Perjuangan Berani Si Perempuan Lugu, Utami Suryadarma

kicknews.today – Tidak banyak yang mengenal sosok Utami Suryadarma yang bernama gadis Raden Roro Oetami Ramelan, anak perempuan seorang Ambtenaar atau pegawai pemerintah Hindia Belanda.

Lahir di Sragen, Jawa Tengah, 2 Februari 1917, anak keempat dari lima bersaudara itu tumbuh di tengah keluarga yang setengah feodal. Di satu sisi mereka memegang teguh adat Jawa, di sisi lain keluarga itu memberikan kebebasan bagi dua anak perempuannya untuk menempuh pendidikan walau hanya sampai jenjang Algemeene Middelbare School (AMS) Ooster Letterkundige Afdeling yang setara SMA.

Bapaknya, Raden Ramelan yang beristrikan RA Soemirah, tidak memperbolehkan anak perempuan bersekolah lebih tinggi lagi.

“Ayah berpendapat, perempuan yang berpendidikan tinggi akan menjadi perawan tua. Mengenai hal itu saya bersedia menjadi perawan tua, karena sebagai seseorang yang menganggap diri feminis, saya ingin meraih sesuatu dengan kemampuanku sendiri,” kata Utami.

Utami Ramelan di masa depan berubah menjadi salah satu perempuan yang aktif dalam pergerakan perjuangan kebangsaan. Namanya berubah menjadi Utami Suryadarma setelah dia menikah dengan Soeriadi Suryadarma, Bapak TNI Angkatan Udara sekaligus Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Republik Indonesia yang pertama.

Kegigihannya dalam berjuang dan mengatasi pergolakan, baik yang datang dari dirinya sendiri, keluarga hingga negara kemudian dituangkannya dalam sekumpulan tulisan yang dikumpulkan dan dijadikan buku dengan judul “Saya, Soeriadi dan Tanah Air”.

Buku setebal 288 halaman dan diterbitkan pertama kali pada tahun 2012 ini menyajikan kisah yang tidak biasa bagi pembacanya. Tuturan-tuturan kalimat yang sengaja tidak diubah banyak oleh editor membuat pembaca bisa merasakan gejolak emosional seorang perempuan yang bertransformasi dari gadis lugu penikmat sastra-filsafat menjadi perempuan penentang penjajahan yang berani.

Sejak kecil, Utami dan saudara-saudaranya dibebaskan untuk bersinggungan dengan buku-buku berbagai bahasa. Mereka bersekolah dan bergaul dengan anak-anak Belanda dan anak-anak keturunan bangsawan Jawa.

Di masa itu, kesempatan tersebut langka untuk anak perempuan yang, seperti nasib Kartini di Jepara, Jawa Tengah, tidak diperbolehkan keluar rumah sampai ada lelaki yang datang meminang mereka. Keluarga Utami juga tidak menggunakan bahasa kromo inggil (bahasa Jawa halus) dalam pertuturan, melainkan ngoko (bahasa Jawa sehari-hari yang digunakan dalam pergaulan).

“Keterbukaan” itu membuat Utami kecil mulai memupuk perlawanan atas dominasi kulit putih yang dijumpainya sehari-hari, seperti berbagai diskriminasi atas penduduk Indonesia oleh Belanda di sekolah. “Hidup di AMS (tempatnya bersekolah) menyadarkan saya, demikianlah nasib dijajah Belanda,” kata dia.

Dentuman-dentuman perlawanan batin kemudian membawanya ke sebuah pelampiasan: menulis. Dia dan kakak perempuannya Utari serta beberapa teman perempuan kemudian mendirikan majalah perempuan berbahasa Belanda bernama “Pahesan”, artinya cermin, pada tahun 1937. Umurnya ketika itu baru 20 tahun.

“Walaupun ditulis dalam bahasa Belanda tetapi wataknya nasionalis. Ia mengupas masalah-masalah yang dihadapi kaum perempuan Indonesia pada masa itu,” tulis Utami.

Mereka mendapatkan bahan-bahan tulisan dari Indonesische Vereeniging atau Perhimpunan Indonesia yang ada di Belanda. Karena majalah ini, Utami dan “Mbak”-nya mendapat pengawasan khusus dari polisi rahasia Hindia Belanda atau Politieke Inlichtingen Dienst/PID.

Beberapa kali mereka mendapat ancaman akan ditangkap dari pemerintah kolonial karena tulisan-tulisan dalam Pahesan, meski akhirnya tidak pernah terjadi.

Bertemu Soeriadi Dalam bukunya, Utami bisa mengantarkan dengan baik romansa ketika dirinya bertemu dengan sosok Soeriadi Suryadarma, seorang penerbang dan perwira Tentara Kerajaan Hindia-Belanda (KNIL) yang asli Indonesia, lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, 6 Desember 1912.

Dia menceritakan bagaimana awalnya tidak menyukai Soeriadi karena “seragamnya”, tetapi akhirnya luluh melihat keteguhan sikap, rasa nasionalisme dan semangat pantang menyerah dalam diri Soeriadi yang telah ditinggal orang tuanya sejak kecil.

Setelah beberapa bulan berkenalan, mereka akhirnya memutuskan menikah di Solo pada 3 Juni 1938. Di sini, keluguan Utami muncul, dia takut akan fakta bahwa cinta dalam pernikahan juga berkaitan dengan unsur-unsur fisik.

“Sampai Soeriadi terpaksa mengambil buku kedokteran sebagai perantara untuk memperlihatkan bagaimana bayi dilahirkan. Kalau saya ingat periode itu, saya tersenyum kecil,” kata dia.

Pernikahan Utami dan Soeriadi dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan dua lelaki. Namun perjalanan cinta keluarga kecil mereka tidak semulus yang ada di bayangan.

Soeriadi dan Utami melewati masa penjajahan Belanda, Jepang dan pascakemerdekaan. Saat Hindia Belanda masih berkuasa, Utami selalu was-was keadaan suaminya yang selalu dilibatkan dalam pertempuran dalam rangka Perang Dunia II.

Di pendudukan Jepang, kekhawatirannya berlanjut akan keselamatan suaminya yang berstatus bekas KNIL, karena setelah pergantian kekuasaan, Jepang tidak memberikan ampun kepada tentara Hindia Belanda. Pilihannya hanya dua, dibunuh atau dipenjara dalam “kamp”.

Untungnya Soeriadi bisa selamat dan bahkan bisa bekerja di Kepolisian Jepang. Akan tetapi itu tidak membuat hidup menjadi lebih baik. Di masa Dai Nippon, makanan sangat terbatas dan rakyat termasuk keluarga Soeriadi terbiasa hanya mengonsumsi sayur dan sepotong ikan asin atau teri.

Kehidupan mulai cerah pascaProklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Soeriadi diberikan mandat untuk membangun Angkatan Udara, dibantu sejawatnya seperti Husein Sastranegara, Adisucipto, Halim Perdanakusuma, Adisumarmo Wiryokusumo, Abdulrachman Saleh dan Iswahyudi.

Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara, cikal bakal dari TNI AU, kemudian terbentuk pada 9 April 1946 dengan Komodor Udara Soeriadi Suryadarma sebagai KSAU pertama.

Perempuan Pejuang Salah satu pengalaman paling penting Utami Suryadarma adalah ketika dirinya, dalam kapasitas sebagai Ketua Bidang Penerangan Luar Negeri Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dan tiga tokoh perempuan lain yaitu Herawati Diah, Sunaryo Mangunpuspito dan Sulianti Saroso menghadiri pertemuan internasional “All Indian Women Congress” di Madras, India pada Desember 1947.

Dengan gagah berani, mereka berempat berangkat dengan menumpang pesawat Palang Merah milik India yang baru saja mengirim obat-obatan ke Yogyakarta. Ini dilakukan dengan sangat hati-hati karena di tahun itu Indonesia masih sangat diawasi oleh Belanda.

Adapun di India, mereka sempat melakukan pertemuan bersejarah dengan Mahatma Gandhi.

Selain Kowani, Utami juga pernah berjuang sebagai anggota Laskar Wanita Indonesia (Laswi). Dia juga merupakan pendiri taman kanak-kanak pertama di Indonesia lewat Yayasan Kesejahteraan Anak Purba Wisesa yang dibentuk pada 1 Januari 1953.

Pada tahun 1950, dia ditugaskan Presiden pertama Indonesia Sukarno menjadi anggota Lembaga Sensor film (LSF). Kemudian di tahun 1964, Utami menjabat sebagai Rektor Universitas Res Publica milik Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) yang di masa kini berubah nama menjadi Universitas Trisakti.

Pada tahun yang sama bulan April, dia adalah Ketua Festival Film Asia Afrika III di Jakarta.

Utami Suryadarma juga merupakan Ketua Penyelenggara Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing (KIAPMA) dengan Jakarta sebagai tuan rumah pada 17 Oktober 1965.

Di masa tuanya, Utami aktif menulis dan berdiskusi dengan pegiat veteran hingga anak-anak muda hingga menghembuskan nafas terakhir pada 16 Januari 1996.

Perjuangan panjang Utami Suryadarma yang ada dalam “Saya, Soeriadi dan Tanah Air” secara langsung memberikan sudut pandang sejarah baru bagi pembaca, khususnya masyarakat Indonesia. Buku ini ditulis sesuai dengan fakta serta apa yang dirasakan Utami dalam perjuangan, yang membuatnya layak menjadi sumber sejarah sahih baik tentang sosok Utami maupun TNI Angkatan Udara.

Walau begitu, masih terdapat kekurangan dalam buku ini terkait dengan struktur Bahasa Indonesia yang terkadang membingungkan. Contohnya penggunaan kata “kita” alih-alih “kami” untuk menggambarkan cerita yang tidak melibatkan pembaca. Akan tetapi ini tidak terlalu mengganggu jalannya kisah yang cukup mudah dimengerti.

Salah satu sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer pernah berkata, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Seperti Pram, panggilan Pramoedya, Utami Suryadarma pun telah mengukir namanya dalam prasasti abadi. Melalui “Saya, Soeriadi dan Tanah Air”, Utami akan terus ada dalam benak bangsa Indonesia, bangsa yang sangat dicintainya.

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat