Miris…Ratusan Ribu Hektar Hutan NTB Rusak

Ilustrasi
Ilustrasi

kicknews.today Mataram – Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat Andi Pramaria menyatakan tingkat kerusakan hutan di daerah itu sudah parah hingga mencapai 230 ribu hektare.

“Yang rusak ini paling banyak berada di Pulau Sumbawa,” kata Andi Pramaria di Mataram, Senin (4/4).

Diakui Andi, tingginya kerusakan hutan di NTB itu, lebih banyak disebabkan ulah perambahan hutan yang dilakukan oknum masyarakat untuk dijadikan lahan perkebunan, terutama tanaman jagung.

Selain untuk memperluas lahan perkebunan, kerusakan hutan itu diperparah ulah pelaku ilegal logging yang ingin mengambil keuntungan dengan mencuri kayu. Bahkan, Andi tidak memungkiri aksi tersebut dibekingi sejumlah oknum polisi hutan (polhut).

“Tahun ini ada empat petugas polhut yang kita amankan karena ikut merambah hutan, bahkan dua sudah ditahan,” katanya.

Menurut dia, untuk mengamankan hutan se-NTB pihaknya hanya memiliki anggaran setahun sebesar Rp600 juta, sedangkan luas kawasan hutan yang harus dijaga mencapai 1.071.000 hektare.

Hal ini, kata dia, jelas tidak berimbang dengan kondisi hutan yang cukup luas. Jumlah personel polisi hutan relatif kurang, meski ada upaya reboisasi yang luasnya mencapai 1.900 hektare setahun.

“Idealnya satu orang polhut menjaga 1.000 hektare, sedangkan jumlah polhut kita se-NTB hanya 250 orang. Jelas tidak mungkin untuk menjaga seluruh kawasan hutan yang ada,” jelas Andi.

Karena itu, dalam rangka menjaga kawasan hutan dan menutupi kekurangan personel polhut tersebut, pihaknya telah menjalin kerja sama dengan TNI untuk membantu tugas-tugas polhut melindungi kawasan hutan di NTB dari penjarahan pelaku perambahan hutan dan pelaku “illegal logging”.

Andi mengatakan meski kondisi hutan di NTB sudah sangat parah, pihaknya berharap dengan keterlibatan TNI membantu pengawasan dan pengamanan hutan, aksi perambahan hutan bisa diminimalkan.

“Itu harapan kita agar aksi illegal logging bisa kita cegah. Karena kecepatan perambahan hutan dan illegal logging ini sangat cepat,” katanya.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) NTB menyebutkan kerusakan hutan di provinsi itu sudah mencapai 78 persen, dan jika itu terus terjadi diprediksi dalam waktu 10 tahun lagi daerah itu tidak lagi memiliki hutan.

“Laju kerusakan hutan di NTB ini berada di level 1,4 persen atau minimal rusak 60 hektare per tahun. Bahkan, kami prediksi dalam kurun waktu 10 tahun lagi hutan di NTB sudah habis,” kata Direktur Eksekutif Walhi NTB Muhammad Murdani.

Kata dia, saat ini luasan hutan di NTB sudah mencapai 1,67 juta hektare dengan tutupan lahan sebesar 22 persen atau setara dengan 400 ribu hektare. Sedangkan total kerusakan hutan 22 persen berada di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dan sisanya di luar kawasan sebesar 40 persen.

“Hutan lindung yang tersisa di luar taman nasional hanya sedikit, karena selebihnya sudah rusak atau berubah fungsi menjadi lahan-lahan perkebunan milik masyarakat,” katanya.

Untuk itu, dia mendorong agar Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Kehutanan untuk segera melakukan upaya penyelamatan. Karena jika tidak segera ditanggulangi, maka prediksi NTB akan kehilangan hutan dalam kurun waktu 10 tahun ke depan bisa menjadi kenyataan.

“Ada tiga upaya yang harus segera dilakukan pemerintah, yakni segera melakukan perencanaan strategis dalam pengelolaan hutan, libatkan masyarakat secara partisipatif dalam mengawasi hutan, dan memberdayakan masyarakat, khususnya yang berada di lingkar hutan, sehingga bisa menekan laju pembabatan hutan,” katanya. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat