in ,

Polisi : Direktur RSUP NTB Sudah Berniat ‘Menghilang’

Foto : Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah NTB, AKBP Anom Wibowo jumpa pers Selasa (19/4), didampingi Kepala Bidang Hubungan Masyarakat, AKBP Tribudi Pangastuti. (kicknews.today)
Foto : Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah NTB, AKBP Anom Wibowo jumpa pers Selasa (19/4), didampingi Kepala Bidang Hubungan Masyarakat, AKBP Tribudi Pangastuti. (kicknews.today)
Foto : Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah NTB, AKBP Anom Wibowo jumpa pers Selasa (19/4), didampingi Kepala Bidang Hubungan Masyarakat, AKBP Tribudi Pangastuti. (kicknews.today)

Mataram – Motif dibalik hilangnya dr. Mawardi Hamri, M.MPPM, Direktur Rumah Sakit Umum Provinsi NTB belum juga terungkap. Akan tetapi sementara ini Polisi memberikan keyakinan bahwa hilangnya Mawardi bukan terkait kasus kejahatan seperti penculikan. Tapi apa adakah faktor lain? rupanya masih misterius.

Kesimpulan sementara bahwa hilangnya Mawardi bukan terkait kasus kejahatan berdasarkan Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) beberapa waktu lalu, melibatkan tim Pusat Laboratirium Forensik (Puslabfor) Kepolisian Daerah Bali, di rumah dinasnya Jalan Langko Nomor 31 Mataram.

“Kami simpulkan Mawardi pergi belum ada kaitannya dengan kasus kejahatan berdasarkan pemeriksaan saksi saksi,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah NTB, AKBP Anom Wibowo, Selasa (19/4).

Selain melibatkan Labfor, dilibatkan juga lie detector Markas Besar Kepolisian RI. Dari hasil analisa tim yang dilibatkan, bahwa tanggal 23 Maret 2016 itu, Dokter Mawardi memang sudah merencanakan untuk pergi.

Anom kemudian mengurai singkat berdasarkan penyelidikan dan keterangan saksi. Untuk menutupi keinginannya untuk menghilang, Dokter Mawardi sedikit “mengelabui” ajudan dan supirnya, Ucok dan Antok.

“Dokter Mawardi bilang ke Ucok dan Antok, akan ada rapat nanti malam. Kalau nanti saya telat pulang, jangan dicari (kalimat Mawardi kepada Ucok dan Antok),” demikian dikutip Anom dari keterangan saksi.

Kebenaran adanya rapat itu sempat di kros cek ke pejabat Pemerintah Provinsi NTB lainnya, yakni Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, H. Rosyadi Sayuti dan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) H. Suruji.
Tapi, lanjut Anom Wibowo, dari keterangan dua pejabat itu, tidak ada rapat malam tanggal 23 Maret, karena rapat sudah dilaksanakan sehari sebelumnya.

“Sudah kita konfrontir dengan keterangan saksi, Pak Suruji dan Pak Rosyadi. Rapat sudah dilaksanakan sehari sebelumnya. Jadi tidak ada rencana rapat,” terang Anom.

Semakin terang bahwa Mawardi sudah mengatur cara untuk hilang, ketika dia berpesan kepada Ucok dan Antok.
“Ketika dia tinggalkan rumah dia titip, tutup garasi, dia tidak mau diikuti saat tinggalkan rumah itu. Bahkan dia sempat tutup pintu gerbang pagar rumahnya sendiri (dari luar). Ini menunjukkan bahwa kepergian beliau sudah direncanakan sendiri,” demikian kata Anom. (bh)

Tinggalkan Balasan