Kata Polisi, Konsumsi Miras Tuak di Ampenan Tinggi Lho…

ilustrasi miras tuak
ilustrasi miras tuak

kicknews.today Mataram, – Kepala Kepolisian Sektor Ampenan, Kota Mataram, Kompol R Djoko A, menyebutkan, konsumsi minuman keras khususnya tuak di wilayah hukumnya cukup tinggi.

“Kota Mataram, khususnya Ampenan, pengonsumsi minuman kerasnya luar biasa, berbeda dengan wilayah produksinya yang ada di Kabupaten Lombok Barat, disana hanya angka produksinya yang tinggi, tapi pengonsumsinya sedikit,” kata R Djoko, Selasa (13/9).

Tidak dipungkiri bahwa di Kota Mataram, sampai saat ini masih banyak beredar minuman keras tradisional khas Lombok, seperti tuak dan arak. Dua jenis minuman keras tradisional ini adalah hasil dari fermentasi dan distilasi tumbuhan jenis Palma bernama Enau atau Aren.

Menurut ahli, hampir seluruh komponen dari tanaman jenis ini dapat dimanfaatkan. Untuk tuak, dihasilkan dari cara menyadap tongkol bunganya. Air yang menitik dari irisan tongkolnya itu yang kemudian diambil untuk menjadi bahan baku pembuatan minuman tradisional jenis tuak dan arak.

Untuk di wilayah Lombok, Pohon Enau banyak tumbuh di wilayah Kabupaten Lombok Barat, sehingga tidak sedikit warga setempat yang mengambil manfaat dari jenis tumbuhan serba guna ini.

Salah satunya dengan memproduksi tuak yang mengandung alkohol, tentunya untuk menghasilkan minuman yang mengandung alkohol, warga setempat terlebih dahulu harus mengolahnya melalui tahapan fermentasi dan distilasi.

Selain dapat dimanfaatkan untuk bahan baku minuman beralkohol, air yang menitik dari irisan tongkol bunganya ini dapat diolah menjadi gula merah. Bagi warga Lombok, hasil produksinya itu disebut dengan gula Aren.

Namun sayangnya, pemerintah daerah belum begitu terlihat serius memanfaatkan dan mengembangkan salah satu sumber daya alam ini. Sehingga tidak menutup kemungkinan, bagi masyarakat untuk berpikir praktis dan ekonomis dalam pemanfaatannya dengan cara mengolah menjadi minuman beralkohol.

Sehubungan hal tersebut, R Djoko berharap agar pemerintah tidak hanya melirik dan memberikan solusi bagi pemanfaatan potensi sumber daya alam yang ada di Lombok. Melainkan, pemerintah diharapkan untuk segera menindaklanjutinya dengan cara membuat regulasi di lapangan agar tidak ada lagi masyarakat yang memproduksi hingga dengan gamblangnya mengedarkan minuman beralkohol tersebut.

“Kenapa begitu, karena kita tahu sendiri dampak dari mengonsumsi minuman beralkohol, orang itu bisa brutal, ini memicu terjadinya tindak kriminalitas dan jelas dapat mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas),” ucapnya. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat