BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Survei Kecil-Kecilan Soal Kenaikan Harga Rokok dan Kebangkitan “Lompaq Mako”

Seorang penjual batu akik di simpang lima Ampenan menikmati kepulan asap rokok

kicknews.today – Kontoversi mengenai wacana pemerintah naikan tajam harga rokok kian meningkat dan menjadi viral di media-media sosial. Ada yang sangat setuju, namun ada juga yang tersipu sambil dalam hati bergumam tak sependapat.

DPR Setuju Harga Rokok Naik, namun di satu sisi ada juga berita, DPR Minta Hati-Hati kalau pemerintah naikan harga rokok dengan seabreg pertimbangannya, mulai dari cukai yang didapat APBN dari indutri tembakau sampai isu kesejahteraan dan PHK besar-besaran. Polisi tetap kalem melihat perkembangan pemberitaan itu sambil bersiap dengan segala kemungkinan bahkan yang terburuk sekalipun soal isu yang berkembang itu.

Departemen Kesehatan girang dan langsung menyambar wacana pemerintah itu dengan harapan tugasnya tak lagi berat untuk menyehatkan seluruh rakyat Indonesia. “Peringatan Pemerintah, Merokok Membunuhmu” dalam tagline setiap bungkus rokok dinilai tidak efektif oleh mereka untuk menurunkan jumlah perokok aktif di negeri ini yang realitanya tercatat semakin bertambah setiap tahun.

Memang terlihat seperti satu-satunya jalan untuk menghentikan arus angka perokok aktif adalah dengan membuat mahal harga rokok, karena mungkin dengan begitu maka para perokok akan berfikir mengenai kesejahteraan mereka. Kalau harga rokok sampai di posisi 50 ribu rupiah per bungkus maka siapa lagi yang mau membeli rokok? buat makan saja susah…

Tapi, dari sekian banyak perokok aktif di negeri ini justru masih terlihat kalem dengan wacana tersebut. Tenang-tenang saja mereka dengan segala argumen orang maupunpejabat yang berseliweran dan simpang siur. Tak ada umpatan maupun kata-kata ekstrim ke pemerintah terpantau di media sosial dari kalangan itu. Apa perokok lebih sabar dalam menanggapi isu yang masih wacana itu?

Dalam survei kecil-kecilan yang coba dilakukan, ternyata kalangan perokok memang tidak terlalu banyak terpengaruh oleh isu itu, karena mereka adalah kaum yang cerdas dengan segala alternatif yang sudah disiapkan jikalau wacana tersebut disahkan pemerintah.

Mendengar mereka berpendapat tentang rokok alternatif, jadi teringat akan sejarah kopi luak. Kala itu orang belanda melarang warga pribumi mengkonsumsi kopi karena itu merupakan barang dagangan VOC dan bernilai ekonomis sangat tinggi kalau dijual ke eropa.

Orang pribumi hanya diwajibkan bekerja di kebun kopi. tak boleh mereka ngopi, karena itu adalah komoditi mahal yang tak layak dinikmati oleh orang kelas rendah macam pribumi saat itu.

Disitulah muncul ide alternatif dari para menikmat kopi. Mereka mengumpulkan kotoran binatang yang bernama luak karena binatang itu meski makan buah kopi tapi tidak mencernanya habis.

Hasilnya kini, malah kopi luak dinobatkan menjadi kopi termahal di dunia dengan harga per cangkir kalau minum di restoran atau tempat bonafid lain harganya sungguh tidak rasional, padahal awalnya itu hanya kopi alternatif kalangan rendahan yang mencari cara agar tetap dapat menikmati kegemarannya.

Begitu pula rokok, sehingga dari survei tadi mereka tak terpengaruh dengan wacana kenaikan harga yang bakal meroket tajam. Banyak alternatif yang bisa digunakan tanpa menggantikan kenikmatan merokok dengan rokok palsu elektrik yang juga berharga mahal.

Ingat lho.. kalau Indonesia adalah penghasil tembakau terbaik di dunia. Rokok lintingan dengan merajang sendiri bumbu-bumbunya tentu sudah jadi gambaran alternatif terbesar bagi mereka.

Bayangkan saja, rokok hand made tanpa cukai yang menguntungkan pemerintah, berharga murah, dibeli langsung dari para petani, tidak melalui tengkulak yang memonopoli harga tembakau, dengan bungkus keren yang terbuat dari ulatan pandan, kalau di Lombok dinamakan “lompaq mako”. (azi)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Keluarga Miskin Prioritaskan Kebutuhan Rokok, Presiden Jokowi Prihatin…

  Jakarta – Presiden RI ke-7, Ir. H. Joko Widodo merasa prihatin terkait pola hidup ...