalisin, warga kepada wartawan Minggu (16/10).

Ia mengaku, sebelum pemasangan pipa raksasa ini tak pernah disosialisasikan ke masyarakat, khususnya yang terkena dampak. Ia sendiri memiliki lahan di sekitar DAS yang dipasangkan pipa raksasa, namun tak pernah diberi sosialisasi.

Pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Narmada, Mustarif menyatakan hal senada. Dampak ke petani akibat pemasangan pipa ini akan merugikan sebab debet air berkurang. Ia menyebut lahan yang terkena dampak sekitar ribuan hektar di empat desa. Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Lembuak, H. Sabirin bahwa proyek pemasangan pipa raksasa ini milik BWS Nusa Tenggara I dikerjakan dengan batas kontrak bulan November selesai. Panjang pipa yang dipasang sekitar 7 kilometer.

“Pipa ini melalui empat desa terdampak, tapi ditolak masyarakat karena pengerjaannya tak sesuai,”jelas Sabirin.

Menurut mantan Anggota DPRD Lobar ini, pihak BWS dan PU perlu melakukan kajian teknis terhadap proyek ini. Sebab dikhawatirkan, jika hal ini tidak direspon, warga justru akan melakukan tindakan anarkis.

Kades Badrain, Romi Purwandi, pemasangan pipa tersebut memang tak pernah disosialisasikan ke masyarakat. Padahal warga di desanya teemasuk hilir yang terkena dampak akibat pemasangan pipa. Ia khawatir debet air akan berkurang disebabkan air tersedot semua ke pipa. Ia mengaku, proyek ini sempat ada penolakan dari beberapa kades, namun ujung-ujungnya tetap dikerjakan.

Sementara itu, pihak BWS melalui PPK Proyek pemasangan pipa, Uzaini membantah pihaknya tak pernah sosialisasikan perihal proyek ini ke masyarakat, khususnya di desa daerah Narmada yang terkena dampak. Pihaknya sudah melakukan sosialisasi ke warga di desa Badrain dan Dasan Tereng, termasuk dihadiri camat di kantor Kecamatan Narmada. Kecuali Desa Batu Kute tidak diundang karena tak terkena dampak.

“Ada yang menyatakan tidak setuju,? Kita sudah rapatkan, sosialsasi di desa-desa dan lagi kita undang sama PDAM. Intinya ok kita lanjut,”kata Uzaini.

Terkait keluhan masyarakat tetap didengarkan keluhan masyarakat. Terkait dampak pemasangan pipa dan dampak debet air di daerah hilir jelasnya, sudah melalui kajian panjang. Kenapa diambil pemasangan dititik tersebut, sudah melalui kajian.

Termasuk salah satunya, debet air tersebut besar namun banyak terbuang ke laut dan kebutuhan irigasi pertanian pun sudah cukup. Kalaupun dalam pelaksanaan tidak ada tidak setuju, pihaknya terbuka untuk bertemu dengan warga membahas persoalan ini.

“Kita akan turun ke desa-desa yng komplain, ditelusuri masyarakat yang mana yang complain,” ia menambahkan. Proyek senilai Rp 14 miliar ini tengah dalam pengerjaan. (aan)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat