Dengan 200 Ribu, Kunci Jawaban Diantar Ke Pemesan

Sahabudin Asisten Bidang Laporan Ombudsman RI Perwakilan NTB menunjukkan bukti temuan kunci jawban UN.
Sahabudin Asisten Bidang Laporan Ombudsman RI Perwakilan NTB menunjukkan bukti temuan kunci jawban UN.

kicknews.today Mataram – Berbeda dengan modus tahun sebelumnya, ditahun 2016 ini modus peredaran kunci jawaban unjian nasional terkesan lebih rapi dan berhati-hati. Sasaran peredaranya pun sudah tidak hanya kepada siswa di perkotaan saja. Namun terkesan lebih menyasar murid di pinggiran kota dan pedesaan.

Temuan Ombudsman RI Perwakilan NTB membuktikan modus peredaran kunci jawaban ujian nasional tahun 2016 ini, dipersiapkan lebih matang dari sebelumnya. Selasa dini hari (5/4) sekita pukul 02.15 wita, ombudsman mendapatkan kunci jawaban yang diedarkan kepada satu kelompok siswa siswi di daerah pedesaan di Lombok Barat.

“Kami menerima laporan adanya dugaan peredaraan kunci jawaban soal ujian nasional sejak sabtu tanggal 2 april lalu. Setelah kami lakukan penelusuran, memastikan modus yang digunakan. Akhirnya selasa dini hari tadi (5/4), dugaan jual beli kunci itu kami temukan buktinya” Ungap Sahabudin Asisten Bidang Laporan Ombudsman RI Perwakilan Nusa Tenggara Barat, sembari menunjukan bukti kunci jawaban yang didapatkannya.

Mirisnya untuk mendapatkan kunci jawaban ini, siswa hanya harus mengumpulkan uang masing-masing anak senilai 200 ribu saja. Setelah terkumpul sejumlah uang dari beberapa anak, kunci jawaban akan diantarkan langsung oleh kurir ke lokasi tempat mereka berkumpul. Kunci jawaban akan diantar antara pukul 02.00 hingga 03.00 dini hari.

Menurut pemantauan pihak Obudsman, para orang tua siswa pemesan kunci jawaban ini, diduga tidak mengetahui apa yang dilakukan anak-anaknya. Mereka sebelumnya mengaku hanya akan belajar bersama di salah satu rumah siswa anggota kelompok mereka.

“sepertinya orang tua mereka tidak tahu apa yang dilakukan oleh anaknya. Karena nilai uang yang harus dikumpulkan relatif tidak terlalu besar dan mereka saweran sama-sama 200 untuk memesan kunci jawaban itu” Papar Sahabudin.

Pihak Ombudsman tidak menjelaskan secara rinci identitas para siswa dan lokasi ditemukanya transaksi kunci jawaban ini. Namun sahabudin menekankan kondisi ini akan sangat berdampak negative pada mental murid, terlepas benar tidaknya isi kunci jawaban yang dipesannya tersebut.*

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat