Guncangan Gempa Ecuador dan Hubungannya dengan NTB

ilustrasi potensi gempa NTB
Daryono: gambaran potensi gempa NTB

kicknews.today -  Hari Minggu, 17 April 2016, gempa bumi kuat mengguncang Negara Ecuador pada pukul 06.58.37 WIB. Guncangan kuat gempabumi ini dirasakan di beberapa kota besar seperti Rosa Zarate, Propicia, Santo Domingo de los Colorados, Guayaquil, dan Quito, ibukota Negara Ecuador.

Menurut laporan United States Geological (USGS), gempabumi ini berkekuatan M 7,8 yang berpusat di koordinat 0,371 derajat lintang utara dan 79,940 derajat bujur barat, tepatnya pada 27 kilometer arah tenggara kota Muisne, Ecuador, dengan kedalaman hiposenter 19,2 kilometer.

“Berdasarkan kedalaman hiposenternya, gempabumi kuat yang mengguncang hampir seluruh wilayah Negara Ecuador dan sekitarnya ini merupakan jenis gempabumi dangkal. Laporan sementara menunjukkan bahwa, gempabumi ini telah menimbulkan kerusakan banyak bangunan rumah di berbagai tempat, termasuk hotel dan jembatan. Korban meninggal akibat gempabumi ini berdasarkan laporan sementara tercatat sudah mencapai 41 (data terakhir 77) orang,” demikian analisa Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat, Daryono sebagaimana diterima redaksi kicknews.today, Minggu (17/4).

Analisa lanjutan Daryono, adanya kerusakan sebagai dampak gempabumi Ecuador, sesuai dengan informasi peta tingkat guncangan gempabumi (shake map) yang menunjukkan bahwa bahwa guncangan di dekat pusat gempabumi mencapai skala intensitas VII-VIII MMI. Intensitas sebesar ini dipastikan menimbulkan kerusakan yang cukup parah pada struktur bangunan. Berdasarkan analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi Ecuador ini dipicu oleh mekanisme penyesaran naik (thrust fault). Tataan tektonik dan data hiposenter gempabumi, mendukung dugaan kuat bahwa gempabumi darat ini terjadi akibat aktivitas subduksi lempeng.

“Catatan kegempaan Ecuador menunjukkan bahwa hampir seluruh gempabumi kuat yang terjadi di Ecuador memang disebabkan oleh aktivitas subduksi lempang. Dalam hal ini Lempeng Nazca menyusup ke bawah Lempeng Amerika Selatan. Subduksi lempeng ini cukup aktif dengan laju penunjaman 40 – 53 mm per tahun,” paparnya.

Seringnya Ecuador diguncang gempabumi kuat dan merusak disebabkan karena zona subduksi Lempeng Nazca di Ecuador-Colombia Trench ini lokasinya berdekatan dengan daratan. Sehingga setiap terjadi gempabumi kuat selalu timbul banyak kerusakan dan menelan korban jiwa cukup besar. Berdasarkan catatan sejarah gempabumi merusak di Ecuador menunjukkan bahwa negara ini memang sudah beberapa kali diguncang gempabumi kuat dan merusak yang menelan banyak korban jiwa. Beberapa contoh diantaranya, adalah (1) gempabumi Riobamba tahun 1797 M 8,3 menewaskan sekitar 40.000 orang, (2) gempabumi Carchi tahun 1868 M 7,7 juga menewaskan sekitar 40.000 orang, (2) gempabumi Esmeraldas 1906 M 8,8 menewaskan sebanyak 1.000 orang, (3) gempabumi Ambato tahun 1949 M 6,8 menewaskan sebanyak 5,050 orang, dan gempabumi Napo 1987M 6,9 menewaskan sebanyak 1.000 orang.

Hubungan dengan NTB Terkait dengan peristiwa gempabumi merusak di Ecuador akibat aktivitas subduksi lepeng, maka dijelasaknnya ada pelajaran yang dapat dipetik.

“Seperti halnya Ecuador, kita juga memiliki banyak subduksi lempeng aktif yang terdapat di sebelah barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, NTB, NTT, dan di Laut Banda. Selain itu di sebelah utara lengan utara Sulawesi juga terdapat zona subduksi, termasuk subduksi dobel di Lempeng Laut Maluku, serta subduksi Lempeng di sebelah utara Papua. Dibanding Ecuador, ancaman gempabumi subduksi lempeng lebih besar dialami negara kita. Kita seolah “di kepung” generator gempabumi dari berbagai arah,” jelasnya.

Diharapkan semua pihak harus selalu waspada dengan keberadaan beberapa zona subduksi lempeng tersebut. Selalu menyadari bahwa zona subduksi tersebut masih aktif sehingga potensi terjadinya gempabumi kuat akibat aktivitas subduksi ini sangat besar. Bukan hanya bahaya gempabuminya saja, tetapi juga bahaya tsunami yang mungkin timbul sebagai dampak gempabumi kuat di zona subduksi tersebut.

“Untuk itu kita harus bersama-sama bergandeng tangan untuk terus meningkatkan pemahaman masyarakat terkait bahaya gempabumi dan tsunami serta mitigasinya,” pungkas Daryono. (bh)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat