Mau Tahu Soal Narkoba? Dua Gadis Cantik ini Siap Menuntun Anda

Mataram - Mau coba coba pakai narkoba? Atau meneruskan kebiasaan akibat kecanduan? Atau sekedar ingin tahu tentang bahayanya sehingga bisa diteruskan ke keluarga?. Sebaiknya bertemu dulu dengan dua gadis cantik ini, Anda akan berubah pikiran. Tak sekedar cantik, tapi dilengkapi dengan kecerdasan, keduanya akan menjelaskan apa itu bahaya narkoba dan cara yang ditempuh untuk menjauhinya.

Duta Humas Polda NTB, Manik Puspita, 21 tahun, dan Lailan Syavira Jauhary saat kampanye Stop Narkoba di arena car free day Jalan Udayana Mataram, belum lama ini.
Duta Humas Polda NTB, Manik Puspita, 21 tahun, dan Lailan Syavira Jauhary, 21 tahun saat kampanye Stop Narkoba di Mataram, belum lama ini.

Kampanye massif “stop narkoba” sedang menggema dimana-mana. Jika sebelumnya hanya menjadi domain Badan Narkotika Nasional (BNN), sekarang anggota Polri tanpa terkecuali mengkampanyekan hal sama. Beragam cara, mulai paling formal sampai menggunakan pendekatan melibatkan model sebagai duta, sebagaimana dilakukan Bidang Humas Polda NTB ini. Dua gadis cantik yang siap melengkapi pemahaman Anda. Dia adalah  Manik Puspita, 21 tahun, dan Lailan Syavira Jauhary, 21 tahun, model yang ditunjuk sebagai dua Humas Polda NTB untuk kampanye anti narkoba.

Belum lama ini, mereka menjadi pusat perhatian di arena car free day Jalan Udayana Mataram.  Diantara ribuan pengunjung pagi itu, Syavira dan Manik nimbrung dengan long march sambil membawa stiker dengan tulisan font cukup mencolok “Stop Narkoba”. Bersama Kepala Bidang Humas, AKBP Dra.Tribudi Pangastuti, MM, juga sejumlah komunitas, jalan udayana ibarat “cat walk” bagi Syavira yang pernah menjadi runner  up Putri Mutiara NTB dan Manik yang pernah dinobatkan menjadi Putri Mutiara Berbakat NTB, 2013.

“Kalau saya lihat, mereka antusias. Yang tadinya mereka cuma jalan-jalan, sempat berhenti dan foto bersama dengan kita,” tutur Manik Pupspita ketika berbincang dengan kicknews.today  belum lama ini.

Ada sejumlah ibu-ibu menyarankan kampanye itu lebih sering dilakukan. Lebih dari itu, keduanya diminta lebih aktif dengan hadir di sejumlah kegiatan hiburan masyarakat lainnya untuk kampanye yang sama tentang anti narkoba.

“Ini artinya ada apresiasi dari masyarakat ketika kami berdua menjadi duta anti narkoba,” timpal Lailan. Antusiasme itu kemudian disamnbut dengan sejumlah rangkaian kegiatan di lapangan terbuka, di sekolah-sekolah, juga di kampus kampus.

Materi apa yang disampakan kepada audience ? Secara bergilir dijawab dua model berkulit kuning langsat ini. Dijelaskan Syavira, prosesnya lebih pada diskusi dan sharing tentang hal apa saja yang diketahui tentang bahaya narkoba dan jenis jenisnya.  Mereka yang jadi sasaran edukasi juga  bertanya kepadanya, apa aja yang sudah dilaukan untuk mengedukasi masyarakat. “Kita sampaika hal -hal yang mendasar tentang narkoba, penyalahgunaan narkobanya. Ada juga nanya, kalau ada yang kecanduan, narkoba  dibawa kemana?, ya saya sampaikan, langsung dibawa ke BNN untuk dilakukan assessment  sebelum direhabilitasi,” kata Syavira.

Sementara Manik, lebih kepada perannya sebagai duta. Duta baginya adalah icon. Sehingga apapun yang disampaikan, akan menentukan penerimaan masyarakat atas lembaga yang diwakili. Lebih teknis dijelaskannya, perannya sebagai duta ingin membantu kepolisian sebagai upaya counter opinion tentang sindikat narkoba yang sudah merajalela dan sulit diatasi, khususnya oleh kepolisian.  Bahwa era perubahan menurutnya harus hadir diantara rasa pesimisme itu. Caranya, generasi muda harus disadarkan untuk terlibat aktif membantu aparat dan pemerintah sama-sama memberantas sindikat narkoba.  Setidak tidaknya menurut dia dengan cara mensosialisasikan sebagai upaya mencegah narkoba masuk di lingkungan keluarga.

Para Duta Humas Polda NTB bersama Kabid Humas Polda NTB AKBP Tribudi Pangastuti saat kampanye anti narkoba di car free day Jalan Udayana Mataram
Para Duta Humas Polda NTB bersama Kabid Humas Polda NTB AKBP Tribudi Pangastuti saat kampanye anti narkoba di car free day Jalan Udayana Mataram

Ditanya, apakah langkah preemtif ini akan efektif diantara gencarnya upaya represif? Savira meyakini  ini akan sangat efektif, karena tujuan terbesarnya adalah remaja dan anak muda umumnya yang punya harapan masa depan panjang.

“Kami berusaha membuat siapa pun yang kami ajak untuk berinteraksi merasa nyaman. Nyaman untuk berdisukis, nyaman untuk bercerita. Intinya berusaha agar  feel-nya dapet. Sebab mereka juga kadang tidak mau nanya langsung ke Polisi, mungkin karena segan. Makanya ada kami yang menjembatani,” paparnya.

Manik juga yakin kampanye dan kerja keras ini akan efektif, karena yang disampaikannya sering kali melalui pendekatan agama penting, tentang filosofi sifat  baik dan sifat buruk yang harus bisa dibedakan. Ketika narkoba adalah keburukan, maka dimintanya untuk dijauhi. Orang tua juga diminta menjadi benteng kokoh bagi perlindungan anak anak mereka dari pengaruh negatif narkoba. Sejak dini harus ada upaya setidaknya membicarakan kepada anak anak mereka, terutama oleh guru guru kepada anak didik mereka. “Benteng pertama guru di sekolah dan orang tua di rumah,” sarannya.

Sebuah quote dicetuskannya, “Semua berawal dari sendiri. Jika  punya cita cita di masa yang akan datang, ciptakan prestasi, isi hidup dengan hal hal positif”. (bh)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat