in

Mahasiswa Nekad Bakar Keranda Mayat di Depan Kejati NTB

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

kicknews.today Mataram – Aksi cukup nekad dilakukan sejumlah mahasiswa yang mengatasnamakan diri Persatuan Gerakan Mahasiswa Dompu (PGMD). Dalam aksi mereka, Kamis (7/4), mahasiswa membakar keranda mayat di depan gerbang Kejaksaan Tinggi NTB Jalan Langko, Kota Mataram. Ada apa?

Menurut mahasiswa, Kejati NTB dianggap sudah mati, karena dalam penanganan kasus dugaan korupsi pada kegiatan Tambora Menyapa Dunia (TMD) belum juga menetapkan tersangka. Untuk itulah, dalam aksinya mereka menyertakan keranda mayat sbagai simbol matinya proses hukum di Kejaksaan dalam kasus itu.

“Kejaksaan sudah mati. Untuk mengusut kasus korupsi di Dompu saja lamban,” tuding Jujur Prakoso, koordinator lapangan aksi yang dimulai sekitar Pukul 11.00 Wita itu. Jujur Prakoso menilai Kejaksaan tidak transparan dalam penanganan kegiatan TMD yang sudah menghabiskan anggaran Rp 4,9 Miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Dompu. Karena dokumen laporan itu sesungguhnya sudah diserahkan ke Kejati NTB, tapi dipertanyakan mengapa kemudian diserahkan ke Kejati NTB.

“Apa kejati NTB ini sudah tumpul? Kenapa diserahkan ke Kejari Dompu. Kami ragu dengan Kejari Dompu,” protesnya.

Kegiatan TMD disebutnya sudah berlangsung satu tahun, April 2015 lalu dan penyelidikannya pun juga hampir memakan waktu yang sama. Tapi dia melihat tidak ada perkembangan baru. Tidak cukup sampai memandu keranda mayat, mahasiswa nekad membakar di depan gerbang kejaksaan. Puluhan peserta aksi membuat lingkaran pagar betis untuk menghalau aparat yang hendak menghalangi aksi mereka. Keranda pun dibakar. Tapi polisi tidak tinggal diam. Api diinjak injak dengan sepatu hingga padam. Namun mahasiswa masih ngeyel, aksi bakar keranda kembali dilakukan.

“Awas, kalau sampai terjadi apa apa, kamu tanggungjawab,” tunjuk seorang polisi berpankat Iptu. “Iya, saya tanggungjawab,” timpal orator.

Nyaris terjadi kericuhan, namun akhirnya masing masing pihak menahan diri. Mahasiswa pun hanya menggelar aksi doa bersama melingkari keranda mayat. Mendoakan agar ‘kematian’ Kejaksaan tidak berlanjut, sehingga penegakan hukum bisa berlanjut lagi.

Bukannya tidak ditemui perwakilan Kejaksaan. Sebenarnya Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati NTB, I Made Sutapa, SH sebenarnya sudah berusaha ingin menjawab tuntutan mahasiswa, namun kehadiran Sutapa ditolak karena Demonstran hanya mau kehadiran Kajati NTB Martono, SH, MH. (*)