Mataram Diserbu Ribuan Anak, Diantaranya Ini Yang Terjadi

Ilustrasi
Ilustrasi

kicknews.today Mataram – Seribuan anak perwakilan dari 34 Provinsi se-Indonesia tergabung dalam Forum Anak Nasional mengikuti kegiatan kirab budaya yang merupakan rangkaian peringatan puncak Hari Anak Nasional (HAM) 23 Juli 2016.

Kirab Budaya tersebut dilepas Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana dan disaksikan jajaran satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di depan Taman Sangkareang, di Mataram, Rabu (20/7).

Hadir dalam kesempatan itu Deputi Menteri Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lenny N. Rosalin dan Ketua LPA Kota Mataram Nyanyu Ernawati bersama jajarannya.

Pantuan Antara menyebutkan, dalam kegiatan kirab budaya itu, masing-masing perwakilan anak dari 34 provinsi menggunakan pakaian adat masing-masing.

Sementara sekitar 1.300 siswa SD, SMP, dan SMA se-Kota Mataram yang turut menyemarakkan kirab budaya tersebut membawa impian masing-masing dengan mengunakan karton, poster, “banner” dan sejenisnya yang ditulis atau dibuat oleh anak-anak.

“Impian-impian anak itu akan dikumpulkan untuk dibaca dan disampaikan ke Presiden Joko Widodo saat puncak HAN 23 Juli 2016,” kata Ketua LPA Kota Mataram Nyanyu Ernawati di sela kirab budaya.

Para peserta kirab “finish” di Hotel Lombok Raya yang menjadi pusat kegiatan untuk Forum Anak Nasional (FAN) yang membahas berbagai masukan dan suara anak dari 34 provinsi.

“FAN akan menghasilkan rekomendasi anak yang dibahas dalam Kongres Anak Nasional dan diserahkan juga ke Presiden serta masing-masing kepala daerah,” katanya.

Sementara Deputi Menteri Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lenny N. Rosalin usai kegiatan kirab berharap melalui kegiatan FAN, anak bisa berpartisipasi aktif dalam setiap pembangunan, dengan melibatkan anak pada setiap perencanaan progam pemerintah.

“Melibatkan anak-anak pada perencanaan pembangunan pemerintah, maka program pemerintah bisa proanak,” katanya.

Dikatakan, anak-anak disebut sebagai 2P (Pelopor dan Pelapor). Artinya pelopor sebagai agen perubahan, sedangkan pelapor adalah bagaimana anak-anak aktif melaporkan setiap hak anak yang tidak terpenuhi.

“Misalnya ada anak yang belum punya akta kelahiran, anak yang menikah sebelum usia 18 tahun, terjadi kekerasn terhadap anak dan lainnya, anak harus segera melaporkan ke aparat terdekat,” katanya menambahkan. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat