in

Disperindag NTB Siapkan Videotron Di Pasar Tradisional

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

kicknews.today Mataram – Dinas Perindustrian dan Perdagangan Nusa Tenggara Barat menyiapkan videotron sebagai alat mempublikasikan informasi berbagai jenis produk mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan manusia serta ketersediaan dan harga barang di pasar tradisional.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Nusa Tenggara Barat (NTB) Husni Fahri, di Mataram, Kamis, mengatakan upaya menyediakan videotron di pasar tradisional sebagai bagian dari program revitalisasi pasar tradisional dengan menggunakan dana APBD.

“Kami masih melakukan kajian pasar tradisional mana yang cocok untuk dipasangkan videotron. Ada dua pilihan, Pasar tradisional Kebon Roek Ampenan atau pasar tradisional Mandalika,” katanya.

Pasar tradisional Mandalika merupakan pasar induk terbesar di NTB, di mana produk hasil pertanian, kebutuhan pokok dan lainnya yang diperdagangkan berasal dari 10 kabupaten/kota di NTB, serta dari provinsi lain di Indonesia.

Menurut Husni, dengan adanya videotron, masyarakat luas yang berkunjung ke pasar tradisional bisa langsung melihat informasi dan memahami barang dan produk pangan berbahaya, di mana beredarnya dan seperti apa bentuk dan jenisnya.

Disperindag NTB juga sedang mengupayakan bagaimana orang yang ke pasar mendapatkan informasi harga dan ketersediaan barang strategis secara “online”, termasuk melalui videotron.

Alat informasi tersebut juga bisa dimanfaatkan petani, nelayan, pengrajin untuk mengatur penjualan dan melakukan perkiraan agar mudah mendapatkan sarana produksi.

“Upaya memanfaatkan teknologi informasi tersebut dalam rangka melindungi konsumen dan produsen dari sisi harga yang layak, sehingga inflasi bisa dikendalikan,” ucapnya.

Selain mengandalkan dana APBD, kata Husni, Kementerian Perdagangan juga mengalokasikan anggaran melalui dana alokasi khusus (DAK) untuk merevitalisasi pasar tradisional di 10 kabupaten/kota pada 2016.

Revitalisasi pasar tradisional tidak hanya dari sisi fisiknya saja, tapi yang terpenting bagaimana manajemen dan pengelolaannya, sehingga pasar tradisional bisa berasing dengan pasar modern. Artinya pasar tradisional tidak lagi semrawut dan terkesan kumuh.

“Betul-betul harus dilakukan revitalisasi manajemen dan pengelolaan pasar tradisional, sehingga nyaman dan aman dikunjungi, meskipun tidak senyaman seperti di mal, tapi masyarakat mudah mendapatkan apa yang mereka cari di pasar tradisional,” kata Husni.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag NTB Ibnu Fiqhi, menyebutkan 10 kabupaten/kota di NTB, mendapatkan DAK dari Kementerian Perdagangan untuk merevitalisasi pasar tradisional.

Masing-masing daerah mendapatkan dana berbeda, tergantung kondisi pasarnya, namun besarannya mencapai Rp2,5 miliar untuk satu pasar.

DAK tersebut disalurkan ke rekening kas daerah masing-masing kabupaten/kota.

“Pasar tradisional yang direvitalisasi merupakan permohonan kabupaten/kota melalui proposal yang diajukan ke kementerian dengan rekomendasi Pemerintah Provinsi NTB,” kata Fiqhi. (ant)