Tewasnya Santoso Hadiah Bagi Tito dan Kenangan Untuk Badrodin

terduga pimpinan kelompok teroris santoso
terduga pimpinan kelompok teroris santoso

kicknews.today Jakarta -Target utama operasi tinombala yang digelar aparat gabungan Polri dan TNI adalah menangkap Santoso hidup atau mati.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyatakan dua buron kasus terorisme di Poso, Sulawesi Tengah yakni Santoso dan Basri kemungkinan besar adalah dua orang yang tewas tertembak, Senin (18/7) sore.

“Dari hasil gambaran wajahnya dan ciri-ciri yang lain baik oleh anggota yang kenal dengan dia, beberapa orang saksi yang mengenal dia, maka dia adalah Santoso,” kata Tito di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (19/7).

Sementara sebelumnya mantan Kapolri Badrodin Haiti beberapa waktu sebelum tugasnya digantikan Tito, menjadikan tugas memberantas kelompok Santoso ini menjadi penekanan yang dititipkan kepada Kapolri yang baru. Seperti yang disampaikan oleh Kadiv Humas

“Pak Badrodin menyampaikan perlu evaluasi terus menerus terkait pelaksanaan Operasi Tinombala. Pengejaran kelompok Santoso cs,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Irjen Pol. Boy Rafli Amar di Markas Besar Polri, Jakarta, Rabu (13/7).

Menko Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan mengonfirmasi bahwa dua jenazah yang tertembak dalam penyergapan di Desa Tambarana, Poso, Senin (18/7) sore, yakni Santoso dan Mukhtar.

Sebelumnya, pihak kepolisian menduga jenazah yang tertembak adalah Basri, bukan Mukhtar.

“Sudah terkonfirmasi (jenazah) Santoso dan satu lagi Mukhtar, tadinya kita pikir Basri,” ujar Menkopolhukam di Jakarta, Selasa (19/7).

Menurut dia, Mukhtar merupakan salah satu orang dekat yang menjadi tangan kanan Santoso.

Meskipun diprediksi kekuatan kelompok sipil bersenjata tersebut melemah pascakematian Santoso, Luhut menegaskan bahwa Satuan Tugas (Satgas) Operasi Tinombala akan terus melakukan pengejaran terhadap 19 anggota kelompok mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso yang masih tersisa.

“Operasi pengejaran terus dilakukan karena sekarang tim (operasi Tinombala) malah diperbanyak (jumlahnya) untuk melakukan pengejaran,” ujarnya.

Jenazah Santoso dan Mukhtar dilaporkan telah tiba di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sulawesi Tengah, Selasa siang, untuk diidentifikasi melalui proses pencocokan DNA dengan pihak keluarga.

Sementara itu, Kepala Satgas Operasi Tinombala, Kombes Pol Leo Bona Lubis, menuturkan bahwa Basri dan istrinya, serta istri Santoso diduga melarikan diri saat terjadi kontak senjata di Desa Tambarana.

Istri Santoso yang bernama Jumiatun Muslim alias Atun alias Bunga alias Umi Delima, merupakan salah satu dari tiga perempuan yang termasuk dalam 19 DPO kelompok sipil bersenjata tersebut. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat