RSUD ‘HM Ruslan’ Kota Mataram Uji Coba Terapi Oksigen Hiperbarik

ilustrasi - Terapi Oksigen Hiperbarik untuk mengatasi penyakit dekompresi atau "decompresion syndrome" (net)
ilustrasi – Terapi Oksigen Hiperbarik untuk mengatasi penyakit dekompresi atau “decompresion syndrome” (net)

kicknews.today Mataram – Rumah Sakit Umum Daerah ‘HM Ruslan’ Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, telah melakukan uji coba pelayanan terapi oksigen hiperbarik untuk mengatasi penyakit dekompresi atau “decompresion syndrome”.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) ‘HM Ruslan’ Kota Mataram H Lalu Herman Mahaputra di Mataram, Jumat (13/2), mengatakan, uji coba terhadap berbagai peralatan untuk terapi oksigen hiperbarik yang sudah dimulai sekitar dua minggu lalu dan direncanakan siap beroperasional secara penuh satu bulan ke depan.

“Jika tidak ada halangan, pada minggu ke dua bulan Maret pelayanan sudah bisa kita mulai,” katanya.

Dalam tahap uji coba ini, pihaknya juga melakukan sosialisasi dengan mengundang kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait, perwakilan anggota DPRD dan pada “club diving” yang ada di daerah ini.

Terapi oksigen hiperbarik selain untuk penyelam, katanya, juga untuk terapi pengobatan diabetes mellitus, dan untuk kecantikan.

Dia mengatakan, terapi oksigen hiperbarik merupakan satu bentuk terapi dengan cara memberikan 100 persen oksigen kepada pasien dalam satu ruangan yang memiliki tekanan lebih dari udara atmosfir normal.

“Pelayanan terapi oksigen hiperbarik ini akan menjadi fasilitas satu-satunya di daerah ini yang melayani secara umum,” sebutnya.

Menurut Direktur RSUD ‘HM Ruslan’ Kota Mataram yang biasa disapa dr Jack ini mengatakan, pembukaan pelayanan terapi oksigen hiperbarik merupakan salah satu bentuk persiapan RSUD ‘HM Ruslan’ Kota Mataram menjadi “hospital tourism” untuk melayani pasien dari kalangan wisatawan dalam dan luar negeri.

Keberadaan “hospital tourism”, katanya, dinilai penting karena wisatawan yang datang ke daerah ini sebagian besar menyukai wisata laut dan melakukan olah raga menyelam.

Dengan demikian, lanjutnya, sebagai ibu kota provinsi harus siap, dan sudah saatnya ada fasilitas perawatan untuk memulihkan kondisi para wisatawan setelah menyelam di bawah laut. Tekanan udara bawah laut berbeda dengan tekanan udara di darat.

“Pasien akan kita layani dalam ruangan yang disebut ‘chamber hyperbaric’ untuk menormalkan kondisi para penyelam yang bermasalah,” katanya.

Ia mengatakan, kebutuhan ruangan “chamber hyperbaric” itu dilatarbelakangi karena sudah ada kasus yang ditangani beberapa tahun lalu, namun karena penanganan terlambat menyebabkan pasien tersebut meninggal. (ant)


Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat