Menkominfo Kunjungi Nelayan Kota Mataram

Menkominfo Rudiantara (kiri) didampingi Wakil Direktur Utama XL Dian Siswarini (kanan) (net)
Menkominfo Rudiantara (kiri) didampingi Wakil Direktur Utama XL Dian Siswarini (kanan) bersama nelayan memperkenalkan aplikasi MFish (net)

kicknews.today Mataram – Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengunjungi kampung nelayan Pondok Perasi, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (6/2), untuk berdialog dengan para nelayan.

Rudiantara mengajak para nelayan berdialog mengenai kelangsungan program pengembangan aplikasi ponsel khusus nelayan. Pondok Perasi menjadi ‘pilot project’ dari program itu.

Aplikasi ponsel mFish untuk nelayan tersebut diinisiasi oleh Badan Bantuan Pembangunan Internasional Amerika (USAID), perusahaan telekomunikasi XL, dan sejumlah NGO pada Maret 2015 lalu untuk 65 nelayan.

MFish menyediakan informasi mengenai kondisi cuaca, lokasi plankton, dan penghitungan harga ikan kepada nelayan guna menunjang keamanan dan produktivitas ketika melaut.

Bahrim, salah satu nelayan di Pondok Perasi, mengaku aplikasi tersebut membantunya dalam melaut, terutama untuk memprakirakan cuaca.

“Sebelum berangkat (melaut) lihat dulu apakah mau hujan. Dulu adu mental, turun hujan atau tidak hujan tetap melaut,” kata Bahrim, yang pernah diundang oleh Presiden Joko Widodo pada Agustus 2015 untuk mempresentasikan aplikasi tersebut.

Sementara itu, Muhammad Mansyur, justru mengatakan kepada Menkominfo Rudiantara bahwa aplikasi tersebut masih perlu perbaikan di beberapa aspek.

Dia menggarisbawahi mengenai informasi lokasi plankton yang dalam beberapa bulan terakhir sering meleset akurasinya.

“Padahal kalau tepat, plankton bisa kami kejar, dan kalau bisa masuk pasti ada di ikannya terutama di pagi hari,” kata dia.

Menurut penuturan operator mFish, penurunan akurasi “plankton locater” akibat berubahnya sumber data rujukan dari “National Oceanic and Atmospheric Administration” (NOAA) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Menkominfo Rudiantara menanggapi keluhan nelayan tersebut dengan berjanji akan melakukan koordinasi dengan KKP soal akurasi data.

“Sumber data rujukannya harus sering diperbaharui dan detail,” kata Rudiantara.

Dia mengungkapkan pula bahwa pihaknya sedang mencari daerah nelayan lain di Indonesia yang lolos kualifikasi untuk program aplikasi tersebut.

“Tidak mudah menemukan lokasi nelayan yang ada cukup banyak nelayannya. Kalau satu desa hanya lima repot juga,” kata dia. (ant)

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Anda mungkin juga berminat