Jadilah yang Pertama Tau

Keluarga Pasien RSUD Tripat Tidur Ngemper, Sekda : yang Benar?

Keluarga pasien di RSUD Tripat Gerung Lobar yang tidur ngemper di lorong
Keluarga pasien di RSUD Tripat Gerung Lobar yang tidur ngemper di lorong

kicknews.today Lombok Barat – Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Barat HM Taufik, menanggapi dengan serius adanya informasi terkait masih dikeluhkannya pelayanan masyarakat di Rumah Sakit Tripat Gerung.

Pemda, khususnya instansi terkait, seharusnya mengetahui permasalahan tersebut melalui laporan dari Dirut RSU Tripat Gerung. Artinya, tidak hanya tahu dari masyarakat atupun dari media.

Selain itu, Sekda mengaku akan turun langsung untuk mengecek soal keluhan masyarakat. Dimana para ibu – ibu yang menurut informasi tidur “ngemper” menunggu anak – anak mereka yang masih di ruangan Nicu. “Saya akan turunkan tim untuk meninjau langsung para ibu – ibu yang tiduran di lorong RSU Tripat gerung tersebut,” tandasnya Sabtu(27/8).

Terpisah, Direktur Utama RSUD Tripat Gerung Dr Hj Ambaryati membantah telah menelantarkan pasien. Ia mengatakan pasien melahirkan hanya diperbolehkan berada diruang bersalin maksimal empat hari. Sementara pasien tersebut telah dinyatakan sehat oleh dokter.

“Di rumah sakit manapun begitu,” ujarnya.

Ambar menerangkan, rumah sakit lain memang disediakan pemondokan. Namun pengelolaan berasal dari pihak lain. Ia mengatakan, untuk permasalahan ini merupakan urusan dokter yang menangani. Sebagai direktur, ia tidak bisa ikut campur dalam hal tersebut.

“Kalau dalam tiga hari disesar terus dipulangkan, itu artinya sudah sehat, ” pungkasnya.

Sementara Kabid pelayanan RSUD Tripat Gerung Dr Fatoni mengatakan, setelah empat hari melahirkan pasien dipulangkan. Jika bayinya masih memerlukan perawatan, si ibu diijinkan untuk menunggu proses perawatan. Namun pihak rumah sakit tidak bisa memberikan kamar untuk istirahat. Rumah sakit tidak memiliki fasilitas ruang tunggu.

“jika tetap diberikan, kan kasian pasien lainnya,” kata Fatoni

Pihak Rumah sakit mempersilahkan Pemda Lobar untuk membangun ruang tunggu dan Begitu juga dengan pengelolaannya. Pihak RS tidak memiliki tanggung jawab untuk menyediakan fasilitas tersebut. Anggaran DAK rumah sakit hanya bisa dugunakan untuk pembangunan fasilitas tertentu, seperti pembangunan gedung kelas tiga dan lainnya. Karena dana tersebut tidak cukup untuk membangun ruang tunggu bagi pasien.

“Operasional saja pas-pasan, namun Jika Pemda ingin membangun ruang tunggu, kami persilahkan dengan catatan Pengelolaannya bisa dilakukan sendiri oleh Pemda atau pihak ketiga.” tandasnya. (aan)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat