Polres Loteng Tetap Lanjutkan Penyelidikan Kasus BWS

Kapolres lombok Tengah, AKBP Nurodin SIK (kicknews)
Kapolres lombok Tengah, AKBP Nurodin SIK (kicknews)

kicknews.today Mataram – Meski sudah berumur dua tahun, penyelidikan kasus pengadaan alat berat pada Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I, tetap berlanjut. Polres Lombok Tengah memastikan masih akan melanjutkan penyelidikan proyek alat berupa penghancur enceng gondok tersebut.

Menurut Kapolres Lombok Tengah, AKBP Nurodin, SIK.,MH, penyelidikan akan lebih menukik dari pemeriksaan sebelumnya. “Kita akan lihat lagi seperti apa sih kasusnya. Kita akan coba cek fisik ulang,” kata Kapolres.

Sat Reskrim yang menangani kasus ini tetap berkomitmen untuk melakukan penuntasan penyelidikan. Namun tidak semua bisa disampaikanna, karena batasan informasi untuk dipublikasi. Pendalaman akan lebih detail pada fisik proyek, dengan melakukan pemeriksaan langsung. Meski hal ini sudah pernah dilakukan sebelumnya.

“Kita lihat lagi, alatnya seperti apa. Kalau bisa, nanti kami tes dulu di sana,” kata Kapolres, merujuk pada alat senilai Rp 1,5 Miliar pengadaan tahun 2013 ini. Kapolres mengaku melihat ada beragam persepsi masyarakat terkait penyelidikan kasus dimaksud. Bahkan ada yang berkeyakinan jelas tindak pidananya.

Agar persepsi itu tidak berbeda beda, Kapolres memastikan penyelidikan akan lebih menukik ke proses alat itu bekerja, kemudian mencermati spesifikasinya. “Supaya jangan ada salah persepsi masyarakat. Kita lihat lagi, mana alatnya yang jadi persoalaan. Kemudian kita lihat speknya seperti apa, sesuai dengan nilai proyeknya atau tidak,” bebernya.

Dari sini kemudian akan didalami, indikasi tindak pidananya mengarah ke fisik proyek, atau bagian lain dari pengadaan itu. Mantan Kasubdit III Tipikor Polda NTB ini berharap semua pihak memahami bahwa penyelidikan, apalagi menyangkut proyek fisik tidak mudah. Apalagi sampai saat ini tahapannya belum bergerak ke penyidikan. “Semua perlu pembuktian yang kuat,” tandasnya.

Penyelidikan proyek ini termasuk cukup alot, sejak dibuka Tahun 2014 lalu, Polres Loteng belum juga menunjukkan progress peningkatan status dari penyelidikan ke penyidikan. Salah satu kesulitan adalah ahli alat berat yang bisa dimintai keterangan dan cek fisik. Kendala lain, pabriknya tidak ditemukan di Surabaya dan alat ini diperkirakan satu satunya alias tidak diproduksi massal.

Dikethui, pengadaan alat berat ini terealisasi atas bantuan dari Ditjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum tahun anggaran 2013, dengan pemenang tender yakni PT Sumber Logam Nusantara (SLN). Pengadaan alat berat penghancur eceng gondok menelan anggaran Rp1,2 miliar lebih dari total anggaran Rp1,5 miliar. Selain ditujukan untuk mengurangi populasi eceng gondok, alat ini juga dapat mengatasi pendangkalan di dasar Bendungan Batu Jai, Kabupaten Lombok Tengah. (ddt)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat