Camkan!!! Jangan Harap Paham Radikal Bisa Berkembang di Lombok

Haji Lalu Anggawa Nuraksi, Pemerhati Budaya.
Haji Lalu Anggawa Nuraksi, Pemerhati Budaya.

kicknews.today Mataram – Sejak Santoso alias Abu Wardah tewas diterjang peluru aparat, isu-isu propaganda dari kelompok-kelompok radikal semakin santer berseliweran di media sosial. Ada yang mengatakan Santoso mati dalam keadaan syahid, begitupun yang mengatakan bahwa teroris sebenarnya adalah aparat bagi masyarakat Poso mencuat, sampai isu penyerangan balasan oleh kelompok tersebut di beberapa tempat. Lombok pun turut diisukan jadi target.

Apapun itu, yang pasti berita-berita tanpa sumber jelas yang tersebar di media sosial tersebut merupakan upaya propaganda massif dan terstruktur dari kelompok tertentu untuk mencapai tujuan, yaitu melemahkan aparat dan pemerintah.

Disampaikan oleh Kabag Penum Polri, Kombespol Martinus Sitompul baru-baru ini di Mataram, “Mereka menggunakan pola-pola propaganda untuk melegitimasi upaya yang dilakukan melalui media-media sosial selain untuk melihat tanggapan dari target audiens untuk mengukur keberhasilan propaganda itu,” ujarnya.

Dikesempatan yang berbeda, pemerhati budaya, H Lalu Anggawa Nuraksi mengatakan bahwa khususnya di Lombok, untuk orang-orang Sasak, paham radikalisme akan sangat sulit masuk meradang dalam sanubari. Karena pondasi dari masyarakat Lombok adalah Islam Sufi yang dikenal sangat toleran terhadap semua ajaran dan keyakinan.

“Jadi untuk para simpatisan atau penyebar paham radikal, jangan pernah harap paham yang dibawa itu dapat berkembang di Lombok karena disini sejak jaman nenek moyang kita dahulu, sikap orang Islam sudah menunjukan rahmatanlilalamin,” katanya saat ditemui kicknews.today di kediamannya.

Dirinya yakin kalau isu-isu propaganda yang dilancarkan kelompok-kelompok berpaham radikal itu bakal mental ke orang-orang sasak karena ke-Lomboq-an (kelurusan) dari ajaran agama Islam yang dianut manyarakat.

Sedikit mengulas sejarah, Lalu Anggawa mengatakan bahwa Islam di Lombok pertama kali masuk sejak abad ke 13 yang dibawa oleh Syeh Maulana Daos dari Bhagdad, kemudian abad ke 16 penguatan secara syariat dilengkapi lagi oleh Sunan Prapen. Namun sebelum itu, orang Sasak sudah memiliki tradisi yang meng-esakan Tuhan, hal ini terbukti dengan orang Sasak menyebut istilah Tuhan dengan istilah Neneq Kaji Saq Kuase.

“Sempat istilah Islam firqoh masuk pada abad ke 19 yang justru lebih mengutamakan budaya daripada ajaran Islam itu sendiri, seperti mengharuskan bangunan masjid tanpa teras, menganggap bidaah budaya selain Arab, tradisi maulid Nabi dilarang atau hal-hal lain. Malah yang lebih parah dianggap haram golongan yang lain.” jelasnya.

Dikatakan lagi, sebenarnya ajaran seperti itu, memperalat agama untuk meninggikan budaya tertentu dan menghancurkan budaya lainnya yang menjadikan seolah-olah mereka berada pada puncak peradaban kebudayaan.

“Ajaran seperti itu tidak akan lama bertengger di Lombok karena secara mendasar, baik dari kepercayaan tradisi maupun sejarah masuknya Islam dengan karakter sufi, menjadikan orang sasak sangat siap menepis setiap propaganda yang dilacarkan kelompok-kelompok berpaham radikal tersebut.” Tukasnya. (ddt)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat