in

Terkait Upsus, Sumbawa Barat Targetkan Belasan Ribu Hektar Lahan Jagung

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

kicknews.today Mataram – Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, menargetkan luas areal tanaman jagung pada 2017 mencapai 15.000 hektare atau naik 50 persen dibanding 2016 seluas 10.000 ha.

Kepala Dinas Kehutanan Perkebunan dan Pertanian (Dishutbuntan) Sumbawa Barat IGB Sumbawanto di Sumbawa Barat, Kamis mengatakan sebenarnya luas areal tanam 10 ribu hektare pada 2016 sedikit dipaksakan, sehubungan dengan pelaksanaan program nasional upaya khusus (Upsus) peningkatan produksi padi jagung dan kedelai (Pajale) Melalui program Upsus Pajale tersebut setiap daerah diberi target luas areal penanaman sekaligus peningkatan produksi untuk ketiga komoditas pangan tersebut.

“Memang kita paksakan, karena banyak petani yang belum terbiasa menanam jagung. Tetapi ternyata hasilnya cukup menggembirakan,” katanya.

Melalui program Upsus Pajale, kata dia, pemerintah memberikan bantuan bibit, pupuk dan biaya pengolahan lahan kepada petani.

Program peningkatan ketiga komoditas pangan tersebut juga melibatkan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), dan dibantu oleh PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) dalam hal pendampingan tekhnis petani dan penyiapan sarana produksi dan pestisida, khususnya di wilayah lingkar tambang.

Untuk wilayah lingkar tambang PTNTT, lanjut Sumbawanto, meliputi Kecamatan Jereweh, Maluk dan Sekongkang, dengan luas areal tanam jagung mencapai 2.000 ha atau meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan tahun 2015.

“Di Kecamatan Maluk saja, dari 26 ha lahan tanam pada 2015, naik menjadi 500 ha tahun ini, dengan produksi mencapai 7 ton/ha. Memang produksinya masih kurang maksimal dibanding wilayah lain, tetapi kedepan pasti akan lebih baik,” ujarnya.

Sumbawanto mengungkapkan kendala yang dihadapi petani jagung saat ini adalah masalah pupuk dan ketersediaan alat pengering yang menekan kadar air dalam jagung hingga 17 persen, sehingga harga jual bisa naik.

Harga jagung pipilan kering dengan kadar air 17 persen bisa mencapai 3.500/kg. Sementara harga jagung kering panen saat ini hanya Rp2.200 hingga Rp2.500/kg.

“Kami juga berupaya mengalokasikan anggaran melalui APBD Perubahan untuk penambahan bantuan pupuk,” katanya.

Manager Social Responsibility PTNNT, Syarafuddin Jarot, mengakui jumlah produksi per hektar untuk tahun ini di wilayah lingkar tambang memang lebih rendah dibanding tahun 2015.

Hal itu disebabkan terjadinya gagal panen akibat el nino yang melanda wilayah Kabupaten Sumbawa Barat, sehingga hujan terlambat turun.

Kondisi cuaca yang tidak menentu itu menyebabkan petani yang menanam lebih awal mengalami gagal panen karena tanaman jagungnya kekurangan air.

“Sebagian besar diantaranya bahkan terpaksa menanam ulang. Yang menanam ulang itu yang sekarang sedang dipanen,” ujarnya.

Selain melaksanakan pendampingan teknis kepada petani, kata Jarot, perusahaannya juga berkomitmen dalam membantu penyediaan sarana produksi berupa alat pengolahan lahan, obat-obatan dan pupuk.

Bahkan dalam kegiatan panen raya yang dilaksanakan di Dusun Balas, Desa Pasir Putih, Kecamatan Maluk, pada Rabu (13/4), PTNNT berjanji akan mengupayakan pengadaan sumur bor tenaga surya sebagai solusi untuk menjawab persoalan air yang selama ini sering dialami petani.

“Perusahaan berkomitmen dalam melaksanakan pemberdayaan masyarakat termasuk dengan mensinergikan program Upsus Pajale dari pemerintah pusat dengan program pemberdayaan yang selama ini dilaksanakan PTNNT,” kata Jarot. (ant)

Tinggalkan Balasan