BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Aturan Nyongkolan Sampai Tak Dibenarkan Pakai Kecimol dan Ale-Ale

Pemerhati budaya sasak, H Lalu Anggawa Nuraksi
Pemerhati budaya sasak, H Lalu Anggawa Nuraksi

kicknews.today Lombok Barat – Seringkali terjadinya keributan ketika acara ritual nyongkolan di selenggarakan, khususnya di Lombok Barat beberapa bulan terakhir ini, sehingga menjadi perdebatan di beberapa kalangan. Ada yang mengklaim bahwa hal tersebut disebabkan sistem nyongkolan saat ini telah jauh keluar dari nilai – nilai budaya nyongkolan sasak yang sebenarnya.

Baca Juga :

Menyikapi hal tersebut, Pemerhati Budaya Sasak, H Lalu Anggawa Nuraksi angkat bicara, Menurutnya nyongkolan yang sebenarnya punya tiga aturan prinsip dasar yaitu wirage, wirame dan wirase.

Menurutnya nyongkolan tidak dibenarkan menggunakan hiburan seperti kecimol maupun ale-ale. Nyongkolan seharusnya menggunakan tetabuhan adat seperti gambelan dan Gendang Beleq. Kecimol maupun ale-ale karena bukan tetabuhan adat, jadi itu disamakan dengan pagelaran musik lain seperti orgen tunggal yang dapat dipergunakan pada saat ritual begawe dan bejango sebagai hiburan untuk para tamu pesta pernikahan.

Selain itu, Nyongkolan sendiri memiliki beberapa aturan, diantaranya, menghentikan tetabuhan seratus meter sebelum masjid, atau saat bertemu dengan iringan pengantar jenazah.

“Dilanjutkan seratus meter lagi setelah masjid atau iringan tersebut,” sambungnya.

Begitu juga dari segi pakaian, peserta nyongkolan seharusnya menggunakan pakaian adat islami sasak. Bukan dengan pakaian yang vulgar mengundang sahwat dan perhatian orang banyak.

“Hal ini dilakukan untuk menjaga kesucian tradisi sasak ini,” pungkasnya

Harapan kedepannya, Kepada para pemegang kebijakan agar lebih intens untuk melakukan koordinasi dengan aparat penegak hukum (APH) agar bisa mengambil langkah-langkah berupa larangan atau tidak memberikan izin nyongkolan di jalan utama (Jalan Protokol).

“Nyongkolan sebaiknya diadakan di jalur pedesaan dan kabupaten agar aktifitas para pekerja dan tamu yang mengejar waktu ke tempat kerja ataupun Bandara tidak terganggu,” tandasnya.

Hal itu disampaikan karena melihat fenomena bahwa banyak orang merasa terganggu dengan ritual adat nyongkolan yang sebenarnya sudah jauh melenceng dari adat istiadat yang sebenarnya.

“Kalau dijalankan dengan aturan adat yang semestinya, saya yakin nyongkolan malah akan dapat mengangkat nilai budaya sasak dan promosi wisata yang baik,” tandasnya.(aan)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Media Ternama Malaysia Nobatkan Pantai di Lombok Jadi 8 Tempat Terbaik Buat Yoga

  Mataram -Keindahan pantai-pantai di Lombok, Nusa Tenggara Barat semakin mendunia. Kini nama Lombok selalu ...