Mempersiapkan Generasi Emas Indonesia

ilustrasi
ilustrasi

ceritakita.kicknews.today – Bonus demografi, berkah yang berasal dari mayoritas jumlah penduduk usia produktif yang terjadi antara 2010 hingga 2035, diharapkan akan melahirkan apa yang dicita-citakan sebagai generasi emas.

Generasi emas, yang momentumnya diharapkan terjadi saat Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaannya, yakni pada 2045, adalah patokan yang bisa mengarahkan seluruh elemen bangsa untuk menabur benih-benih keuletan, kebajikan dan kematangan watak atau karakter.

Ketika kesadaran atas pentingnya mengelola bonus demografi itu dipopulerkan beberapa waktu lalu, pihak yang paling giat menggagas sejumlah program untuk mewujudkan generasi emas adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kesadaran itu sesungguhnya lebih esensial lagi dimiliki oleh keluarga-keluarga sebagai unit sosial yang paling koheren dalam mengawal perjalanan anak-anak mengaktualisasikan diri mereka.

Para orang tua yang bertanggung jawab atas masa depan anak-anak yang akan menjadi bagian dari generasi emas perlu disadarkan bahwa yang paling menentukan hidup sukses seseorang bukanlah fasilitas atau ketersediaan modal.

Sejarah sukses orang-orang terkemuka yang kini memasuki usia di atas 70 tahun mengajarkan bahwa perjuangan penuh keringat yang tak mudah menyerah, yang menempa seseorang mengalami era keemasan dalam hidup.

Apa yang dialami wirausahawan sukses, ilmuwan berprestasi, seniman masyhur di masa-masa remaja mereka merupakan prasyarat mutlak yang menjadikan mereka sebagai pribadi mengagumkan.

Di tahun 60-an Indonesia mengalami situasi kemiskinan yang melanda secara nasional ketika inflasi meroket hingga di atas 500 persen. Di masa itulah kebanyakan orang, terutama anak-anak, sangat menderita karena pergi ke sekolah sering dengan perut lapar dan perjalanan yang melelahkan dari rumah ke sekolah karena harus ditempuh dengan jalan kaki.

Namun, ada anak-anak yang menyikapi penderitaan itu sebagai awal mimpi untuk suatu kelak nanti mereka akan membebaskan diri dari belenggu kemiskinan yang menyakitkan itu.

Pengalaman hidup berkekurangan di masa ketika negara dalam keterpurukan ekonomi tentu dialami oleh anak-anak dengan skala penderitaan yang berbeda-beda. Yang paling tragis adalah ketika sebuah keluarga harus kehilangan kepala keluarga yang menjadi penyangga sumber ekonomi keluarga itu.

Momen tragis seperti itulah yang melahirkan pribadi-pribadi yang kemudian menjadi figur masyhur. Situasi sulit menjadi faktor pelecut seseorang untuk membulatkan semangat dan tekad yang membaja dan memberikan modal kepribadian menembus rintangan untuk menjadi sukses di kemudian hari.

Secara keseluruhan situasi hidup anak-anak era saat ini jauh lebih nyaman dan tak menghadirkan rintangan atau kesulitan dibandingkan dengan yang dialami generasi yang kini memasuki usia di atas 70 tahun. Jarang sekali saat ini seorang anak harus menempuh perjalanan panjang dengan jalan kaki untuk pergi ke sekolah kecuali di daerah pedalaman dan terluar.

Anak-anak di perkotaan sebagian besar pergi ke sekolah dengan sedikitnya mengendarai sepeda, motor atau naik angkot atau kendaraan pribadi.

Anak-anak yang hidup dalam kondisi demikian tentu memiliki modal kuat seperti kepintaran dalam punguasaan pengetahuan namun kurang dalam modal semangat dan mental menembus rintangan kesulitan hidup.

Yang cukup umum ditemui di kalangan keluarga berada, anak-anak atau remaja cepat mengeluh begitu terjadi masalah pada peranti pendingin ruang. Rapuhnya mental seseorang saat harus berhadapan dengan kesulitan hidup tentu berpengaruh bagi sukses hidup mereka di masa depan.

Ikhtiar pemerintah mewujudkan generasi emas di Tanah Air agaknya perlu disinergikan dengan visi kewirausahaan yang dimiliki pengusaha terkemuka Ir Ciputra, yang menyatakan bahwa kemajuan sebuah negara tak bisa dilepaskan dari banyakanya wirausahawan yang dimiliki negara bersangkutan.

Negeri-negeri maju, sedikitnya punya dua persen wirausahawan dari total jumlah penduduk. Indonesia baru mempunyai wirausahawan kreatif jauh di bawah satu persen dari total penduduk.

Wirausahawan yang perlu dibentuk bukan sekadar orang-orang yang mampu menciptakan lapangan kerja. Lebih dari itu adalah orang-orang yang kreatif-inovatif yang sanggup menciptakan nilai tambah dari barang rongsokan menjadi emas.

Watak penuh semangat dan benih kewirausahaan itu perlu ditanamkan sejak dini, yang diharapkan akan mengakar dan tumbuh dalam diri anak-anak sejak di bangku sekolah. Kualifikasi psikis inilah yang akan menolong mereka menjadi manusia mandiri dalam mewujudkan impian-impian mereka di kemudian hari.

Pada titik inilah sekolah-sekolah sejak jenjang pendidikan anak usia dini sudah bisa menerapkan kurikulum yang menunjang tumbuhnya benih kewirausahaan itu.

Situasi hidup di era ketika ekonomi masyarakat sudah jauh lebih baik dibanding dekade 60-an ini bila tak diwaspadai bisa menjadi tawanan situasi yang meninabobokan anak-anak yang akan mengisi komposisi generasi emas di kemudian hari.

Tontonan yang tak meneguhkan kualitas watak kewirausahaan seperti pada banyak tayangan sinetron di televisi saat ini perlu jadi cacatan bagi orang tua agar anak-anak tak menghabiskan waktu luang mereka dengan menikmati hiburan semacam itu.

Selain itu, anak-anak dalam generasi emas perlu diselamatkan dari produk-produk yang merusak kesehatan. Kampanye antitembakau yang antara lain digelorakan Emil Salim, ekonom yang juga pakar kelestarian lingkungan, pantas diikuti oleh lebih banyak tokoh masyarakat.

Ancaman terhadap terwujudnya generasi emas juga muncul dari produk-produk makanan yang tak sesuai dengan kodrat tubuh manusia, yang membutuhkan zat-zat nutrisi alam berkualitas, bukan makanan yang terolah dengan berbagai bahan kimia yang oleh kalangan ahli ilmu hayat dikategorikan sebagai zat penumbuh sel-sel kanker.

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat