BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Lebaran Topat Hanya Untuk Orang Yang Berpuasa Syawal. Bagaimana Dengan Anda?

ilustrasi lebaran topat masyarakat Lombok
ilustrasi lebaran topat masyarakat Lombok

kicknews.today Mataram – “Lebaran topat” adalah sebuah tradisi yang dilaksanakan masyarakat Sasak di Lombok seminggu setelah hari  raya Idul Fitri. Ini sebenarnya merupakan perayaan setelah umat muslim selesai menunaikan puasa sunnah bulan Syawal, yaitu puasa selama 6 hari berturut-turut setelah hari Idul Fitri.

Namun pada perkembangannya, lebaran topat mendapatkan pergeseran nilai dari makna aslinya karena malah justru kebanyakan orang yang tidak berpuasa Syawal yang lebih heboh untuk merayakannya saat ini.

Hal itu disampaikan oleh seorang pemerhati sejarah dan tokoh agama di Pejeruk Ampenan yang kini menjabat sebagai penghulu di wilayah Lingsar, Hariyadi Norman S.Ag kepada kicknews saat dihubungi petang tadi, Selasa (12/7) melalui telpon.

“Di awal perkembangannya, lebaran topat merupakan ungkapan rasa syukur karena telah menuntaskan puasa sunnah di bulan syawal, namun sekarang lebih kepada unsur entertain-nya ” ujarnya.

Dia menjelaskan juga bahwa dahulu masyarakat Sasak di Lombok, tidak membuat ketupat pada perayaan Idul Fitri karena masih akan disambung dengan puasa pada bulan syawal yaitu mulai dari tanggal dua di bulan itu.

“Setelah selesai puasa Syawal, maka orang-orang merayakan lebaran topat dengan mengunjungi makam-makam para ulama dan auliya. Jelas mereka membawa bekal makanan dan ketupat adalah tradisinya selain merupakan makanan yang memiliki makna filosopi agama yang mendalam” jabarnya.

Dilanjutkan, setelah mengunjungi makam-makam tersebut yang mereka tidak sempat kunjungi pada Idul Fitri yang lalu, mereka kemudian membuka bekal di tempat yang teduh dan itu biasanya di pantai-pantai seperti pantai Batu Layar, Senggigi atau lainnya.

Mengenai sejak kapan tradisi ini berlangsung, dia mengatakan bahwa memang di Lombok memiliki kelemahan pada bukti manuskrip sejarah, namun dia sampaikan, menurut cerita dari orang tuanya, pada tahun-tahun 1960 sampai dengan 1970-an tradisi ini sudah ramai dilaksanakan dan ini berlangsung biasanya di Mataram dan Lombok Barat.

“Sebenarnya masyarakat di seluruh Lombok menyepakati hal yang sama, namun dalam hal mengunjungi makam para alim ulama dan auliya biasanya ke barat (Mataram-Lobar) karena mungkin akses makam dengan pantai tempat berwisata tidak terlalu jauh seperti Makam batu Layar dan Loang Baloq” terangnya.

Hariyadi kembali menegaskan bahwa sebenarnya orang yang layak berlebaran topat adalah untuk orang-orang yang sudah berpuasa di bulan Syawal, namun secara budaya dia mengakui juga kalau tidak ada masalah bagi orang yang tidak berpuasa-pun merayakannya karena ditinjau dari segi budaya. (ddt)

 

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Lebaran Topat: Dua Terseret Ombak Diselamatkan, Satu Anak Hilang Ditemukan

  Mataram – Sepanjang perayaan lebaran topat tahun ini yang dilaksanakan Minggu 2 Juli 2017, ...