Jadilah yang Pertama Tau

Jalan Terjal Fitri “The Voice” dan Dedikasi Demi Almarhum Ayah

Fitri Novianti
Fitri Novianti

kicknews.today Mataram -Masyarakat NTB patut berbangga. Fitri Novianti tembus babak grand final di ajang audisi The Voice Indonesia 2016. Proses yang tidak mudah. Jalan terjal harus dilaluinya sejak ikut audisi awal, berlanjut hingga kini demi tetap bertahan di atas panggung dan masuk grand final. Semua didedikasikannya kepada almarhum ayahnya dan masyarakat NTB.

——————————————————-

Nurhasanah menyeka bulir air matanya yang tanpa diasadari menetes. Wajahnya yang tadinya sumringah seketika berubah muram. Nurhasanah masih ingat bagaimana Fitri Novianti, putrinya tampil atraktif di atas panggung the voice Indonesia, kemudian berhasil melenggang ke grand final. Tapi Nurhasanah tak mampu menghapus kenangan bersama sang suami, Bernol, yang pergi selama lamanya tanggal 17 Desember 2015 lalu.

“Kalau ingat itu, saya selalu tidak tahan,” ujar Nurhasanah terisak.

Suaminya lah, orang yang paling berjasa , dengan tekun, sabar, menjadi ‘manager’ bagi Fitri sejak duduk di Taman Kanak Kanak. Mengajari olah vokal, melatih mental, memahami hingga bagian paling esensi dari musik. Hasilnya, lemari kamar tak lagi menampung piala, piagam, medali yang diraih setelah malang melintang mengikuti lomba.

Penghargaan tertinggi terakhir adalah menjadi juara di ajang Bintang Radio di Jakarta untuk zona Indonesia Timur. Tidak ada yang menyangka, termasuk dirinya, Fitri kini ada di panggung bergengsi The Voice Indonesia, tapi tanpa disaksikan sang ayah. Dikenang Nurhasanah, sebelum meninggal, suaminya memang selalu mendorong Fitri mengikuti ajang pencarian bakat tingkat nasional.

Apapun dilakukan sang ayah demi memuluskan keinginannya menjadikan Fitri musisi papan atas nasional. Peluang itu ada ketika audisi dibuka Desember 2015 lalu. Tapi musibah tak didapat ditolak. Bernol meninggal di Bandung, Jawa Barat, tanah kelahirannya. Padahal seminggu kemudian ada audisi.

“Tapi saya suruh anak saya harus ikut audisi, demi memenuhi cita cita bapaknya,” kenang Nurhasanah, ibu kelahiran Desa Bengkel Kecamatan Labuapi Lombok Barat.

Akhirnya dalam suasana masih diselimuti duka, Fitri berusaha tegar, meringankan langkahnya dari rumah duka Bandung menuju panggung audisi di Surabaya. Fitri yang tercatat beralamat di Mataram,Lombok, nimbrung diantara puluhan ribu talenta di Surabaya. Tak dinyana, dia pun lolos ke Jakarta.

Berhadapan langsung dengan diva Agnes Monica, musisi rock and roll Kaka Slank, mantan vocalis Dewa 19 Ari Lasso dan Judika, finalis yang lolos di ajang serupa dan kini menjadi bintang. Setelah lolos dan mengikuti kompetisi tahap demi tahap, bukan perkara mudah, karena Nurhasanah kini sendiri. Beruntung dia mengaku punya keluarga, kerabat, serta orang orang yang tak disangkanya secara sukarela membantu tanpa tendensi apapun.

Persentuhan Fitri dengan dunia musik mendekatkannya dengan banyak musisi indie di Mataram dan Lombok khususnya. Jaringan – jaringan ini bekerja sendiri seolah tanpa komando. Diungkapkan Nurhasanah, teman teman SMA Fitri dan temannya main musik menggalang dana dengan cara mereka masing masing, umumnya dengan bermusik.

“Kasarnya, mereka juga ngamen untuk bantu Fitri,” kata Endang Syam, kerabat Nurhasanah.

Anggaran yang terkumpul kemudian dipakai akomodasi untuk kebutuhan membeli pulsa sebagai media dukungan berupa polling SMS sebanyak banyaknya, demi tetap mempertahankan gadis berparas cantik berambut lurus ini ada di chart berikutnya. Perlahan tapi pasti, diawali dengan blind audition, keempat couch memecet tombol kursi “I Want You”, ketika dia membawakan lagu Mama Knows Best.

Kompetisi kemudian dimulai, setelah tahap berikutnya masuk babak tempur atau battle round . Babak paling kritis sempat dialami Fitri, ketika harus puas dengan polling SMS rendah pada babak knock out. Meski standing ovation diberikan Ari Lasso dan Agnes Monica ketika dia berhasil atraktif membawakan lagu Just Wanna Make Love to You milik Etta James, tapi ia nyaris terjungkal. Tapi nasib baik masih di tangannya, ketika Agnes Monica menyelamatkannya dengan menggunakan hak veto.

“Kamu luar biasa banget, kalau enggak, mungkin enggak aku lolosin,” kata Agnes saat itu. Juga persoalan sama, nyaris terjungkal di babak live show .

Dari sisi talent, keempat juri tak ada yang meragukan kemampuan Fitri, sejumlah genre music dibawakannya dengan apik. Tapi sekali lagi polling SMS tak berpihak pada Fitri Novianti. Atas pengalaman itu, Endang sangat berharap support penuh itu terjadi di final, Senin (20/6) hari ini, di studio RCTI Pukul 20.00 WIB.

Dukungan sudah terlihat, di lingkungan sekitar tempat tinggalnya saja, sudah dipersiapkan layar tancap untuk nonton bareng sekaligus memberikan dukungan penuh dari jarak jauh. Di beberapa tempat juga dilakukan hal sama. Berjuang untuk penggalangan dana bukan perkara mudah. Mereka terpaksa “tebal muka” mendatangi pejabat dan instansi pemerintah demi memperoleh dukungan.

Hj. Kurnia salah satu diantaranya berperan. Pegawai Dispenda Kota Mataram ini berusaha memfasilitasi pertemuan dengan pejabat Pemkot Mataram demi memperoleh dukungan tadi. “Alhamdulillah, dari Pak Wakil WAlikota sudah memberikan dukungan langsung, dengan meminta pegawai dan pejabat di dinas dinas mengirimkan SMS dukungan,” ungkap Kurnia.

Sejumlah pejabat Pemorov NTB salah satunya asisten II Lalu Gita Aryadi juga secara terbuka memberikan harapannya, dengan menggalang dukungan ke koleganya. Namun masih ada hal yang dianggap kurang jika bicara soal dukungan. Menurut Kurnia, atmosfer itu belum sepenuhnya terlihat. Jika dibanding bagaimana masyarakat Bima seluruhnya turun ke jalan, bahkan mengamen untuk memberi dukungan ke warganya yang ikut kontes dangdut.

“Kalau di kita di Lombok, barangkali ini sekaligus menjadi harapan, agar soliditas itu terlihat. Karena itu yang sangat dibutuhkan anak anak kita yang menjadi peserta audisi,” harapnya. (bh)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat