Sterilisasi Miras Lokal Di Mataram, Pol PP Segera Terjun

Pol PP (net)
Pol PP (net)

kicknews.today Mataram – Satuan Polisi Pamong Praja Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, siap mensterilkan kota ini dari pedagang minuman keras tradisional atau tuak saat pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-26 tingkat Nasional mulai 27 Juli – 7 Agustus 2016.

“Kami siap sterilkan pedagang tuak, sesuai edaran dan instruksi kepala daerah,” kata Kepala Seksi Operasi dan Pengendalian Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Mataram Bambang EYD di Mataram, Rabu (13/7).

Pernyataan itu dikemukakannya menanggapi edaran Wali Kota Mataram yang mengeluarkan edaran melarang pedagang minuman tuak berjualan selama MTQ bertujuan mendukung Kota Mataram sebagai tuan rumah pelaksanaan MTQ ke-26, dengan memberikan citra baik kepada para tamu.

Ia mengatakan, sebelum kepala daerah mengeluarkan edaran itu, Satpol PP sudah melakukan upaya persuasif kepada para pedagang tuak agar tidak berjualan secara terang-terangan.

Hal itu, katanya, bertentangan dengan Perda Kota Mataram Nomor 2 tahun 2015 tentang Pengendalian Minuman Beralkohol, termasuk minuman keras tradisional.

“Jadi keberadaan pedagang minuman keras tradisional ini memang sudah dilarang secara aturan, tetapi kita masih persuasif,” katanya.

Dia mengatakan, dari upaya persuasif yang telah dilakukannya selama ini, berhasil menekan jumlah pedagang tuak yang turun hingga sekitar 90 persen.

Hal itu dapat dilihat pada sejumlah titik yang menjadi kawasan penjualan minuman keras tradisional salah satunya di Kelurahan Pagesangan.

“Awalnya jumlah pedagang tuak di kota ini mencapai ratusan, tetapi kini sudah turun hingga 90 persen,” katanya.

Untuk menuntaskan 10 persennya lagi, pihaknya akan meningkatkan koordinasi dan upaya persuasif melalui aparat kelurahan, termasuk TNI/Polri agar saat pelaksanaan MTQ, Mataram steril dari pedagang tuak.

“Kami menargetkan paling lambat tanggal 20 Juli ini, Mataram sudah steril dari pedagang tuak,” katanya.

Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Indra Bangsawan sebelumnya mengatakan, untuk menertibkan pedagang tuak di Kota Mataram, pemerintah kota telah mengusulkan anggaran sebesar Rp400 juta dalam APBD Perubahan 2016 untuk memberikan kompensasi kepada para pedagang minuman keras tradisional.

“Pemberian kompensasi berupa uang tunai kepada para pedagang minuman keras tradisional dimaksudkan agar mereka memiliki modal untuk beralih profesi dan meninggalkan profesi lamanya,” sebutnya.

Upaya itu dilakukan untuk menghindari terjadinya resistensi dari pedagang dan pemilik kafe yang terindikasi menjual minuman keras tradisional karena pemerintah kota akan segera melakukan penertiban terhadap keberadaan mereka Berdasarkan data yang ada, tambah asisten, jumlah pedagang minuman keras tradisional di Kota Mataram tercatat oleh tim investigasi sebanyak 286 pedagang kecil, sedang dan besar. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat