in

Ketika Narkoba Meracuni Dunia Pendidikan Mataram

ilustrasi
ilustrasi
ilustrasi

kicknews.today Mataram – Kasus penyalahgunaan narkoba yang kian marak seperti di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat menimbulkan kekhawatiran berbagai kalangan, terutama para orang tua.

Para pecandu narkoba itu bukan hanya kalangan masyarakat umum, tetapi juga sejumlah oknum pendidikan, termasuk para pelajar. Ini telah mencoreng citra dunia pendidikan.

Kondisi ini cukup merisaukan, para pelajar yang akan menjadi pemimpin bangsa justru terlibat dalam kasus penyalahgunaan barang haram tersebut.

Karena itu Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mengingkatkan seluruh pelajar di daerah itu untuk menjauhi narkoba. Jangan tergoda untuk mencoba barang haram tersebut.

“Jangan sekali-kali mencoba narkoba, karena itu hanya akan merugikan siswa,” katanya di hadapan ratusan siswa peserta Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat Kota Mataram, Senin (19/4).

Ia mengingatkan jika siswa berani mencoba menggunakan narkoba, hanya ada dua pilihan yang akan didapatkan, keduanya sama-sama pahit.

“Kalau kalian coba-coba menggunakan narkoba kalian mendapat dua pilihan pahit yakni mati atau masuk penjara,” katanya.

Karena itu Mohan berpesan agar pelajar tetap tekun menggeluti apa yang telah menjadi minatnya dan kesenangan positif saat ini.

Dia mengatakan jika anak-anak yang menyukai olah raga, musik, seni, atau apapun kegiatan yang positif lainnya, agar tetap konsisten dan semangat mengolah kemampuan di jalur masing-masing tanpa mengenyampingkan tanggung jawab sebagai seorang pelajar.

“Kalian inilah yang akan menggantikan kami, kalau salah langkah kalian nantinya cuma jadi sampah masyarakat,” ujarnya.

Menurut Mohan anak-anak merupakan kalangan yang rentan terhadap bahaya narkoba, karena usia anak-anak umumnya ingin banyak tahu.

Untuk itu, katanya, dibutuhkan pembinaan dan pengawalan tidak hanya dari sekolah karena kemampuan sekolah untuk mendeteksi dan mengawal anak-anak terbatas. Namun fokus terpentingnya dalam hal ini adalah keluarga.

Dalam upaya mencegah kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar itu Mohan memberikan dukungan kepada Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Mataram melakukan rehabilitasi terhadap tiga pelajar tingkat SMA di kota ini yang terbukti menjadi pengguna narkoba.

“Kita mendukung langkah BNNK untuk merehabilitasi pelajar tersebut, karena anak-anak ini hanya pemakai dan menjadi korban,” katanya kepada wartawan di Mataram, Senin (18/4).

Pernyataan itu dikemukakannya menanggapi adanya tiga pelajar tingkat SMA di Kota Mataram, yang saat ini sedang menjalani rehabilitasi rawat jalan di klinik BNNK Mataram.

Ia menilai upaya rehabilitasi lebih baik karena hal itu bisa lebih berprospek menyelamatkan masa depan siswa, dibandingkan jika mereka dipidanakan atau dipenjarakan.

“Kalau mereka dipidanakan atau dipenjarakan itu akan jauh lebih merusak mental mereka,” ujarnya.

Di sisi lain, kata dia, juga mendukung kreativitas dari BNNK untuk bisa penuhi permintaan sekolah dalam menjawab keresahan masyarakat dan wali murid dengan melaksanakan uji narkoba melalui tes urine di lingkungan sekolah.

“Upaya itu dapat memberikan keyakinan kepada masyarakat terutama kepada orang tua agar tidak resah dengan berbagai kasus-kasus narkoba di lingkungan sekolah,” katanya.

Meskipun sudah terbukti tiga pelajar yang terkontaminasi narkoba, namun Mohan tidak ingin hal ini sepenuhnya diserahkan ke pihak sekolah.

Mohan mengatakan jangan karena ada anak pengguna narkoba di satu sekolah lalu kita katakan sekoah itu gagal, sebab persoalan ini kompleks tidak bisa dilihat satu sisi, karena faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi, termasuk peran keluarga,” kata Mohan.

“Kalau keluarga mendirikan pondasinya kuat dan agamanya kuat, saya yakin semua generasi bangsa bisa kita selamatkan dari narkoba,” ujarnya.

Kepala BNNK Mataram Nur Rachmat sebelumnya mengatakan rehabilitasi yang dilakukan tiga pelajar SMA Kota Mataram itu setelah dilakukan penyelamatan oleh tim dari BNNK Mataram di rumah mereka ketika sedang mengonsumsi narkoba jenis sabu-sabu.

BNNK berhasil melakukan penyelamatan tiga pelajar laki-laki ini berdasarkan hasil laporan dari masyarakat sekitar, dan setelah dilakukan pemeriksaan membuktikan bahwa tiga pelajar itu hanya sebagai pengguna, BNNK mengambil kebijakan untuk melakukan rehabilitasi terhadap mereka.

“Jadi selama rehabilitasi, mereka tetap bisa melanjutkan pendidikannya dan pada jadwal yang telah ditentukan mereka harus datang ke klinik di BNNK untuk mendapatkan pelayanan rawat jalan, tentunya dengan didampingi orang tua mereka,” katanya.

Nur Rahmat mengatakan pihanya memutuskan melakukan rehabilitasi karena mereka terbukti sebagai pengguna, jika terbukti sebagai pengedar kasusnya akan berbeda sebab mereka harus berurusan dengan aparat penegak hukum.

Selan tiga pelajar itu, BNNK Mataram saat ini juga sedang menangani rehabilitasi rawat jalan 77 orang warga kota yang atas kesadarannya sendiri datang ke klinik BNNK untuk mendapatkan pengobatan.

Jumlah itu berdasarkan angka kumulatif sejak 1 Januri 2016, atau setelah BNNK Mataram berstatus sebagai Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) pada akhir tahun 2015, seperti sebuah rumah sakit jiwa dengan menyiapkan dua orang dokter spesialis.

“Jadi mereka ini datang ke klinik BNNK untuk berobat dan benar-benar ada keinginan untuk sembuh. Jadi total masyarakat yang kami sedang rehabilitasi saat ini sebanyak 80 orang, termasuk tiga pelajar itu, ujarnya.

Selain melaksanakan program rehabilitasi, BNNK Mataram juga melaksanakan program pascarehabilitasi yakni pendampingan dan pemantauan.

“Kalau tahun-tahun sebelumnya, setelah program rehabilitasi selesai, masyarakat langsung dilepas sehingga mereka bertemu dengan temannya lagi dan menggunakan narkoba lagi,” katanya.

Namun, katanya, mulai tahun ini BNNK telah menerapkan program pendampingan pascarehabilitasi, dimana petugas akan melakukan kontrol dan dipastikan tidak menggunakan narkoba lagi dan produktif di tengah masyarakat.

Untuk mencegah kian meluasnya kasus penyalahgunaan narkoba termasuk di kalangan pelajar, Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi NTB terus menggencarkan kampanye setop penyalahgunaan narkoba.

Untuk pertama kali, kemarin BNNP NTB menggelar aksi kampanye “Stop Narkoba” di sekolah, yakni di SMA 2 Mataram. Sekolah lain di NTB diharapkan bisa menyusul sebagai tuan rumah aksi serupa.

Setop Narkoba Kampanye “Setop Narkoba” ini diisi dengan dialog dan pengarahan Kepala BNNP NTB Komisaris Besar Polisi Sriyanto kepada para siswa SMA 2 Mataram selepas istirahat siang. Mereka dikenalkan pada bahaya narkoba, dan mesti harus menghindarinya sedari dini.

Para siswa juga diajak untuk menjadi kader dan relawan. Dengan begitu, mereka bisa peduli dan turut ambil bagian melaporkan jika menemukan kasus penggunaan narkoba pada teman sebaya. Baik di sekolah ataupun di lingkungan rumah.

Sriyanto mengatakan saat ini angka prevalensi pengguna narkoba di NTB sudah mencapai 1,6 persen dari total populasi. Jumlah itu setara dengan 55.319 orang. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang sudah bekerja.

Namun, katanya, yang mengkhawatirkan, para pelajar, mahasiswa, anak-anak muda usia produktif, berada di posisi kedua dalam hal angka prevalensi pengguna narkoba tersebut.

“Narkoba ini menjadi perusak generasi muda kita,” kata Sriyanto.

Aksi kampanye ini disambut antusias para siswa. Mereka antara lain memanfaatkan kesempatan itu untuk berdialog dan mengenal lebih mendalam soal bahaya narkoba, dan sekaligus cara menghindarinya.

Siswa juga bertanya soal zat-zat adiktif lain yang juga mulai dijual murah, semisal obat penenang untuk pasien di rumah sakit jiwa. Obat-obatan yang harusnya tidak dijual bebas ini menyasar para pelajar dan generasi muda, lantaran harganya yang terjangkau. Padahal, dampak yang ditimbulkan juga membahayakan seperti narkoba.

Para siswa diberi tahu bagaimana tidak mudah terjebak pada ciri fisik tubuh. Tidak selamanya mereka yang kurus ceking, terlibat narkoba atau sebaliknya mereka yang gemuk dan subur, lantar terbebas dari penyalahgunaan narkoba, sebab, ada narkoba jenis tertentu yang efeknya justru menjadikan makan kian lapap.

Siswa ini diingatkan untuk lebih mengenal perubahan pada teman sebaya. Dalam banyak kasus, para penyalahguna narkoba kemampuan konsentrasinya cenderung menurun. Kendati tidak pada semua kasus.

Saat ini, kata Sriyanto, sudah ada 18 jenis narkoba yang sudah terakomodir dalam aturan hukum, termasuk mengakomodir narkoba jenis baru.

“Kami berharap aksi ini dapat digelar di sekolah lain di NTB. BNN sepenuhnya siap,” ujarnya.

Kepala SMA Negeri 2 Mataram Kun Andrasto menyambut baik pengarahan yang digelar BNN NTB dalam rangka kampanye stop narkobaa.

Ia mengatakan sekolah sangat memerlukan aksi tersebut, karena mereka juga tidak menginginkan ada siswa terlibat kasus penyalahgunaan narkoba.

Sejatinya semua pihak memiliki kekhawatiran yang sama agar anak-anak usia sekolah tetap berada di jalur yang benar, tidak terjerumus dalam kasus penyalahgunaan narkoba yang merugikan para siswa sendiri dan keluarga. (ant)