in

Prestasi Kopi Premium Indonesia Di Mata Dunia

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

kicknews.today Jakarta – Kopi spesial atau dalam bahasa Inggris disebut “specialty coffee” merupakan istilah yang pertama kali digunakan pada 1974 oleh seorang legenda kopi Erna Knutsen dalam “Tea and Coffee Trade Journal”.

Ia memakai istilah kopi spesial untuk menyebut biji dengan rasa terbaik yang dihasilkan di daerah beriklim mikro istimewa, sedangkan Specialty Coffee Association of America (SCAA) mengkategorikan kopi spesial jika bernilai 80 atau lebih pada skala 100 poin.

Kopi spesial atau premium tumbuh di iklim istimewa dan ideal, serta berbeda karena rasanya yang lengkap dan memiliki sedikit kecacatan atau bahkan tidak ada sama sekali. Rasa yang unik ini adalah hasil dari karakteristik dan komposisi tanah tempat kopi-kopi tersebut ditanam.

Keunikan rasa ini juga menjadi keunggulan biji kopi arabika Tanah Air seperti Sumatera Solok Minang, Jawa Malabar, Sulawesi Toraja, Papua Wamena, serta Sumatera Sidikalang.

Jumlah penikmat kopi spesial di Indonesia pun cenderung bertambah dengan semakin banyak bermunculan gerai-gerai kopi yang menawarkan konsep “specialty coffee”, mengajak para pengunjung mencicipi kopi berkualitas dengan proses pemanggangan (roasting) dan penyajian yang tepat.

Bahkan, kenikmatan kopi premium Indonesia telah diakui dunia setelah beberapa waktu lalu perusahaan gerai kopi nasional PT. Tanamera Kopi Indonesia menyabet juara pertama dalam kompetisi “Melbourne International Coffee Expo” (MICE).

“Keberhasilan Tanamera dalam ajang ini telah membantu diakuinya Indonesia sebagai salah satu negara produsen kopi premium terbaik di dunia,” ujar salah satu Direktur Tanamera John Lee dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (29/3) sore.

Kompetisi tahunan yang diadakan oleh “Royal Agricultural Society of Victoria” (RSAV) dan secara khusus menilai kopi berdasarkan kualitas dan konsistensi pemanggangan tersebut diikuti oleh 658 entri dari berbagai negara seperti Australia, Kanada, Hong Kong, Indonesia, Korea, Malaysia, Selandia Baru, Singapura, Inggris, dan Amerika Serikat.

Tanamera sebagai wakil Indonesia berhasil meraih dua trofi terbaik dalam ajang tersebut yakni “Champion International Roaster” dan “Champion Filter Coffee”, selain penghargaan lain seperti satu medali emas, lima medali perak, serta tujuh medali perunggu.

“Dari 20 jenis kopi yang kami bawa, 13 di antaranya memenangi penghargaan. Ini merupakan kemajuan bagi industri kopi Tanah Air,” ucap John.

Tidak hanya di Australia, kopi premium asli Nusantara juga dilirik di Amerika Serikat dimana Indonesia ditetapkan sebagai “Official Portrait Country” dalam pameran kopi berkelas dunia yang diadakan SCAA pada 14-17 April 2016 di Atlanta, Georgia, AS.

Dengan predikat tersebut, Indonesia akan disorot oleh lebih dari 12 ribu pengunjung pameran, sebagai salah satu negara penghasil kopi terbaik dunia.

“Kopi yang akan ditampilkan harus memenuhi standar ‘specialty coffee’ SCAA karena hal ini menyangkut ‘branding’ kopi Indonesia,” tutur Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Nus Nuzulia Ishak.

Menurut International Coffee Organization (ICO), Indonesia menduduki urutan ke-4 sebagai produsen kopi terbesar di dunia pada 2014 dengan perkiraan produksi mencapai 622 ribu metrik ton per tahun.

Kopi arabika Indonesia cukup terkenal di dunia, sehingga menempatkan Indonesia sebagai eksportir kopi spesial arabika terbesar ke-2 di dunia dengan volume mencapai 150 ribu ton ekspor per tahun.

Tantangan “Ya Indonesia memang menjadi penghasil kopi spesial terbesar kedua, namun itu untuk kopi berkualitas rendah,” ujar John Lee.

Pria yang telah delapan tahun berkecimpung di industri kopi itu menilai hanya sedikit kopi spesial Indonesia yang berkualitas bagus.

Fakta itu diperolehnya setelah mempelajari langsung perkebunan kopi di beberapa daerah di Tanah Air dan bertemu dengan para petani lokal.

“Sebenarnya, petani Indonesia mampu memproduksi kopi yang lebih baik, tapi mereka sebagian besar hanya memproduksi kopi dengan pemrosesan cepat hanya untuk memenuhi permintaan pasar. Ini menyebabkan pembeli kopi internasional tidak mudah mendapatkan kopi Indonesia yang berkualitas, sehingga dari segi reputasi kopi Indonesia masih tidak konsisten,” papar John.

Tantangan lain yang juga dihadapi pelaku bisnis kopi spesial yaitu jadwal panen yang tidak menentu disebabkan perubahan musim.

Bagi Tanamera Coffee yang sejak awal berkomitmen menjual kopi spesial asli Indonesia, mundurnya jadwal panen cukup menjadi kendala karena perusahaan tersebut harus membeli stok kopi dari para petani untuk satu tahun ke depan.

“Kopi umumnya hanya dipanen setahun sekali pada bulan Februari sampai Maret, jadi untuk memenuhi permintaan konsumen kami harus langsung membeli puluhan ton ‘green beans’ untuk satu tahun ke depan,” tutur John.

Untuk mempertahankan kualitas kopi yang dipasarkannya, pria asal Korea Selatan yang juga berprofesi sebagai “roaster” atau pemanggang kopi tersebut memilih turun langsung ke kebun-kebun kopi dan bekerja sama dengan para petani.

Sejak dibuka pada 2013, Tanamera Coffee telah menjalin kerja sama penjualan langsung (direct trading) dengan enam petani kopi lokal yang tersebar di daerah Gayo (Aceh), Flores (Nusa Tenggara Timur), Toraja (Sulawesi Selatan), dan Jawa Barat.

Tanamera juga berupaya mengedukasi para petani kopi untuk meningkatkan kualitas produknya melalui metode yang tepat dan bantuan fasilitas produksi serta alat-alat pemrosesan.

“Mendukung dan menjalin kerja sama dengan petani lokal merupakan kunci memperkenalkan kopi terbaik Indonesia di pasar internasional,” imbuh John.

Berkembang Meskipun dari segi konsistensi kualitas biji kopi Indonesia belum bisa mengungguli negara lain seperti Kolombia, Brazil, dan Kenya, namun bisnis kopi spesial di Tanah Air terus berkembang.

Saat memulai usahanya pada 2013, John Lee dan rekannya Dini Aryani Criddle hanya membutuhkan sekitar 200-500 kilogram biji untuk setiap satu varian kopi (single origin) per bulan.

Kini Tanamera Coffee harus membeli tiga ton single origin kopi setiap bulannya, atau meningkat enam kali lipat sejak gerai kopinya dibuka 2,5 tahun lalu.

“Pada saat saya memulai, saya tahu industri ‘specialty coffee’ akan berkembang. Akan jadi tren. Tapi memang harus ada yang mulai menyajikan kopi dengan kualitas dan konsep yang bagus,” ujar Dini.

Salah satu konsep menarik yang ditawarkan Tanamera yakni mengedukasi pengunjung untuk menikmati cita rasa kopi alami, tanpa perlu diberi gula.

Melalui proses penanaman, pengeringan, pemanggangan, serta metode penyajian yang tepat, kopi tidak selalu menawarkan rasa pahit seperti yang lazim dikenal.

Contohnya kopi Malabar yang disajikan dengan metode “natural” atau alami, setelah biji dijemur di bawah sinar matahari selama 28 hari sebelum dipanggang, memiliki rasa yang cenderung asam segar dengan karakteristik rasa buah tropis (fruity taste).

Sedangkan kopi Solok yang diproses dengan metode “honey” atau meninggalkan daging buah pada biji kopi sebelum dijemur, memunculkan rasa manis sekaligus “berbumbu” saat diminum.

Gerai Tanamera juga berusaha mempertahankan kualitas produknya dengan hanya menyajikan biji kopi berusia kurang dari satu bulan setelah pemanggangan.

“Kopi baru digunakan lima atau enam hari setelah ‘roasting’. Biji kopi yang berusia lebih dari satu bulan tidak lagi digunakan karena rasanya akan hambar,” ungkap Dini.

Setelah memiliki dua gerai kopi di kawasan Jakarta Pusat dan Serpong, Banten, Tanamera Coffee berencana membuka dua cabang tambahan di Jakarta pada Juni mendatang, serta satu gerai baru di Inggris pada 2017. (ant)

What do you think?

1000 points
Upvote Downvote

Tinggalkan Balasan