Setelah Punya Dua Label Halal, NTB Perjuangkan Predikat Halal Berikutnya

Kepala BPPD NTB, H. Affan
Kepala BPPD NTB, H. Affan

kicknews.today Mataram – Setelah berhasil meraih dan menyandang predikat Internasional, sebagai tujuan wisata halal dan bulan madu halal dunia. NTB kini mengejar predikat berikutnya yang juga masih berkaitan dengan dua predikat tersebut.

Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, H. Affan menyebutkan bahwa saat ini BPPD bersama Pemerintah Provinsi NTB tengah berjuang untuk meraih predikat “food halal travel distination”  yang akan proses nominasinya akan diselenggarakan dalam waktu dekat.

“Tanggal 16 Oktober ini merupakan keputusan nominasi untuk word halal travel Lombok-Sumbawa, sebagai syarat utama bisa ikut dalam ajang food halal travel yang akan diselenggarakan di Dubai tanggal 16 Desember mendatang.” Ungkapnya.

Untuk tujuan itu, BPPD bekerjasama dengan Generasi Pesona Indonesia (GNI), dan juga dengan meningkatkan koordinasi bersama semua pihak terkait. Terus melakukan sosialisasi tentang pesona Lombok-Sumbawa melalui media cetak, elektronik, media sosial dan membangun komunikasi dengan pengurus Asita, pengurus hotel dan lain sebagainya.

“Kami juga menggunakan beberapa sponsor demi tercapainya misi Lombok-Sumbawa menuju wisata halal dunia,” ungkap kepala BPPD NTB, H Affan.

Sehingga, BPPD dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Provinsi NTB, juga juga GNI membentuk tim pemenangan Lombok-Sumbawa menuju wisata halal dunia.

“Kalau kita menang, maka NTB semakin mendunia,” kata Affan.

Sementara, Sekretaris MUI NTB, H. Abdurrahman Kuling menyampaikan, pihaknya terus berupaya mendata rumah makan, untuk menyajikan makanan halal. Ini sebagai bentuk dukungan terhadap NTB agar meraih predikat wisata halal dunia.

Akan tetapi yang menjadi kendala selama ini, terdapat beberapa rumah makan dan restoran, yang tidak melampirkan alamat lengkap. Setidaknya tercatat sebanyak 1000 rumah makan dan restoran yang ada se NTB.

“Terhadap rumah makan dan restoran sudah didata, dipasangkan label halal dan sertifikat halal,” ujarnya.

Menurutnya makanan yang dibuat orang muslim belum tentu 100 persen bisa dikatakan halal. Sebelumnya harus dilakukan uji tes LP POM MUI dan BPOM. Karena dari hasil temuan selama ini, banyak rumah makan dan restoran yang menempel label halal yang bukan dikeluarkan oleh MUI.

“Label halal itu tidak sembarang, ada proses uji dilewati baru bisa dinyatakan halal,” pungkasnya. (prm)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat