Pangeran Arab Saudi Selundupkan 2 Ton Narkoba Ditangkap

Pangeran Abdul al-Muhsin bin Walid bin Abdul al-Aziz Al Saud

kicknews.today – Pangeran Abdul al-Muhsin bin Walid bin Abdul al-Aziz Al Saud, sosok darah biru kerajaan Arab Saudi ini ditangkap aparat bea cukai Bandar Udara Internasional Rafik Hariri di Ibu Kota Beirut, Libanon, Senin (26/10).

Pangeran Saudi ini ditangkap bersama empat warga negara Saudi lainnya setelah terbukti berupaya menyelundupkan 2 ton narkoba. Barang haram itu dikemas dalam 40 koper yang memanfaatkan jalur hijau pengguna pesawat pribadi.

“Jenis narkoba yang hendak diselundupkan rombongan menggunakan pesawat pribadi ini adalah pil captagon dan sejumlah kokain,” kata sumber dari tim pengamanan bandara, kepada Stasiun Televisi Aljazeera.

Diduga kuat, Pangeran Muhsin memperoleh barang haram itu dari beberapa kota di Libanon dan perbatasan Suriah. Narkoba-narkoba tersebut akan dipasok ke kota-kota besar Timur Tengah. Tidak dijelaskan bagaimana petugas pabean bisa mengendus barang haram itu dalam kargo pesawat sang pangeran.

Belum ada keterangan dari Kedutaan Arab Saudi hingga berita ini dilansir, terkait adanya bantuan hukum untuk sang pangeran. Muhsin adalah sepupu dari pewaris tahta Negeri Petro Dollar itu.

Ancaman hukuman untuk Muhsin dan empat anteknya cukup besar. Bea Cukai Libanon mengatakan dari segi kuantitas, penyelundupan ini terbesar sepanjang sejarah dari Bandara Rafik Hariri.

Badan Narkoba dan Kejahatan PBB mencatat pasokan narkotika dari kawasan konflik Timur Tengah meningkat saban tahun. Pada 2014 saja, peredaran 55 persen amphetamine dunia berasal dari Saudi, Suriah, dan Yordania.

Bukan kali ini saja pangeran Saudi tersangkut kasus penyelundupan narkoba. Pangeran Pangeran Nayif bin Fawwaz al-Shalaan, kemenakan mendiang Raja Abdullah, pernah tersangkut pelanggaran hukum berat pada 2004.

Dengan status diplomatiknya, sang pangeran menyelundupkan dua ton kokain menggunakan Boeing 727 milik keluarga kerajaan. Barang selundupkan itu diterbangkan dari Kolombia ke sebuah bandar udara di luar Ibu Kota paris, Prancis, seperti dilansir stasiun televisi ABC News, Oktober 2004. Sampai sekarang sang pangeran adalah buronan Amerika Serikat.>

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat