BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Ribuan Ton Beras NTB Dikirim Ke Luar Daerah

ilustrasi
ilustrasi

kicknews.today Mataram – Badan Ketahanan Pangan Nusa Tenggara Barat mendata sebanyak 3.624,26 ton beras dari daerahnya dikirim ke enam provinsi selama periode Januari-April 2016 oleh pengusaha untuk dijual kembali.

“Dari data yang kami peroleh provinsi yang menjadi tujuan pengiriman adalah Jawa Timur, Bali, Jakarta, Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Tengah,” kata Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Nusa Tenggara Barat (NTB) Hartina, di Mataram, Selasa (7/6).

Selain beras, kata dia, para pengusaha antarpulau juga mengirim gabah produksi petani NTB ke Surabaya dan Malang di Jawa Timur serta Bali sebanyak 2.409 ton selama periode Januari-April 2016.

Ribuan ton gabah dan beras tersebut dikirim keluar NTB melalui Pelabuhan Badas, Kabupaten Sumbawa, Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, Pelabuhan Laut Bima, Kota Bima, dan Pelabuhan Sape, Kabupaten Bima, Pelabuhan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat.

Ada juga melalui Bandara Lombok International Airport, Kabupaten Lombok Tengah, dan Bandara Sultan M Kaharuddin, Kabupaten Sumbawa.

Meskipun dikirim ke luar daerah, kata Hartina, pihaknya tidak khawatir terjadi kekurangan stok untuk kebutuhan masyakarat lokal.

Sebab, stok yang dimiliki Perum Bulog NTB sebanyak 40 ribu ton lebih cukup untuk kebutuhan selama enam bulan ke depan.

Selain itu, jumlah beras dan gabah yang dijual antarpulau oleh para pengusaha mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

“Penurunannya jauh, dulu pada musim panen yang sama, jumlah yang dikirim terbilang banyak, mencapai puluhan ribu ton,” ujarnya.

Ia menduga berkurangnya pengiriman beras keluar daerah oleh para pengusaha sebagai dampak dari program “sergab” atau serap gabah oleh Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional NTB, bekerja sama dengan TNI Angkatan Darat.

“Jadi, gabah dan beras produksi petani dikawal oleh TNI agar hasil panen itu masuk dulu ke Bulog untuk ketahanan pangan nasional,” ucapnya.

Penyebab lain, kata Hartina, adalah masih diterapkannya kearifan lokal menyimpan gabah dan beras di lumbung pangan tradisional oleh masyarakat NTB, seperti di Desa Maria, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima.

Masyarakat Desa Maria masih memanfaatkan lumbung pangan tradisional yang terbuat dari kayu beratap ilalang dan berusia ratusan tahun.

Lumbung itu menjadi tempat menyimpan gabah hasil panennya untuk kebutuhan selama satu tahun hingga menunggu musim panen musim tanam berikutnya. Kearifan lokal tersebut terus diterapkan turun temurun.

“Kami juga sudah cek di Kampung Unggas, Kabupaten Lombok Tengah, masyarakatnya menyimpan sebagian hasil panen pada musim hujan lalu dan mereka juga tidak menjual gabah hasil musim tanam kedua untuk cadangan pangan,” kata Hartina. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

About Redaksi kicknews.today

Dalam Kategori Ini

Ratusan Desa di NTB Belum Bisa Pertanggungjawabkan Dana Desa

  Mataram – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Nusa Tenggara Barat menyatakan sebanyak 156 dari ...