Jadilah yang Pertama Tau

Selama Ramadhan, israel Larang Warga Palestina Masuk

ilustrasi

kicknews.today Yerusalem, – Pasca serangan dua warga Palestina yang menembak tewas empat warga Israel di Tel Aviv, militer Israel membatalkan pada Kamis izin masuk lebih dari 80 ribu warga Palestina ke negara itu sepanjang bulan suci umat muslim Ramadhan.

Sejauh ini, belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab terhadap aksi penembakan di kawasan restauran kelas atas dekat Kementerian Pertahanan Israel pada Rabu (8/6).

Namun, Hamas dan kelompok garis keras Palestina lain langsung menyatakan bertanggung jawab atas serangan itu.

Penyerang itu datang dari wilayah dekat Hebron di West Bank, kawasan yang dikuasai Israel.

Keduanya memakai jas dan dasi, berpakaian seperti pelanggan di restauran kelas atas itu, sebelum akhirnya mengeluarkan senjata otomatis dan mulai menembak.

Aksi tersebut menyebabkan pelanggan restauran panik dan melarikan diri.

Keduanya telah ditangkap, satu pelaku dikabarkan terluka.

Peristiwa itu merupakan aksi kesekian pada masa tenang di beberapa minggu ini, sebelumnya nyaris setiap hari aksi penusukan dan penembakan oleh warga Palestina kerap terjadi di jalan-jalan Israel.

Serangan di kawasan terbuka Sarona, tempat banyak keluarga menikmati petang yang sejuk itu, merupakan insiden paling mematikan di ibukota negara Israel, khususnya sejak gelombang aksi kekerasan oleh warga Palestina yang muncul sejak Oktober tahun lalu.

Setelah membahas isu keamanan dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, militer Israel menyatakan telah mencabut 83 ribu izin untuk warga Palestina dari West Bank untuk mengunjungi keluarganya di Israel selama Ramadan.

Langkah itu termasuk pembatasan akses masuk ke kawasan suci Masjidil Aqsa yang terletak di jantung kota tua, dan dianggap penganut Yahudi sebagai “Kuil Gunung”.

Aksi pembatasan itu sebelumnya telah meningkatkan tensi Israel dengan warga Palestina.

Pasca serangan Tel Aviv yang diungkap polisi menewaskan empat orang, yaitu dua perempuan dan dua lelaki, juga enam orang terluka, kembang api dinyalakan pada sejumlah titik di West Bank.

Sejumlah orang juga bernyanyi dan tampak mengibarkan bendera di beberapa kamp pengungsi.

Aksi itu bukan tanda buka puasa pada petang ini, kata warga lokal seraya melanjutkan, tindakan itu merupakan selebrasi atas pembunuhan yang dilakukan sepupu kami dari Yatta, desa dekat Hebron.

Juru bicara Hamas Hussam Badran menyebut insiden itu, “ramalam pertama Ramadan,” dan menerangkan, lokasi serangan di seberang Kementerian Pertahanan Israel “mengindikasikan kegagalan seluruh aksi pendudukan” negara itu, hingga dikatakan baiknya lekas mengakhiri aksi perlawanan.

Selama gelombang kekerasan terjadi, pemerintah Israel berulang kali mengkritisi faksi Palestina yang dianggap sebagai pemicu, dan dinilai tidak banyak berbuat untuk meredam aksi tersebut.

“The Popular Front for the Liberation of Palestine” (PFLP), organisasi terbesar pendukung pembebasan Palestina setelah Fatah, juga partai pendukung Presiden Mahmoud Abbas yang disokong barat, mendeskripsikan pembunuhan itu sebagai “respon alami atas eksekusi lapangan yang dilakukan pihak zionis.” Insiden tersebut, bagi PFLP, merupakan tantangan bagi Avigdor Lieberman, seorang nasionalis sayap kanan yang belum lama ditunjuk sebagai menteri pertahan Isrel.

Ia dianggap harus memutuskan bagaimana menanggulangi aksi itu, misalnya saja mengetatkan penjagaan di sepanjang perbatasan West Bank.

Koordinator Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Timur Tengah, Nickolay Mladenov mengutuk insiden penembakan tersebut seraya memperingatkan kelompok Palestina yang dianggap gagal menghentikan kekerasan.

“Seluruh pihak mesti menolak kekerasan dan katakan tidak pada aksi teror,” tegasnya.

“Saya terkejut menyaksikan sikap Hamas menyambut serangan teror itu. Seluruh pemimpin harus melawan aksi kekerasan dan sikap yang memicu tindakan itu, bukan membiarkannya terjadi.” Netanyahu mengunjungi lokasi kejadian setelah tiba dari kunjungan dua hari di Moskow.

Ia menyatakan serangan itu sebagai “pembunuhan berdarah dingin” dan berjanji akan membalas aksi tersebut.

“Kami telah membahas serangkaian tindakan ofensif dan defensif yang dapat diterapkan,” ungkapnya.

“Kami akan memetakan tiap orang yang andil dalam serangan ini, seraya bertindak tegas dan cermat untuk melawan terorisme.” Tindakan yang telah dilakukan adalah menutup wilayah Yatta dan menangguhkan 204 izin kerja milik keluarga pelaku serangan itu.

Sejak Oktober tahun lalu, 32 warga Israel dan dua pengunjung dari Amerika Serikat telah dibunuh oleh orang Palestina.

Pasukan militer Israel telah menembak mati sekitar 196 warga Palestina, 134 diantaranya diidentifikasi sebagai pelaku serangan, sisanya terbunuh dalam kerusuhan dan aksi protes. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat