Lima Jurnalis NTB Raih Beasiswa Peliputan Perburuhan

WORKSHOP Para peserta Workshop Jurnalis tentang Isu Perburuhan dan Buruh Migran AJI Mataram berpose usai acara di Mataram, Minggu (10/4)
WORKSHOP Para peserta Workshop Jurnalis tentang Isu Perburuhan dan Buruh Migran AJI Mataram berpose usai acara di Mataram, Minggu (10/4)

kicknews.today Mataram - Lima wartawan NTB berhasil meraih beasiswa peliputan dalam Workshop Jurnalis tentang Isu Perburuhan dan Buruh Migran di Hotel Grand Legi Mataram, Minggu (10/4). Mereka adalah Rodia Rizki Pratama dari Berita Satu TV, Wawan Hermansyah dari Lombok Post FM, Sirtupillaili dari harian Lombok Post, Karnia Septia dari Kompas.com, dan Rony Fernandes dari Suara NTB.

Lima jurnalis ini diseleksi dari 20 peserta yang mengajukan rencana liputan seputar perburuhan. Mereka berasal dari wartawan media cetak, radio, televisi dan media online. Beragam topik diajukan dalam workshop ini, antara lain lemahnya perlindungan terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI), isu-isu kekerasan buruh migran, TKI yang hilang tanpa kabar, hingga buruh migran yang sukses membangun usaha dari hasil kerja di luar negeri.

Selain isu buruh migran, terungkap juga praktik perburuhan di dalam negeri yang tidak kalah mengerikan, seperti tidak adanya jaminan sosial untuk karyawan swasta, upah di bawah standar minimum, PHK sepihak, hingga diskriminasi buruh perempuan.

Semua topik ini diajukan para jurnalis dan rencananya akan dimuat di media masing-masing. Dalam workshop yang berlangsung dari tanggal 9-10 April 2016 ini, para peserta dibekali dengan berbagai materi mulai dari sistem perlindungan tenaga kerja di luar negeri oleh Kasubdit Penempatan Direktorat Penempatan Luar Negeri Kementerian Ketenagakerjaan RI I Nyoman Darmanta, hukum ketenagakerjaan oleh Dekan Fakultas Hukum Universitas Mataram Prof Dr H Lalu Husni, pembangunan ekonomi buruh migran oleh aktivis Buruh Migran Indonesia (BMI) M Saleh, dan Kepala Layanan Terpadu Satu Pintu (LTSP) TKI NTB Zainal.

Dilanjutkan pada hari kedua dengan materi jurnalistik seperti liputan mendalam dan merancang rencana liputan. Workshop ini sendiri merupakan kerjasama antara Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dengan FNV. Ketua AJI Mataram Fitri Rachmawati mengatakan, isu ketenagakerjaan di Indonesia semakin kompleks, tidak hanya terkait TKI yang bekerja di luar negeri, namun juga tenega kerja di dalam negeri.

Banyak permasalahan yang dialami tenaga kerja di sektor swasta namun selama ini jarang terungkap ke media dibanding isu buruh migran di luar negeri. Fitri Rachmawati mengatakan, semua pihak tidak bisa menutup mata bahwa pembangunan di Kota Mataram semakin pesat, pusat perbelanjaan dan hotel banyak berdiri. Dalam hal ini, terjadi hubungan kerja antara perusahaan dan tenaga kerja, namun selama ini jarang terungkap bagaimana praktik di lapangan, apakah hak-hak pekerja sudah terpenuhi atau tidak.

”jurnalis memiliki peluang yang besar untuk mengngkat masalah ini ke permukaan, agar publik tahu apa yang sebenarnya terjadi dan tentu saja pemerintah kita harus melek dengan realitas yang terjadi. Media perlu memberikan ruang agar isu perburuhan di kota Mataram , dan sejumlah wilayah lain di NTB bisa terangkat, dan menjadi perhatian kita bersama” kata Fitri saat membuka Workshop Jurnalis, Sabtu (9/4).

Ia berharap jurnalis di NTB bisa memanfaatkan peran dan fungsi mereka untuk menjembatani pemenuhan hak-hak pekerja. Tidak hanya sekedar memberitakan, jika perlu wartawan bisa mengambil bagian memberikan tawaran solusi atas persoalan yang mereka hadapi, melalui pemberitaan. Sebelumnya, Kasubdit Penempatan Direktorat Penempatan Luar Negeri Kementerian Ketenagakerjaan RI I Nyoman Darmanta mengatakan, perlindungan terhadap tenaga kerja tidak hanya dilakukan saat mereka sudah berada di luar negeri, namun perlindungan diberikan dari sebelum mereka berangkat. Caranya dengan membekali TKI agar bisa melindungi diri saat berada di negara penempatan, baik dari segi keterampilan maupun pengetahuan.

”Jadi jangan berangkat sebelum siap,” imbuhnya. Bekerja di luar negeri motivasinya jangan hanya karena melihat tetangga sukses, atau lari dari masalah. Menurutnya, banyak TKI bermasalah karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri sendiri.

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat