in

Pemkot Kaji Besaran Kompensasi Pedagang Miras Tradisional

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

kicknews.today Mataram – Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, masih melakukan kajian terhadap besaran kompensasi terhadap 268 pedagang minuman keras tradisional agar mereka beralih profesi dan meninggalkan pekerjaan lamanya sebelum ditertibkan permanen.

“Camat dan lurah saat ini masih bekerja sekaligus mengkaji besaran kompensasi yang akan diberikan kepada para pedagang minuman keras tradisional sebelum kita tertibkan,” kata Wakil Wali Kota Mataram Mohan Roliskana di Mataram, Senin (18/4).

Hal itu dikemukakannya menanggapi adanya pernyataan sejumlah pihak yang kesannya cuek dengan upaya persuasif melalui imbauan kepada pedagang minuman keras tradisional atau biasa disebut “tuak”, yang hingga kini masih menjalani profesinya meskipun pemerintah kota telah mengingatkan bahkan akan ada penertiban secara masif.

“Tidak apa-apa kalau mereka cuek, itu menjadi motivasi kita untuk segera menyelesaikan masalah ini hingga tuntas,” katanya menegaskan.

Dikatakannya, setelah adanya hasil kajian besaran kompensasi yang akan diberikan terhadap para pedagang tuak tentunya dengan menggunakan skala kecil, sedang dan besar, pemerintah segera mendistribusikan dana kompensasi tersebut.

“Jika sudah menerima dana kompensasi kemudian pedagang melakukan pembangkangan, kita akan mengambil tindakan tegas dengan melalui penertiban,” ujarnya.

Mohan mengakui, dalam menyelesaikan masalah sosial ini pemerintah kota tidak bisa kerja seperti halnya “sangkuriang” yang bekerja tuntas dalam sehari.

Apalagi dalam hal ini, pemerintah berhadapan langsung dengan masyarakat yang dengan berbagai alasan hingga mereka mengambil profesi sebagai pedagang tuak.

Di samping itu, camat dan lurah juga kerja sangat hati-hati agar jangan sampai ada kecemburuan apalagi ada pedagang tuak yang tidak masuk dalam data sehingga tidak terakomodasi kepentingannya.

“Hal ini tentu bisa berpotensi menjadi masalah baru,” katanya.

Secara omzet, sambung Mohan, mungkin para pedagang tersebut tidak terlalu besar bahkan mungkin relatif kecil.

Namun pemerintah, lebih melihat kepada dampak yang ditimbulkan dari konsumsi minuman keras tersebut yang menurutnya telah menimbulkan banyak permasalahan dikalangan masyarakat.

“Kerap kali minuman keras ini menjadi pemicu konflik yang tidak jarang bahkan melebar menjadi konflik yang melibatkan kelompok-kelompok masyarakat,” katanya.

Karena itu Pemerintah Kota Mataram memberikan atensi yang luar biasa untuk mengatasi sumber permasalahan ini, dan bertekad akan mengawal sampai tuntas. (ant)

Tinggalkan Balasan