dor..dor.. dor…Rasakan Sensasi Menembak di Tengah Kota

salah satu shooting range di wahana menembak sonic shooting range
salah satu shooting range di wahana menembak sonic shooting range

Mataram – Tang.. tang..tang,  hand gun jenis GBB (gas blow back) menyalak. Tiga butir peluru ball bullet menghajar target warna putih hingga ‘roboh’. Kaki Dhedet bergerak gesit kearah horizontal kemudian menunduk. Diameter bagian dalam ban bekas di hadapannya menjadi celah untuk menembak sasaran berikutnya.  Setidaknya ada 18 target yang harus dilumpukan Dhedet di stage  urban madness dan tentu saja harus melalui beberapa rintangan.

Itulah sensai menembak airsoft gun, sebuah olahraga yang memacu adrenaline, konsentrasi dan fisik. Sensasi itu hanya bisa didapat di Sonic Shooting Range di kompleks  Kura Kura Family Entertain, Jalan Sriwijaya Nomor 95 Mataram lantai 3.

Sonic Shooting Range Management memang menyediakan ruang khusus bagi siapapun yang ingin menyalurkan hoby menembak. Tempat ini menjadi berbeda karena satu satunya menerapkan konsep in door , tanpa mengurangi sensasi menembak out door. Bahkan mereka yang terlibat di management mengadopsi konsep dan  fasilitas pendukung seperti menembak menggunakan senja api.

Bagaimana ihwal lahirnya Sonic shooting range? Christario Perdana Putra menuntun tim redaksi kicknews.today  informasi mulai dari ide sampai akhirnya stage ini di launching Tanggal 20 November 2015.  Nama sonic diadopsi dari sebutan untuk kategori kecepatan lesatan peluru (super sonic) saat menembak.

“Awal dari hoby  , untuk mencari keringat dalam bentuk yang tidak permanen. Tapi lama kelamaan tercetus ide, kenapa tidak dibuat permanen dan yang bisa menghasilkan uang atau peluang bisnis?,” demikian pertanyaan di benak Christario Perdana Putra dan rekan rekannya awal 2015 lalu. Berkumpul 10 orang yang saat itu siap menjadi pemodal dibangunnya sebuah wahana olahraga menembak in door. Salah satunya Andreas Kusuma. Mereka sebenarnya tidak asing dalam urusan  olahraga menembak, karena semuanya tergabung dalam anggota Perbakin Rinjani.

Dari 10 anggota Perbakin tadi, punya pemikiran yang sama, hingga terbentuklah Sonic Shooting Range.  Semakin berkesan ketika mereka tidak melulu berpikiran soal profit, tapi asas manfaat bagi perkembangan olahraga menembak khususnnya Perbakin Rinjani. “Selain bergrak dibidang tembak reaksi dan bisnis, sebagian dari hasil diterma dari Sonic ini, disumbangkan untuk atlet yang tergabung dalam Perbakin Rinjani,” demikian Rio, sapaan Christario Perdana Putra yang dipercaya sebagai pengelola Sonic Shooting Range.  Orientasinya jelas, karena mereka juga merasa bertanggungjawab untuk  mengembangkan olahraga menembak yang dibidani sendiri.

Apa sensasi yang bisa ditawarkan di Sonic Shooting Range ?

Rio mengulas cerita, bahwa ide olahraga menembak sebenarnya berawal dari aksi perburuan hewan di hutan, yang kemudian semakin berkembang ditengah modernisasi dan lahirnya olahraga airsoft gun.  Di banyak tempat, mereka yang punya kesamaan hoby membuat olahraga ini di ruang ruang terbuka. “Di Sonic Shooting Range,  sensasi berburu di hutan dan  di out door kami hadirkan,” ujar anggota dan pengurus Perbakin Rinjani ini.  Soal adrenalin terpacu tentusaja, sebab mengejar waktu tercepat setiap menembak target.  Ini hampir mirip dengan senjata api yang asli. Dari hentakannya, bentuk, terutama cara pengamanannya, standar pengamanan sama dengan senjata api. Maintenance yang disediakan selain Holster, Magazine Pouch dan Green Gas.

Disebutkan, Sonic Shooting Range ada delapan stage tersedia. Mulai dari  shoot off yang memang disediakan untuk pemula karena tingkat kesulitannya paling rendah. Pada tingkatan kesulitan berikutnya, ada strong and weak hand drill, muscle memory , urban madness , saving hostages ,stop and go, cross country. “Ini semua kita adopsi dari stage untuk menembak yang asli. Masing masing stage punya tingkat kesulitan. Paling mudah shoot off  untuk pemula. Paling sulit, ada tiga ; urban madness, stop and go dan cross country,” terangnya.

Bagaimana reaksi customer ? responnya berbeda. Ada yang menyebut  tingkat kesulitan lebih tinggi karena banyak haling rintang, juga lintasan yang beragam menjadi kesulitan tersendiri.

Tapi pada umumnya respon dari customer  merasakan  sesuatu yang berbeda, sebagai  tempat olahraga yang baru. Apalagi ini menjadi tempat yang baru pertama kali ada di NTB,  tempat latihan speed shooting airsoft gun in door.

Bagaimana ide awal menjadikan ini bisnis baru?

Untuk bisnis, menurut Rio, management  tidak mau terjebak pada bisnismen yang latah. Ada keinginan membuat trend baru  di kalangan masyarakat NTB khususnya Mataram. Meski baru, terbukti  animo masyarakat sudah terlihat setelah berbagai cara promo dilakukan. Bahkan  stage ini pernah dipakai lomba, sekitar bulan Januari 2016 lalu dengan diadakannya turnamen in house, melibatkan tiga club airsoft  di Mataram.

“Di sini kita tekankan bahwa sebenanrya airsoft merupakan salah satu olahraga juga. Dan kita mau tunjukkan ke masyarakat untuk olahrga dan berprstasi. Sebab banyak yang berpikir airsoft gun banyak yang disalahgunakan,” harapnya.

Rio sebenarnya bukan Wajah baru di dunia menembak, sebab sudah mendulang sejumlah prestasi  pada berbagai event. Dia pernah menjuarai di beberapa event dan kejuaraan daerah, seperti ARH (Air Rifle Hunting), kejuaraan menembak Metal Siluete Kelas  Beregu 61 Meter, Perorangan 50 Meter  dan 25 Meter. Juga  pernah mendapat peringkat 3 besar di kelas 100 meter senapan bahu (senpi).

crew dan pengunjung sonic shooting range mataram
crew dan pengunjung sonic shooting range mataram

Bagaimana testimony para customer? Salah satunya datang dari perwira Polda NTB ini, AKBP Dewa Wijaya. Bagi Kepala Satuan Patroli Daerah Direktorat Polair Polda NTB ini, Airsoft Gun menjadi tempat melatih kesiapan, kesigapan, melengkapi pembinaan mental milier. Kegiatan menembak ini lebih efektif dan diprioritaskan bagi semua personelnya. “Anggota  bisa berlatih sambil bermain, saya rutin membawa anggota ke sini,” kata Dewa ditemui saat mengawasi belasan personelnya latihan.

Apalagi dirinya kini menjadi   member aktif, karena baginya ini tidak sekedar   olahraga, tapi melatih konsentrasi dan kedisplinan. “Dua hasil didapat, kemampuan teknik menembak dan olahraga,” akunya. (bh)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat