Empat Daerah Ditetapkan Siaga Bencana Kekeringan, BPBD Rencanakan Penanganan Permanen

Ilustrasi Kekeringan
Ilustrasi Kekeringan

kicknews.today Mataram – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB tetapkan 4 daerah siaga bencana kekeringan dari 10 Kabupaten/Kota yang ada di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Penetapan itu berdasarkan hasil rakor BPBD, dari 10 kabupaten/kota daerah terdampak sangat parah berada di empat Kabupaten, yaitu kabupaten Bima, Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Utara.

“Daerah itu berani kita sebut berdasarkan laporan masing-masing Kabupaten/Kota di forum Rakor,” ungkap Kepala BPBD NTB, Muhammad Rum, Rabu (13/9).

Dikatakannya, malah ke empat daerah tersebut sudah mengeluarkan surat keputusan siaga darurat bencana kekeringan. Sementara sisanya belum mengeluarkan surat keputusan siaga darurat sebab masih bisa ditangani.

Ia mencontohkan, terdapat 12 kecamatan yang terdampak kekeringan di Kabupaten Lombok Timur. Dari total tersebut semua desa di 7 kecamatan mengalami kekeringan parah sementara 5 kecamatan lainnya masih tergolong ringan karena hanya beberapa desa yang terdampak.

“Dari 7 kecamatan ini hampir semua Desa mengalami kekeringan di satu Kecamatan. Itu kategori parah,” katanya.

Khusus di wilayah Lombok Timur, BPBD memberi penanganan lebih awal dan mengusulkan dana siap pakai ke BNPB pusat sebesar Rp 20 miliar untuk penanganan kekeringan dan penyediaan air bersih.

Disebutkannya juga bahwa total dana siap pakai BNPB sebesar Rp 4 Triliun. Namun hingga saat ini masih belum tersalurkan.

Total kebutuhan anggaran yang diperlukan untuk penanganan kekeringan di Provinsi NTB masih belum bisa diprediksi. Sebab hal itu bergantung kepada kondisi dan situasi kekeringan di 10 kabupaten/kota.

Dibeberkannya juga, hasil rapat koordinasi dengan BPBD di 10 Kabupaten/Kota dan instansi terkait. Disimpulkan beberapa solusi yang bisa dilakukan, diantaranya dengan pembangunan infrastruktur permanen. Sebab, selama ini penanganan kekeringan lebih bersifat insidentil.

“Pola penanganan kekeringan dilakukan kedepan dengan infrastruktur permanen, sumur bor, pipanisasi dari mata air, dan penyiapan water treatment. Kadang di daerah ada air tapi tidak layak dikonsumsi makanya diolah dan pakai mobil pengangkut air,” pungkasnya. (prm)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat