BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Histeris Subagio dan Tes DNA, Sepenggal Kronologi Dibalik Kasus Bayi Diduga Tertukar di RSUD Bima

sumarni-menggendong-bayi-yang-mengalami-cacat-lahir-dan-tidak-diakui-sebagai-anaknya-karena-diduga-tertukar
sumarni-menggendong-bayi-yang-mengalami-cacat-lahir-dan-tidak-diakui-sebagai-anaknya-karena-diduga-tertukar

kicknews.today Bima – Kasus bayi yang diduga tertukar di RSUD Bima masih terus bergulir, diluar proses hukum yang sedang berjalan, juga jadi perbincangan banyak pihak, selain itu menyiratkan kekhawatiran. Betapa tidak, jika itu benar, betapa mudahnya darah daging diambil oleh yang bukan orang tuanya. Subagio (29) merasakan kegetiran itu. Sekarang dia sedang berjuang untuk menguatkan klaimnya bahwa bayi cacat itu bukan buah hatinya, tapi diduga ditukar. ————————–

Dari catatan kronologi diperoleh dari Polres Bima Kota dan diterima pihak Polda NTB, sejumlah proses dilalui Subagio . Proses normal sebagaimana suami siaga lainnya.

Tanggal 04 Mei 2016

Subaginono memeriksa istrinya Sumarni di klinik praktek dr.Agung dan dokter yang menanganinya dr.Tri Sulaksana Sp.OG. Sumarni melakukan USG kandungan dan pihak dokter menyatakan janin berjenis kelamin laki-laki, perkembangannya normal. Intinya kandungan baik-baik saja tanpa masalah, dan diprediksi bayi akan lahir tanggal 1 Agustus.

Baca Juga : Heboh “Bayi Yang Tertukar” di RSUD Bima, Orang Tua Lapor Polisi

Tanggal 28 Juli 2016

Ketika istri Subagio diperiksa kandungan ke RSUD Bima, jawaban yang sama seperti hasil USG sebelumnya, tidak ada masalah dengan kondisi fisik bayinya.

Tanggal 14 Agustus 2016 Bayi tak kunjung lahir, sebagaimana prediksi sebelumnya 1 Agustus. Pihak RSUD menyarankan untuk program operasi Cesar.

Tanggal 20 Agustus 2016 Subagio dan istrinya kembali melakukan tes USG di RSUD Bima, kemudian disarankan untuk program operasi Cesar tgl 22 Agustus 2016 tepat nya hari Senin, kemudian Subagio bersama istrinya mengikuti saran tersebut dan langsung di sarankan untuk operasi.

Minggu 21 Agustus 2016 Setelah sampai di RSUD Bima, Subagio dan istrinya disarankan untuk mempersiapkan diri melaksanakan operasi Caesar pada hari Senin pagi 22 Agustus 2016 namum karena alasan ada yang emergenci pagi itu maka di undur siang.

Senin 22 Agustus 2016

Sumarni menjalani operasi di ruang OK (Operasi Kandungan) dan proses lancar.

Pada pukul 13.20 dari ruangan nifas Sumarni diarahkan menuju ruangan Operasi kandungan (OK), namun tidak langsung operasi. Sumarni diminta menunggu giliran karena di dalam ruangan OK masih ada pasien yang sedang operasi kandungan.

Cukup lama menunggu, akhir pasien tadi selesai operasi dan kabarnya bayi perempuan kembar lahir. Sumarni pun dibawa masuk ke ruang OK. Saat itu Subagio sempat minta izin untuk turut masuk menemani istrinya, namun salah seorang perawat menjawab “silakan bapak menunggu di pintu keluar pak”, Subagio pun mengikuti saran tersebut.

Sekitar 30 menit kemudian, tiba-tiba ada pasien keluar dari ruang OK. Ada orang lain didekat Subagio yang bertanya kepada pihak keluarga pasien itu, karena melihat salah satu diantaranya dengan terburu-buru membawa bayi. Bayi tidak dibawa ke ruang NICU. “Mau dibawa kemana bayi nya bu..?” Ibu tadi spontan manjawab bayi akan dibawa pulang saja, ‘rawat dirumah lebih aman’. Sekitar 10 menit kemudian, Subagio dipanggil petugas medis setelah proses operasi Sesar selesai. Betapa terkejutnya Subagio ketika mendapati bayi yang diperlihatkan petugas medis sebagai anaknya itu lahir cacat. Dia pun histeris, berteriak sejadi jadinya, petugas pun membawanya keluar ruangan OK. Dia pun dikeluarkan dari ruangan itu dalam keadaan pingsan. Setelah Subagio sadar, langsung masuk kembali menjemput istrinya. Seperti biasa, usai proses persalinan cesar, diminta tanda tangani berkas berkas bukti operasi telah sukses. Sebenarnya saat itu Subagio ingin membaca cermat tulisan itu, namun petugas mengatakan “bukan berkas apa-apa hanya bukti operasi telah sukses”. Akhirnya Subagio tanpa teliti langsung menandatangani berkas tersebut serta untuk memberikan gelang tangan pada bayi.

Proses selanjutnya, Ahyar adik dari Subagio yang mengambilkan di loket informasi umum untuk selanjutnya di bawa ke ruang NICU bayi.

Senin 22 Agustus 2016 sore

Masih hari yang sama, sekitar sore, Subagio bertanya kepada seorang petugas yang meminta tanda tangan hasil operasi itu. “bu siapa saja nama-nama pasien yang melakukan operasi kandungan sore ini?” Petugas itu menjawab “Ini rahasia negara pak, kalau mau complain silakan tunggu saja dokter yang operasi dan tanyakan disana”. Kemudian Subagio menunggu sampai semua aktifitas operasi selesai, namun tidak sempat bertemu dokter dimaksud. Kemudian Subagio bertanya kepada sejumlah orang, terkait daftar pasien sore, termasuk di loket informasi umum. Petugas menjawab “Harus ada namanya dulu baru bisa di cek karena pasien banyak”. Tanggal 23 Agustus 2016 Subagio meminta bantuan ke Ibu Dewi selaku koordinator bidan di Puskesmas Parado, tempat Sumarni bekarja. Dewi datang siang hari dan mendapatkan informasi satu orang hanya satu nama yang operasi setelah istrinya. Subagio pun mencari di ruang NICU, namun tidak bertemu dengan pasien tadi karena sudah dibawa ke ruangan VIP A. Perjuangan Subagio tak menyerah untuk mendapatkan informasi selengkap lengkapnya soal mana sebenarnya bayinya. Dia pun sempat bertanya kepada istrinya, Sumarni, saat dibawa ke ruang OK tanpa dia damping. Dijelaskan Sumarni, saat itu dirinya disuntik sebanyak empat kali lantas tidak sadarkan diri. Sumarni baru sadarkan diri setelah keluar dari ruang OK. Kemudian Subagio kembali berkonsultasi ke klinik RSUD Bima tentang kualitas USG mendeteksi cacat bayi katanya, dijawab petugas menjawab normatif. “Tergantung kualitas dokter yang menanganinya”. Selanjutnya Subagio menemui dokter Tri Sulaksana Sp.OG mengkonfirmasi mengenai istrinya yang dibius umum dan proses operasi Cesar. Juga soal bayinya yang kemungkinan tertukar, dijawab dokter “tidak mungkin ketukar bayinya”.

E. Kecerurigaan sdr Subagio semangkin kuat setelah bayi itu sudah bisa dibawa pulang oleh pihak dokter anak di ruang Nicu. Selanjutnya setelah pulang dari RSUD Bima Subagio mengecek golongan darah bayi tersebut. Dia mendapati hasil bayi tersebut bergolongan darah O, sementara dirinya Subagio dan istrinya sama-sama bergolongan darah B. Menurut Subagio, menguatkan kecurigaannya bahwa bayi dalam perawatannya bukan darah dagingnya.

Tanggal 31 Agustus 2016

Atas dasar kecurigaan itu, Subagio memutuskan untuk melakukan test Kecocokan DNA ( Deoxyribose Nucleic Acid ) di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Bali. Tanggal 27 September 2016 Dengan hasil test tersebut, diumumkan dr Ida Bagus Putu Alit. SpF.DFM bersama Prof.Dr.DRS I Ketut Junitha. MS, ternyata hasilnya secara biologis anak itu tidak cocok dengan DNA Sumarni dan Subagio. Jumat 30 September 2016 Pukul 10.30 wita bertempat di kantor SPK Polres Bima Kota pasangan suami istri Subagio dan Sumarni, warga Desa Tolouwi Kecmatan Monta Bima ini, melaporkan kasus dugaan tertukarnya bayi itu ke Polres Bima Kota. Dia melaporkan manajemen RSUD Bima, tim OK (Opersai Kandungan), tim NICU, tim Nifas. “Subagio menuntut agar anak kandungnya atau anak biologisnya untuk dikembalikan, memproses secara hukum pihak-pihak terkait di atas sesuai aturan yang berlaku,” ungkap Kabid Humas Polda NTB,AKBP dra. Tri Budi Pangastuti, MM, setelah mengurai rangkaian kronologi peristiwa itu.(mh)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Heboh ‘Bayi yang Tertukar’ di RSUD Bima, Orang Tua Lapor Polisi

kicknews.today Bima – Subagio (28) justru berduka dihari bahagianya. Saat dia harusnya mendapati wajah imut bayi ...