in

WWF : Perlu Dukungan Semua Pihak Selamatkan Badak Sumatera

Badak Sumatera (net)
Badak Sumatera (net)
Badak Sumatera (net)

kicknews.today Bandarlampung – World Wide Fund for Nature (WWF) mengingatkan kembali upaya penyelamatan badak sumatera memerlukan dukungan berbagai pihak mengingat tekanan atas populasi dan ancaman perburuan liar pada habitatnya di hutan Sumatera termasuk Lampung semakin besar.

Progam Manager WWF Indonesia Sumbagsel Job Charles, di Bandarlampung, Rabu, menyebutkan saat ini perkiraan populasi badak sumatera bercula dua (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) dari hasil pertemuan para ahli badak sumatera menunjukkan kian berkurang.

Dia menyebutkan, satwa tergolong sangat langka di dunia dan terancam punah itu, diperkirakan populasinya di kawasan hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang berada di Provinsi Lampung dan Bengkulu (selatan) berkisar 17 hingga 24 ekor.

Sedangkan di hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Kabupaten Lampung Timur yang memiliki pula pusat penyelamatan badak sumatera (Sumatra Rhino Sanctuary/SRS) diperkirakan populasinya tinggal 30 ekor.

Menurutnya, WWF Indonesia bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mendukung penyelamatan badak sumatera itu, terutama dari ancaman kematian akibat perburuan liar dan tekanan habitat di hutan yang makin menyempit.

“Sampai saat ini temuan badak mati atau bangkai badak liar terutama di hutan TNWK dan TNBBS itu tidak ada lagi,” ujar Job.

Akhir tahun lalu, dalam upaya penyelamatan dan penangkaran badak sumatera di hutan TNWK, badak “Harapan” yang lahir di Kebun Binatang Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat pada tahun 2007, setelah melalui perjalanan panjang, telah kembali menghuni rumah asli alaminya di hutan TNWK itu.

“Harapan” yang didatangkan dari Cincinnati Zoo itu, telah tiba di Suaka Rhino Sumatera TNWK, Senin (2 November 2015).

Koordinator Humas Balai TNWK Lampung, Sukatmoko menyatakan, dengan kehadiran Harapan itu di SRS Way Kambas, menyusul kakaknya badak “Andalas” yang sebelumnya telah dipulangkan lebih dulu, kini jumlah badak yang ada di SRS Way Kambas menjadi enam ekor badak dari sebelumnya lima ekor.

Keenam badak itu terdiri dari tiga badak jantan dan tiga badak betina, yaitu Andalas, Harapan, Andatu (jantan), dan Dina, Rosa, dan Ratu (betina).

Badak sumatera merupakan satwa sangat langka dan dilindungi di dunia, di antaranya masih hidup pada habitat aslinya di hutan di Lampung, yaitu TNWK dan TNBBS.

Selama bertahun-tahun, perburuan badak sumatera untuk diambil cula maupun bagian-bagian tubuh lainnya–biasanya dipercaya sebagai bahan obat trandisional–telah berakibat pada semakin berkurang populasi satwa tersebut. Saat ini, kehilangan habitat hutan menjadi ancaman utama bagi kelangsungan hidup badak sumatera yang masih tersisa.

WWF mengingatkan, kerusakan hutan, diiringi dengan berbagai aktivitas yang tidak berkelanjutan oleh manusia telah menyebabkan semakin terdesak populasi badak sumatera menuju kepunahan.

Populasinya yang semakin kecil dan tinggi laju kerusakan hutan yang menyebabkan hutan terfragmentasi dalam kotak-kotak yang terisolir, berakibat dalam beberapa kasus, badak sumatera dilaporkan keluar hutan dan masuk ladang penduduk mencari makanan.

Di TNBBS ancaman utama terhadap habitat badak sumatera adalah perambahan hutan menjadi kebun kopi dan tanaman pertanian lainnnya.

Seiring dengan pembukaan hutan yang begitu cepat dan semakin terbuka akses terhadap lokasi di dalam taman nasional, ancaman serius lainnya pun muncul, yaitu perburuan liar.

WWF Indonesia di TNBBS yang merupakan salah satu dari areal konservasi penting bagi badak sumatera yang tersisa di Sumatera–selain di TNWK, semula diperkirakan sekitar 60–80 ekor badak sumatera masih berada di taman nasional ini, dan merupakan populasi terbesar kedua di dunia.

Bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Balai TNBBS, fokus kegiatan WWF Indonesia di TNBBS mencakup upaya-upaya perlindungan habitat, pengelolaan kawasan, pengembangan masyarakat, advokasi dan kebijakan, serta pendidikan dan penyadartahuan.

WWF bersama mitranya saat ini berupaya merehabilitasi habitat badak sumatera di TNBBS khususnya di beberapa lokasi yang dikonversi secara ilegal untuk pengembangan perkebunan kopi dan beberapa produk pertanian lainnya.

Beberapa pembeli dan pedagang biji kopi internasional saat ini bekerjasama untuk memastikan bahwa hanya kopi yang ditanam secara berkelanjutan yang masuk ke dalam rantai suplai kopi global mereka.

Beberapa di antaranya juga bekerjasama dengan WWF untuk meningkatkan pendapatan petani di areal penyangga taman nasional, dengan cara meningkatkan teknik produksi kopi mereka.

Patroli bersama antara masyarakat dan jagawana setempat dalam menjaga kawasan juga sangat membantu upaya penyadartahuan masyarakat di desa-desa di sekitar taman nasional itu.

Tujuan dari upaya ini adalah supaya kawasan di taman nasional yang telah menjadi kebun kopi dapat direhabilitasi, sehingga dapat berfungsi kembali sebagai hutan habitat badak sumatera.

WWF juga membantu memperkuat upaya-upaya antiperburuan satwa dilindungi di TNBBS.

Tim patroli terlatih dikenal dengan nama Rhino Protection Unit (RPU)–dikelola oleh mitra LSM Yayasan Badak Indonesia dan International Rhino Foundation bersama dengan Balai TNBBS–dengan dukungan dari WWF, secara regular berpatroli di areal-areal kunci di TNBBS dan terbukti efektif menstabilkan populasi badak sumatera dari perburuan.

Sejak tahun 2002, tidak pernah lagi ditemukan kasus perburuan badak Sumatera di TNBBS.

Karena itu, upaya penyelamatan, perlindungan dan pelestarian badak sumatera, baik di TNWK maupun TNBBS ini, menjadi harapan besar dunia bagi pelestarian salah satu spesies penting badak langka di dunia ini.

Apalagi belakangan Ratu, badak sumatera betina penghuni SRS TNWK kini tengah hamil untuk kedua kalinya dan usia kehamilannya menunggu kelahiran beberapa bulan lagi. Seperti halnya kehamilan pertama, kehamilan kedua ini juga merupakan buah perkawinannya dengan badak jantan Andalas.

Dari kehamilan pertamanya pada tanggal 23 Juni 2012, Ratu telah berhasil melahirkan seekor anak badak jantan yang diberi nama Andatu. Kelahiran ini merupakan kelahiran badak sumatra pertama dalam sebuah fasilitas perkembangbiakan di Asia setelah 124 tahun lamanya.

Saat usia Andatu mencapai 2 tahun atau lebih, tepatnya sejak tanggal 6 September 2014, Andatu mulai disapih dari induknya dan ditempatkan pada kandang sendiri. (ant)


What do you think?

1000 points
Upvote Downvote

Tinggalkan Balasan