in

AJI Mataram Kritik Rektor Soal Pengusiran Jurnalis MEDIA UNRAM

Logo AJI Mataram
Logo AJI Mataram
Logo AJI Mataram

kicknews.today Mataram – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mataram mengecam pengusiran dan penyitaan KTM (Kartu tanda Mahasiswa) Jurnalis Kampus dari sekretariat dari sekertariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) MEDIA UNRAM (Universitas Mataram), dilakukan Satuan Pengaman (Satpam), Rabu (6/4) lalu. Kejadian pengusiran itu dipimpin Kabag Kemahasiswaan Unram, Musanif. Terlebih lagi saat itu para jurnalis kampus tengah melaksanakan rapat redaksi .

“Apa yang dilakukan satuan pengaman kampus atau satpam bersama Kabag Kemahasiswaan itu, sama sekali tidak mendidik, Rektor semestinya mengedepankan budaya dialog, bukan cara cara intimidatif ,” kata Fitri Rachmawati (Pikong), Ketua AJI Mataram, Jum’at (8/4).

Menurut Fitri, apa yang dilakukan Rektor sangat kontradiktif dengan pernyataannya di media lokal, yang meminta mahasiswa untuk kritis terhadap pemerintah. Bagaimana mungkin Unram akan menghasilkan lulusan yang kritis apabila di internalnya sendiri termasuk terhadap mahasiswanya, rektor melakukan cara cara intimidatif , membungkam kebebasan berpendapat mahasiswanya, dan bertindak sewenang wenang terhadap mahasiswanya sendiri, lantaran kritis terhadap kebijakan Rektor.

“Ini tidak nyambung, rektor meminta mahasiswanya kritis terhadap pemerintah, namun di sisi lain dia justru membungkam mahasiswanya yang kritis melalui media kampus terhadap kebijakannya, tanpa dialog, mengusir mahasiswa dari tampat mereka berkreatifitas,” katanya. AJI Mataram mengingatkan pada rektor untuk memberikan hak jurnalis kampus Media Unram, bisa kembali beraktivitas di sekertariat mereka di gedung UKM. Apalagi saat pengusiran pihak rektorat juga tidak mampu memberikan penjelasan mengenai Surat keputusan (SK) pembubaran kepengurusan MEDIA UNRAM. Saat itu kabag kemahasiswaan menegaskan bahwa pegurus MEDIA UNRAM yang baru telah dibentuk, sehingga pengurus lama tidak sah, dengan alasan itu pengurus lama diusir dan diintimidasi. “Pengurus baru atau Jurnalis Kampus tandingan , hanya akan menciptakan suasana persaingan tidak sehat antar mahasiswa,” kritiknya.

Melihat dari latar belakang sikap rektor terhadap jurnalis kampus MEDIA UNRAM, mereka dibubarkan dan diminta untuk menyerahkan kepengurusan yang dibentuk Rektor. Karena selama ini MEDIA UNRAM dinilai tidak memberikan berita berita baik tentang kampus, bahkan kerap kali megkritik Rektor.

“Sikap Rektor yang membungkam sikap kritis mahasiswanya, tentu saja bertentangan dengan konstitusi yang berlaku di negeri ini, karena menekan dan menghambat kebebasan berekspresi seseorang , komunitas tertentu dan apalagi ini mahasiswanya sendiri,” kata Fitri. Untuk itu, AJI mendesak agar Rektor Unram, mengembalikan hak jurnalis kampus menempati kembali sekertariat mereka dan beraktivitas tanpa tekanan dan intimidasi dari pengaman kampus dan pihak Rektorat, terutama Kabag Kemahasiswaan.

“Tidak mengadu domba mahasiswa dengan membuat kepengurusan tandingan ala Rektor, karena akan menmbulkan persaingan tidak sehat di lingkungan pendidikan. Meminta Rektor menghargai hak berekspresi mahasiswanya tanpa tekanan dan upaya pembungkaman,” harapnya. Sementara Kabag Kemahasiswaan Munasif dikonfirmasi kicknews.today sore kemarin membantah telah melakukan pengusiran. Yang dilakukannya, hanya mengingatkan kepada kelompok mahasiswa yang mengaku sebagai pengurus Media Unram saat itu untuk menghentikan kegiatannya. “Sama dengan teman teman mahasiswa di UKM Lain, pengurus lama ya tidak bisa berkegiatan lagi, karena harus diganti oleh pengurus yang baru,” kata Munasif.

Patokan pihaknya adalah SK Rektor yang mengangkat kepengurusan baru, sehingga seiring juga dengan haknya untuk menempati sekretariat di kompleks UKM tersebut. “Kalau mereka (pengurus lama) yang menempati kan ndak baik. Pengurus lama harus keluar, diganti oleh pengurus baru,” tegasnya.

Sebaliknya, jika memang pengurus lama itu ingin bergabung atau berkegiatan, maka menurut dia harus berbaur dengan pengurus yang baru. “Kalau masih mau mengurus UKM media, gabunglah dengan pengurus yang baru. Ini yang harus disadari oleh adik adik itu,” harap dia.

Soal dorongan agar mengedepankan dialog, menurut dia sudah berulangkali dilakukan, tapi tetap saja pengurus lama bertahan di sekretariat tersebut. Sehingga upaya dengan mengeluarkan pada insiden Rabu lalu itu terpaksa dilakukan. “Karena itu tadi, ruangan itu harus dipakai pengurus baru,” tukasnya. (*)

Tinggalkan Balasan